
Di ruang keluarga setelah menikmati makan malam.
''Kalau kamu merasa keberatan dengan permintaan ayah, kita bisa kok cari alasan buat nggak hadir besok, daripada disana tapi nggak nyaman.'' ujar Fryan.
''Nggak, aku mau datang.'' jawab Dini.
''Oh ya, kamu jangan mikir kalau aku ngelarang kamu berteman dengan perempuan, sama sekali nggak gitu.
Kalau hari itu cara bicaranya dan gesture tubuhnya nggak over, aku juga nggak kayak gini.'' ujar Dini.
''Iya aku paham kok sayang, di tambah lagi cerita ayah, iya kan?'' balas Fryan.
''Maaf aku tidak bisa mengontrol ekspresi saat ayah bercerita, tapi, aku beneran nggak marah kok sama ayah.'' ucap Dini menatap sang suami.
Fryan sama sekali tidak marah kepada Dini, justru dengan adanya ini, sang istri menjadi tidak lagi menutupi perasaan yang sesungguhnya.
Fryan tidak perlu lagi menerka-nerka dan berharap tentang balasan cintanya yang teramat dalam.
eaakk🤣
''Sudah nggak papa sayang..''
''Emm, mama kayaknya peka kalau aku kurang nyaman sama cerita ayah.'' ungkap Dini.
''Oh iya kah?''
''Iya, waktu aku pamitan, mama sempet kasih bisikan kalau mama tau aku lagi nggak baik-baik aja.''
''Emm mungkin karna sesama perempuan jadi paham, bisa jadi pernah punya pengalaman yang sama.''
''Mungkin, tapi, aku jadi nggak enak, takut mama marah ke ayah..'' kata Dini lalu menunduk.
Fryan langsung menggeser duduknya agar semakin dekat dengan sang istri lalu menggenggam tangan Dini.
''Mereka sudah jauh lebih berpengalaman daripada kita, nggak mungkin apa-apa langsung marah, sudahlah sayang.. berhenti mendahulukan perasaan yang lain.''
''Iya, nggak kayak aku ya..''
Dini menunduk karena ia menyadari dirinya kini kerap terpancing amarah.
''Iya tuh kamu sukanya marah-marah mulu, mau di c1um aja marah.'' ledek Fryan dengan menahan senyumnya.
''Mana ada?'' protes Dini dengan mengerucutkan bibirnya.
''Berarti sekarang boleh langsung tancap gas tanpa di timpuk dulu?''
''Mboh!'' sungut Dini lalu melengos membuat Fryan terkekeh.
''Yaaang..'' goda Fryan dengan menelusupkan kepalanya di leher Dini lalu menc1umi dengan lembut.
__ADS_1
Dini yang merasa geli dengan sentuhan itu reflek bergeser karena bukan lagi rasa risih, tetapi rasa yang tidak bisa dijelaskan.
Namun, Fryan tak berhenti begitu saja untuk menggoda sang istri.
''Sayang..'' goda Fryan lagi.
''JANGAN DISINIII....'' reflek seru Dini membungkam bibir Fryan dengan telapak tangannya.
Fryan semakin semangat saat mendengar isi teriakan sang istri dengan sangat jelas, dengan gerakan cepat ia berhasil mengangkat tubuh sang istri. Moment ini kembali mengingatkan beberapa waktu yang lalu.
Karena was-was jatuh Dini reflek melepaskan bungkamannya lalu mengalungkan tangannya di leher Fryan.
Malam ini kembali terjadi pertempuran panas hingga membuat Fryan dan Dini sama-sama berkeringat namun menghasilkan kenikm4tan yang tiada tara bagi pasangan yang sudah menikah.
(Yang belum nikah, plis jaga diri baik-baik ya.. nafsu sebelum ada ikatan halal itu bukan bukti cinta)
Sayangi dirimuuu..
Jaga diri tiap hari..
(Nggak usah pake nada😏)
..
Di kediaman ayah Wildan
Mama dan bu Mina tengah di sibukkan dengan menata menu makan malam yang akan di sajikan untuk tamu.
''Sepertinya sudah.'' jawab bu Mina.
''Sepertinya ada mobil masuk, mungkin mbak Dini.'' ujar bu Mina.
''Oh iya, yaudah saya aja Bu yang bukain pintu.'' jawab mama Tia.
''Baik Bu.''
Sementara itu Fryan turun dari mobil terlebih dahulu lalu membukakan pintu mobil untuk sang istri.
''Bisa buka sendiri Kapri..'' ujar Dini.
''Tapi, makasih karena udah terlanjur.'' imbuhnya.
''Yahhh.. cup''
''Kapriii.. nanti ada yang lihat, malu..'' protes Dini karena Fryan nyelonong menc1um bibirnya.
''Ehmm..''
Mama Tia yang baru saja keluar rumah untuk memastikan siapa yang datang ternyata langsung di suguhkan oleh adegan romantis sepasang anak muda, yang tak lain adalah putra sambung dan juga anak menantunya.
__ADS_1
Mendengar deheman yang tidak jauh dari keberadaannya, Fryan dan Dini langsung terkejut dan tersipu malu karena aksinya kepergok.
''Hehe Mama..'' kata Fryan dan Dini bersamaan sambil cengengesan.
Dini langsung berjalan cepat menghampiri mama mertua.
''Assalamu'alaikum Ma..'' ucap Dini berjabat tangan dan di ikuti oleh Fryan.
''Wa'alaikumussalam, kenapa malah mesra-mesraan disini? bukannya buru-buru masuk..'' protes mama.
''Kapri nih Ma.. eh Fryan maksudnya.''
''Gemes Ma.'' timpal Fryan.
Mama hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak-anak.
''Wahh ternyata sudah datang putra kecilku..'' timpal ayah yang baru bergabung.
''Ayaaahh..'' pekik Fryan.
''Ayo masuk, mungkin sebentar lagi Salma juga akan datang.'' ajak ayah.
Dini menghentikan langkahnya, kenapa lagi-lagi hatinya sakit mendengar ayah menyebut nama perempuan itu lagi.
''Dini..'' panggil ayah.
''Hah iya Yah..''
''Ayo masuk jangan bengong..''
''I-iya ayah.''
Kenapa disaat Dini sudah bisa menyimpulkan perasaannya dan bahkan sudah mengungkapkan ke Fryan.
Kenapa harus di suguhkan dengan hal semacam ini.
Apakah ini yang di namakan ujian dari sebuah pernikahan?
Apa maksud ayah?
Dini terus melangkah ke dalam dan langsung menuju dapur. Sedangkan Fryan mengobrol dengan ayah Wildan sekaligus menunggu kedatangan tamu.
''Sayang, kamu baik-baik aja kan sama suamimu?'' tanya mama dengan lirih.
''Alhamdulillah Ma kami baik-baik aja seperti yang mama lihat tadi.'' jawab Dini.
''Syukurlah kalau begitu, mama seneng dengarnya, maafkan ayahmu ya..'' ucap mama.
Dini tersenyum menatap mama Tia.
__ADS_1
''Aku nggak marah sama ayah kok Ma..''