Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 38 : Jangan Mendekat!


__ADS_3

Pak, Pak, tolong cepat buka Pak.. musuh Dito sedang mengejar saya! tadi saya ketinggalan!'' ujar Aldo dengan nafas yang dibuat tereengah-eengah.


--


Seorang laki-laki membawa Dini dengan cara membopong tubuhnya masuk ke dalam sebuah kamar yang sangat luas.


Dini terus berusaha berontak agar lepas, namun tangannya yang di ikat membuatnya sulit.


Laki-laki itu menurunkan tubuh Dini di atas ranjang king size nya. Dini terus bergerak mundur saat tatapan nakal dari laki-laki terus tertuju padanya, ia sudah bisa menebak siapa laki-laki itu meskipun belum membuka topeng.


''Lepaskan aku Dito!'' bentak Dini.


''Oh rupanya kamu masih sangat mengenaliku sayang..'' ucap Dito langsung naik ke atas ranjang dan mendekatkan wajahnya.


Dini langsung melengos tidak peduli.


''Apa kabar Dini?'' tanya Dito dengan mencengkram dagu Dini agar menatap kepadanya, seringai senyuman nakal diwajahnya membuat Dini sangat risih.


''Tidak usah basa basi Dito! apa mau mu hah?'' seru Dini.


Dito baru saja menyalakan AC langsung kembali menaiki ranjangnya.


''Kamu menantangkuu sayang? ah aku hanya mau tubuhmu yang selama ini kamu jaga, apa benar masih terjaga hem?'''


Cuiih


Dini menyemburkan salivanyaa tepat di wajah Dito yang terus mendekatinya.


Dito mengusap sisa semburan itu dengan santai dan kembali menatap Dini.


''Ayolah Dini.. kita mulai semuanya dari awal, aku berjanji akan membahagiakan kamu selamanya, dan soal permasalahan yang dulu, itu karna kamu tidak mau membuktikan cinta yang kamu katakan, aku hanya menjadikan wanita itu sebagai pelarian sesaat aja, aku cuma cintanya sama kamu.


Waktu itu kamu langsung gegabah mengakhiri hubungan kita dan selalu menghindari aku..'' ujar Dito mengingat kisah lamanya dengan wajah menyedihkan.


''Cihh! bukti cinta apa jika keinginanmu adalah merusak masa depan perempuan? jaminan apa yang akan kamu berikan? hanya omong kosong! laki-laki model kamu sudah bertebaran dimana-mana dan berakhir hancurnya seorang wanita..'' seru Dini emosi.


''Aku berjanji akan menikahi kamu sayangku..'' kata Dito lalu meraih dagu Dini yang enggan menatapnya.


''Lepasin aku Dito! silakan pergi mencari manusia yang sefrekuensi denganmu!'' Dini menitikkan air matanya, jujur saja ia takut terjadi hal buruk padanya, tidak ada yang membantunya disini.


''Fryan, tolongin Kakak, ..'' Dini menjerit dalam hati mengingat sang adik.


''Kamu mau ngapain Dito?! jangan macam-macam kamu!! TOLONGG!! TOLONGG!!'' Dini panik saat Dito membuka baju di depannya dengan seringai nakal lalu berjalan mendekatinya.


''Apa? tolong? hahaha.. disini hanya kita berdua sayang, silakan teriak sekencangnya jika perlu..''


Dito kembali mendekatkan wajahnya di telinga Dini seraya berbisik.

__ADS_1


''Aku akan membuatmu puas malam ini, kita nikmati indahnya dunia ini berdua sayang, tak ada yang bisa menganggu.. dan jangan harap anak kecil itu datang menolongmu, karena dia sudah MATI.'' bisik Dito.


''TIDAK!! Fryan pasti datang nolongin aku, lihat aja kamu Dito!!'' bentak Dini.


''Oww sayangku terserah apa katamu, emm sepertinya aku akan melepaskan ikatan di tanganmu terlebih dahulu agar lebih asik.'' Dito melepas ikatan di tangan Dini.


PLAK


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dito.


Dito memegangi pipinya lalu kembali menatap Dini yang sudah beranjak berdiri mendekati pintu.


''Ayok tampar lagi sayang..''


Tatapan nakal itu membuat Dini sangat ketakutan, airmata takut dan benci menjadi satu.


''Lepasin aku Dito.. tolong.'' pinta Dini dengan memohon.


Dito mengangkat paksa tubuh Dini yang terus memberontak untuk ia bawa ke atas ranjang.


''Jangan Dito, aku mohon..'' pinta Dini yang sudah berada dibawah kungkungan Dito.


''Ssttt, jangan banyak bicara sayang.. nikmati saja permainan yang akan ku berikan padamu..''


Dini terus berontak, tetapi tenaga Dito sangatlah kuat.


Dito memajukan wajahnya hendak meraih bibir Dini yang sejak lama ia ingin rasakan.


DUGH


''AWHH'' Dito memekik kesakitan memegangi asetnya.


Dini yang berhasil melakukan aksinya langsung loncat ke arah pintu, namun kesialan pintunya terkunci rapat.


''Mau kabur kemana sayangku? aku sudah nggak tahan sayang, dan kamu harus bertanggungjawab karena hampir merusaknya..'' kata Dito langsung melangkah ke arah Dini.


''Dito pergi! jangan mendekat! PERGIII!!!'' bentak Dini dengan sekuat tenaganya mengeluarkan suara.


Dito tidak bergeming dan semakin mendekat pada Dini, tanpa pikir panjang ia langsung meraih pinggang gadis itu dan melahap bibirnya dengan rakus.


''Hmmmp'' Dini terus memukuli badan Dito, nafasnya terasa sesak dan lemas.


Dito semakin rakus menikmati sesuatu yang sudah lama ia idamkan, bahkan airmata Dini tetap tidak membuatnya merasa iba.


BRAK


BRAK

__ADS_1


Dito langsung menghentikan aktivitasnya saat pintu kamarnya di buka secara paksa oleh seseorang.


Segerombolan pria sudah berada di depan pintu kamar Dito.


''Bang Aldo..'' panggil Dini dengan suara lemas, wajahnya sudah pucat, namun ia tersenyum karena pertolongannya datang.


''Dini..''


''Kurang aja kalian semua! lancang masuk rumah saya tanpa permisi!'' seru Dito.


''Lepaskan adik saya atau anda akan berurusan dengan kepolisian..'' ancam Aldo.


''Cihh!'' Dito tidak peduli dengan ancaman itu, ia langsung melayangkan sebuah pukulan, namun langsung ditangkis oleh Aldo dan memutar tangan itu dibelakang.


Teman-teman Aldo langsung mengambil alih untuk mengurus Dito, sedangkan Aldo langsung bergegas membawa Dini keluar dari rumah itu tanpa mempedulikan teriakan Dito.


''Ayo Dini, cepat..'' Aldo menggandeng tangan Dini dan setengah berlari.


Tiba-tiba tubuh Dini melemas dan sesaat kemudian sudah tak sadarkan diri.


''Din, Dini..bangun Din..''


Dini masih belum terbangun, Aldo tidak mau membuang-buang waktu, ia langsung menggendong Dini agar bisa segera keluar dari rumah itu.


--


Ali membawa Fryan ke rumah sakit yang tidak jauh dari tempat kejadian.


Ia sudah panik karena melihat sang adik belum sadarkan diri, Fryan pingsan saat mereka masih di perjalanan.


Setelah tiba di rumah sakit, Ali langsung meminta bantuan perawat untuk membawa adiknya agar segera di tangani.


''Kuat ya Fryan.. ada kakak disini..'' gumam Ali, di sudut matanya sudah berembun.


''Fryan.. ini Fryan kan?'' seorang perempuan tiba-tiba menghentikan langkah perawat yang tengah mendoron.


''Iya, tolong minggir dulu Mbak.. kami sedang buru-buru..'' sahut Ali.


Para perawat melanjutkan tugasnya, tetapi wanita itu terus membuntuti Ali.


Ali menunggu di depan ruangan, ia sangat panik menunggu hasilnya.


Deringan ponselnya kembali berbunyi, ntah sudah berapa kali namun selalu ia abaikan.


''Nita..'' gumam Ali membaca nama yang tertera dilayar hpnya.


Ia bingung antara menjawab atau membiarkan, panggilan tak terjawab dari sang adik sudah puluhan kali.

__ADS_1


''Pasti Nita khawatir, mungkin Aldo juga tidak menjawab telponnya..'' batin Ali.


__ADS_2