Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 94 : Kamu Jahat!


__ADS_3

''Sayang.. ini serius?'' Fryan langsung menghamburkan pelukannya lagi kepada sang istri. Menciumi kening hingga bibir Dini tanpa mempedulikan ayah dan juga Bagas.


''Kapriii malu ih ada ayah sama Bagas.'' bisik Dini sembari mendorong dada sang suami.


Namun, Fryan tidak mempedulikan itu, ia semakin mengeratkan pelukannya.


Tanpa ia sadari, dipelupuk matanya sudah berembun, begitu juga dengan Dini.


''Kalian ini kenapa?'' timpal ayah yang langsung merebut sesuatu ditangan Fryan.


Ayah mengernyitkan keningnya dan memperhatikan dengan seksama, yang tadinya menatap tegang kini berubah senyum mengembang diwajahnya.


''Alhamdulillah..'' ucap ayah ikut terharu.


Ayah mengusap puncak kepala menantunya itu dengan lembut.


''Dijaga ya kesehatanmu, hati-hati ya kalau mau beraktivitas..'' ujar ayah.


''Iya Yah.'' jawab Dini lalu mengusap airmata.


''Kamu juga Fryan, dijaga istrinya, harus jadi suami siaga.'' imbuh ayah.


''Iya Ayahku..'' jawab Fryan.


Diluar gedung, pak supir yang masih setia menunggu didera rasa kantuk yang sudah tak tertahankan.


Sudah selesai makan dan juga sudah selesai meminum kopi hitam favoritnya, ditambah dengan menghisap rokok yang hampir sebungkus.


''Pak.. maaf nunggu lama.'' tegur Bagas diikuti oleh ayah Wildan di belakang.


''Eh Mas, nggak papa hehe.. gimana? mbak nya nggak papa kan?'' tanya pak supir.


''Baik-baik aja kok Pak, lagi ngidam..'' jawab Bagas yakin.


''Oalaaah pantesan..''

__ADS_1


''Ohya Pak, saya ayahnya Dini, yang tadi naik taksi bapak, jadi karna suaminya sudah datang dan kami membawa mobil sendiri jadi carter nya mohon maaf ya kita cancel.''


''Emm ini sebagai permohonan maaf kami karena sudah membuat bapak menunggu.'' ayah menyerahkan beberapa lembar untuk pak supir.


''Waduh ini kebanyakan loh Pak..'' ujar pak supir hendak mengembalikan kelebihannya.


Namun, dengan sigap ayah menolak kembalian tersebut.


''Tidak apa-apa Pak, untuk belikan oleh-oleh keluarga bapak dirumah, terimakasih banyak karena sudah menolong anak saya.'' ujar ayah.


Pak supir akhirnya menerima dengan rasa bersyukur.


''Kalau gitu saya permisi dulu ya Pak, mau ke dalam lagi..'' pamit ayah.


''Baik Pak, saya juga terimakasih banyak..'' jawabnya.


''Om, saya juga mau jalan dulu ya..'' pamit Bagas saat mereka didepan pintu masuk klinik.


''Ooh iya-iya, terimakasih ya nak Bagas..'' ucap ayah.


Bagas langsung bergegas menuju parkiran mengambil motornya, sedangkan ayah langsung kembali masuk ke dalam.


Setelah mengurus semua administrasi dan mendapatkan penjelasan dari dokter, Dini, Fryan, dan ayah langsung menuju pulang ke rumah.


Ayah masih berperan sebagai pengemudi untuk anak-anaknya.


Karena pagi tadi sempat mual lalu berakhir pingsan, Dini meminta ayah untuk tidak menghidupkan AC karena khawatir terjadi hal serupa.


--


Sudah satu minggu dari pemeriksaan itu, setiap pagi hari Dini selalu mual dan berujung memuntahkan isi perutnya.


Masih sangat muda memang usia kandungannya, saat dibawa ke klinik, kandungan Dini masih berusia tiga minggu.


Sehari setelah pemeriksaan itu, ayah Wahyu dan ibu datang karena diberi kabar oleh ayah Wildan dan menginap dua malam, Nita pun langsung menelepon video karena saking bahagianya mendengar kabar itu.

__ADS_1


''Kaprii, nggak gitu juga.. aku bisa jalan sendiri..'' gerutu Dini karena Fryan terus memapahnya seperti takut sang istri akan terjatuh.


''Sayaaang, udah jangan rewel, nanti kalau kenapa-kenapa gimana? ada anakku loh disitu.'' tunjuk Fryan pada perut sang istri yang masih tipis.


Dini akhirnya mengalah daripada berdebat, karena semenjak mengetahui sang istri tengah hamil, Fryan selalu memperlakukan Dini lebih hati-hati, kemana Dini bergerak, disitu pula ada Fryan yang membuntuti, bahkan saat hendak BAB.


''Eh eh mau ngapain?'' sergap Fryan saat melihat Dini menuju mesin cuci.


''Mau piknik.'' jawab Dini.


''Duduk, diam!'' suruh Fryan.


Dini menarik nafasnya dalam.


''Aku kan mualnya kalau pagi aja, ini udah mau siang, aku nggak papa, aku juga mau gerak loh, nggak enak diem terus..'' gerutu Dini lalu cemberut.


Tiba-tiba airmatanya menetes membasahi pipinya, ntah kenapa hal seperti ini saja membuatnya sedih.


''Loh kok nangis? aku cuma nggak pengen kamu sama anak kita kecapean sayang, aku cuma mau bantuin kamu.. cup cup.. udah nangisnya.''


Fryan langsung memeluk Dini, ia merasa sangat bersalah, tetapi juga nggak mau membuat sang istri kelelahan, apalagi saat melihat sang istri mual-mual setiap pagi.


''Aku yang nyuci..'' rengek Dini.


''Tapi, sayang..''


''Kamu jahat!'' gertak Dini.


''Loh eh, nggak gitu sayang..'' Fryan menahan tangan Dini yang mau pergi.


''Yaudah kita bareng-bareng ya, aku bantuin, bawaan bayi nih..'' ujar Fryan beralasan agar Dini tidak bertindak sendirian.


''Beneran boleh?'' tanya Dini memastikan dengan sumringah.


''Iya sayang..''

__ADS_1


Dini langsung bersorak gembira setelah mendapatkan izin menyuci, Fryan hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya melihat perubahan pada Dini hanya untuk ingin mencuci pakaian sampai terjadi drama terlebih dahulu.


__ADS_2