
Beberapa bulan kemudian
Mama Tia sedang di rundung kegelisahan, dimana ia yang tengah hamil muda harus menghadapi ibunya yang sering sakit-sakitan.
Menantunya yang jauh juga sedang menantikan kelahiran anak pertamanya, siapa lagi jika bukan Anita, putri dari suaminya.
''Ma, aku akan bilang sama mas Wildan buat tinggal disini..'' ujarnya setelah menyuapkan satu sendok bubur.
Mama menelan buburnya dengan sangat pelan.
''Nggak perlu Tia, mama masih kuat, disini kan sudah ada mbak Nina yang jaga mama.'' jawabnya dengan sedikit lemah.
''Tapi Ma..''
''Laki-laki itu pantang ikut perempuan, biasanya gengsi, mama takut Wildan tidak akan nyaman disini, apalagi menunggu Mama yang sudah sakit-sakitan seperti ini.''
''Setidaknya aku mencoba berbicara dulu Ma, kasian mbak Nina juga kalau harus bekerja 24 jam.''
''Ya terserah kamu saja, pesan Mama yang penting jangan memaksa Wildan, jika tidak mau ya sudah nggak papa jangan di paksakan.''
''Iya Ma.''
Mama Tia melanjutkan suapannya dengan telaten. Ingatannya kembali pada beberapa tahun yang lalu saat tidak melihat untuk yang terakhir kalinya saat sang ayah wafat.
Ia yang tinggal di luar kota harus menempuh waktu yang lama, sehingga tidak memungkinkan untuk membuat jenazah di semayamkan terlalu lama hanya untuk menunggu dirinya.
Begitu banyak waktu yang ia sia-siakan, terlalu sibuk dengan aktivitasnya membuatnya jarang bertemu dengan kedua orangtuanya, bahkan di hari terakhir sang ayah.
''Kamu jaga kesehatanmu Tia, kamu lagi hamil muda, dan Kia juga sangat membutuhkanmu..'' ucap oma Ranti.
''Iya Ma, pasti..'' jawab mama Tia seraya memberikan senyum.
''Emm Ma, bagaimana kalau Mama menuruti permintaan mas Wildan untuk tinggal bersama kami?''
Beberapa hari yang lalu, ayah Wildan memang sempat menawarkan agar mama mertua untuk ikut bersamanya.
Tetapi permintaan tersebut di tolak lantaran tak ingin meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan bersama dengan mendiang suaminya.
''Tidak Tia, Mama sudah katakan padamu, Mama tidak akan meninggalkan rumah ini, Mama mau meninggal di rumah ini, seperti papamu.''
__ADS_1
Deg
''Maa.. jangan bicara seperti itu, Mama pasti sehat lagi.''
Keadaan menjadi hening, mama Tia memberikan suapannya tanpa pembicaraan lagi.
Setelah sore hari, ayah Wildan sudah menjemput mama Tia untuk kembali ke rumah.
''Mas..''
''Iya, ada apa?''
''Aku mau bicara.'' ucap mama lirih.
''Bicaralah..''
''Kamu tadi lihat sendiri kan Mas kondisi mama seperti apa.''
''Iya aku lihat, maka dari itu gimana caranya mama mau tinggal bersama kita disini, anak-anak juga tidak ada yang keberatan kok.'' jawab ayah.
Mama menghela nafasnya dan terdiam sesaat.
''Tapi apa sayang?''
''Mama tetap bersikeras untuk tidak meninggalkan rumahnya karena memiliki banyak kenangan di rumah itu, bahkan mama bicara ingin meninggal di rumah itu seperti papa.''
Tidak ada lanjutan lagi, ayah dan mama sama-sama masih sibuk dengan pikirannya masing-masing, mencari solusi untuk yang terbaik.
''Mas..''
Ayah menoleh ke arah mama yang memanggilnya.
''Gimana kalau kita aja yang tinggal di rumah mama? emm atau kalau kamu nggak bisa, aku aja yang tinggal disana, kamu nggak perlu setiap hari, sebisanya aja.''
Ayah langsung terdiam mempertimbangkan usulan sang istri.
''Nanti kita bahas lagi ya, mau mandi dulu.'' ujar ayah yang mendapat anggukan dari mama.
Mama hanya bisa menghela nafas panjang dan berharap ayah bisa membuat keputusan yang terbaik.
__ADS_1
''Yang kuat ya anakku sayang, jangan terbawa dengan pikiran Mama..'' ucap mama lirih sembari mengusap lembut di perutnya yang belum terlalu menonjol.
''Oh iya, Dini sudah hamil apa belum ya? sepertinya masih belum ada kabar.'' gumam mama dalam hati.
Sementara itu, Dini tengah duduk termenung di balkon menatap matahari terbenam.
Ntah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
''Sayang..''
''Iya.''
Kedatangan Fryan membuyarkan lamunan Dini.
''Sudah lama di rumah? kok aku tidak mendengar suara apapun.''
''Sudah, kamu lagi ngelamunin apa hem?''
Fryan mendekati sang istri lalu membelai lembut wajah Dini yang tampak sedih memikirkan sesuatu.
''Aku nggak ngelamun kok, yaudah sebentar aku buatkan minuman.'' Dini beranjak berdiri, namun tangannya langsung di tarik oleh Fryan sehingga ia kembali terduduk di pangkuan sang suami.
''Kalau ada apa-apa bicarakan sayang, jangan di pendam sendiri.'' ujar Fryan.
''A-aku..''
Dini kembali menunduk dan tidak melanjutkan kata-katanya.
''Kamu kenapa sayang?''
Tentu saja Fryan sangat mencemaskan dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Dini.
Fryan meraih dagu Dini agar bisa menghadapnya.
''Katakan ada apa..'' pinta Fryan.
''Aku minta maaf.'' ucap Dini.
Merasa tidak ada kesalahan yang di buat oleh Dini membuat Fryan mengerutkan keningnya dan berfikir keras.
__ADS_1
''Untuk?'' tanya Fryan yang akhirnya pasrah bertanya karena dalam memorinya tidak menemukan kesalahan Dini.