
Di salah satu ruangan rawat inap VIP telah terkumpul dua keluarga dan juga seorang dokter yang di minta untuk menjadi saksi, tak lupa juga bapak penghulu sudah siap dengan tugasnya.
Meskipun acara ini sangatlah sederhana karena dilaksanakan secara mendadak tanpa persiapan panjang, tetapi Nita tidak ingin kehilangan momen sakral untuk adik dan juga sahabatnya. Nita tetap mendandani tipis-tipis sahabatnya dan menyiapkan kamera untuk mengabadikan momen, ia sengaja datang sebelum subuh agar tidak terlambat untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Sejak gadis, Nita memang sudah gemar mempelajari tutorial makeup, begitupun juga dengan Dini yang hampir setiap hari bersamanya.
Tetapi, Dini tidak terlalu suka, ia hanya ingin sekedar bisa.
''Kamu cantik banget sih Fadila Putri Nandini, sahabatku, calon adik iparku..'' puji Nita tak henti-hentinya menatap kagum dengan kecantikan Dini.
''Berkat polesanmu kali Nit yang bikin cantik.'' jawab Dini lalu terkekeh.
''Eiittss bentar lagi kamu jadi adikku loh, panggil Kakak jugalah..'' protes Nita.
''Ishh kayak biasanya ajalah biar nggak canggung..'' tolak Dini.
Di ruangan itu memang memiliki skat, saat ijab qobul berlangsung, Dini tidak langsung di sandingkan.
''Ntah perasaan apa yang aku rasakan sekarang, aku masih bingung, yang jelas aku ingin bertanggungjawab atas apa yang terjadi. Meskipun rasa cinta itu rasanya belum ada, semoga suatu hari nanti bisa tumbuh dengan sendirinya, bismillah..'' ucap Dini dalam hati.
Fryan duduk di kursi roda dengan di dampingi keluarga, tangannya yang masih dipasangkan kain penopang tentu menjadi tidak leluasa untuk berjabat tangan pak penghulu, beruntung pak penghulu memaklumi hal itu.
''Rasanya jantungku mau lepas, padahal ini kan yang ku harapkan selama ini. Jadi gini ya rasanya mau kaw*n, eh nikah dulu.. cepat sehat badankuu..'' ucap Fryan dalam hati.
Fryan menatap pada kedua mata pak penghulu yang sedang menikahkannya.
''Saya terima nikahnya Fadila Putri Nandini binti Wahyu Saputro dengan maskawin tersebut di bayar TUNAI.'' jawab Fryan tegas dengan sekali tarikan nafas.
''Bagaimana para saksi? sah?'' tanya pak penghulu dengan menoleh ke arah para saksi di samping-sampingnya.
__ADS_1
SAAAHHHH
ALHAMDULILLAH
Hanya beberapa orang, tapi suaranya sangat memenuhi ruangan itu karena saking semangatnya.
Semua bernafas lega, akhirnya Afryan Sanjaya sah menjadi seorang suami.
Cieeee suami🤭
Setelah pelafalan ijab qobul selesai, Anita mengantar Dini kepada Fryan dengan menggandeng lengan sahabat yang kini sudah menjadi adik iparnya.
Sementara itu, Fryan menatap kedatangan istrinya yang sedang di gandeng oleh sang kakak.
Sejak di dandani oleh Nita, Fryan sama sekali belum melihat wajah Dini.
''Cakep bener bini gue..'' gumamnya dalam hati.
Fryan berdiri dengan di bantu kakaknya yang duduk di belakangnya. Sebenarnya ia bisa berdiri dan berjalan, hanya saja untuk saat ini masih belum stabil.
Dini menunduk lalu mencium tangan Fryan yang sudah sah menjadi suaminya.
Meskipun pernikahan ini masih sah secara agama terlebih dahulu, tetapi rasanya sangat sakral dan membuat haru, terutama bagi kedua orangtua mereka.
Pak penghulu memanjatkan do'a sebagai penutup untuk menyingkat waktu mengingat pengantinnya hari ini seorang pasien yang sedang berjuang untuk kesembuhan.
''Alhamdulillah kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri. Cepat sembuh mas Fryan, biar bisa bulan madu..'' ujar pak penghulu menggodai.
Dini langsung menunduk malu, jangankan pergi bulan madu, bayangan menjalani hari-harinya menjadi seorang istri saja sudah pusing.
__ADS_1
''Oh tentu Pak, saya semangat untuk sembuh, biar cepat kasih cucu lagi untuk mereka hehe..'' jawab Fryan lalu menatap ayah dan juga mertuanya sambil nyengir.
Gelak tawa langsung memenuhi ruangan itu karena perkataan Fryan.
--
''Ayah sama Ibu tentu tidak menyangka atas pernikahan ini, terjadi sangat mendadak tanpa persiapan, mungkin pak Wildan dan Bu Tia juga sama. Tapi, ya namanya juga takdir, mungkin sudah jalan dari Allah seperti ini.
Ayah cuma pesan sama kalian, terutama Dini, jalani pernikahan ini dengan serius, apapun permasalahan yang ada di rumahtangga harus di selesaikan secara baik-baik, karena tidak ada rumah tangga yang mulus tanpa cobaan, jangan bawa masalah rumah ke orang luar, karena yang tau permasalahannya itu hanya kalian sendiri. Jadikan kisah kakakmu sebagai pelajaran berharga.'' ungkap ayah, tanpa sadar kedua matanya sudah berembun.
Dini memiliki dua orang kakak dan sudah berumah tangga, kini mereka menetap pada salah satu kota di provinsi Kalimantan Timur karena bekerja di perusahaan tambang, hal itu yang membuat mereka tidak bisa hadir. Namun, perjalanan kakak keduanya tidaklah indah.
Jika si sulung sudah harmonis dengan keluarga kecilnya, kakak keduanya pernah mengalami kegagalan dalam berumahtangga, dan kini sudah menikah lagi dengan teman kerja kakak sulungnya, sehingga ikut sang suami disana.
''Iya Yah, Dini akan selalu ingat pesan ayah dan ibu..'' jawab Dini.
''Ayah yakin nak Fryan akan selalu menjaga kamu, ayah paham kok selama ini nak Fryan itu menyimpan rasa ke kak Dininya, walaupun di balut candaan, ayah tetap tau, jadi ayah percaya pernikahan ini dilaksanakan.'' lanjut ayah Wahyu lalu menatap Fryan dengan tersenyum.
''Ah malunya aku..'' kata Fryan lalu tertawa karena selama ini diam-diam kepergok.
''Masih punya malu?'' timpal Nita.
''Nggak sih..'' jawab Fryan sambil menggaruk tengkuknya dengan tangan kiri.
Hahaha
Semua langsung tertawa mendengar jawaban Fryan.
"Kelakuan adek gue nggak berubah.." cibir Nita.
__ADS_1
"NITAA.." seru ayah Wildan.
"Hehe iya Yah maaf, adek akuuhh yang tampan maksimal.." Nita keceplosan menggunakan kata gue di depan sang ayah.