Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 48 : Ibuu, Aku Belum Siap


__ADS_3

Dini membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna saat membuka mata ia tengah di hadapkan dada sang suami.


"AAAAAhep"


Dini langsung menutup mulutnya sendiri setelah menyadari sekarang sedang berada dimana.


Fryan membuka matanya dengan pelan karena mendengar suara teriakan Dini.


''Ada apa sih sayang kok teriak-teriak?'' tanyanya dengan suara serak dan terdengar santai.


''Kamu habis ngapain?!'' tuduh Dini yang sudah berdiri dan menyilangkan tangan di depan dadanya.


Fryan mengulum senyum lalu duduk.


''Duduk sini.'' kata Fryan sambil menepuk kasur.


''Nggak mau!'' tolak Dini.


''Yaudah aku yang nyamperin.'' Fryan langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri.


Dini dengan sigap melangkah mundur menghindari sang suami.


''Hey, kita sudah menikah.. lihat pakaianmu masih utuh, aku nggak ngapa-ngapain sayang, orang semalam kamu sendiri yang meluk tanganku kayak guling.'' ujar Fryan membela diri.


Dini memicingkan matanya.


''Bohong!''


''Dih nggak percayaan amat bini gue, curiga mulu sama laki sendiri.. apa mau di apa-apain sekarang nih.'' goda Fryan langsung merengkuh pinggang sang istri.


''NGGAK MAUU!!!'' tolak Dini sambil memejamkan kedua matanya.


Ingin memukuli tetapi ingat suaminya sedang tidak baik-baik saja.


''Morning kiss''


Fryan memberikan kecup4n pagi di kening istrinya lalu berpindah ke area wajah.


''Fryannn ih geliiii.'' seru Dini.


''Jangan keras-keras sayang ngomongnya, nanti kedengaran ayah sama mama.'' bisik Fryan di telinga sang istri.


''Hmmm tapi masih jam segini mungkin mereka juga lagi olahraga pagi.'' imbuhnya.


''Olahraga? jam segini? subuh aja masih lama.'' protes Dini dengan bibir manyun.


''Haha sayaang.. gemes deh.'' Fryan kembali menc1um bibir istrinya sekilas.


Terbiasa memandangi wajah sang istri sejak beberapa tahun lalu masih tetap membuatnya candu. Rasa itu tetap sama dan tidak berubah. Sekarang semakin dalam rasa itu ketika ia sudah berhasil memiliki gadis bernama Nandini.


''Kita bisa melakukan setiap hari, bahkan lebih dari apa yang biasa kamu tonton di drama Korea, kamu bilang sendiri kan sama ibu kalau kamu bakal menjalani pernikahan ini dengan serius.'' bisik Fryan.


Deru nafas memberikan semburan merinding bagi Dini yang merasakan.


''Ta-tapi aku belum siap.'' jawab Dini gugup.


''Aku tunggu sayang.''

__ADS_1


''Dan tunggu aku sembuh.'' imbuhnya.


''Lepasin ini.'' pinta Dini berusaha mengalihkan pembahasan suaminya.


Fryan melepaskan rengkuhannya dan kembali berjalan ke tepi ranjang dengan langkah yang masih belum seimbang.


Dini semakin merasa bersalah melihat kondisi suaminya, lalu berjalan perlahan menghampiri.


''Tadi ngusir..'' protes Fryan.


''Maafin aku ya.'' ucap Dini lirih, melirik sekilas ke area lengan Fryan.


''Nggak papa, kan hikmahnya kita jadi menikah.'' jawab Fryan sembari mengulum senyumnya.


''Jangan-jangan ini rencana kalian? kalian kerjasama ya?!!'' Dini langsung menuduh.


''Kerjasama? kalian?''


''Maksudnya apa ini?'' tanya Fryan tidak mengerti.


''Ohh ya, ya.. sampai sekarang aku belum tau siapa yang menculik kamu?''


''Halah! nggak usah begaya, kamu pasti sekongkol kan sama dia buat nyulik aku terus biar aku di hantui rasa bersalah?'' tuduh Dini.


Fryan mengernyitkan keningnya memahami kalimat Dini, sepertinya sedang terjadi kesalahpahaman di antara mereka.


''Sayang, coba kamu katakan siapa yang nyulik kamu?'' Fryan menatap mata Dini dengan serius.


''Kenapa kamu nanya? kan kamu sudah tau.'' jawab Dini tidak mau balik menatap.


''Ayok..''


Perlahan Dini memberanikan diri menatap mata sang suami.


''Apa aku sejahat itu?'' tanya Fryan dengan memberikan tatapan lekat kepada istrinya.


''Katakan sekarang siapa pelakunya, demi apapun aku tidak sekongkol untuk melukai diriku sendiri.''


''Lihat ini.'' Fryan menunjukkan lengannya.


''Kalau aku sekongkol sama penculik, untuk apa aku minta kamu buat ngabari bang Aldo, untuk apa?''


''Bukankah katamu menikah itu hal yang sakral? aku memang mencintai kamu sejak dulu, tapi, nggak ada niatan sedikitpun lakuin cara keji supaya kita bersatu.


Sekarang aku suami kamu, jangan ada yang ditutupi, katakan siapa pelakunya..'' ujar Fryan panjang lebar.


''A-aku takut, maaf.'' ucap Dini tak kuasa menahan airmatanya.


''Kamu nggak sendiri sayang, ada aku, aku akan berusaha untuk selalu jagain kamu.'' kata Fryan lalu membawa Dini ke pelukannya.


''Dito.'' ucap Dini di sela-sela tangisannya.


Seketika Fryan melepaskan pelukannya dan menatap sang istri.


''Jadi pria br3ngs3k itu pelakunya?! kamu di apain aja hah sama dia? dia nggak nyakitin kamu kan sayang?'' tanya Fryan emosi.


''Enggak, untung bang Aldo datang lebih cepat sama rombongannya, cuma lemas aja waktu itu, syock, jadi aku pingsan katanya.'' jawab Dini lirih.

__ADS_1


''Aku baru bilang terimakasih dan belum sempat mendengar cerita bang Aldo gimana dia bisa masuk ke rumah itu bawa teman-temannya.'' imbuhnya.


''Terus pingsannya dimana?'' tanya Fryan.


''Katanya pas masih di dalam rumah itu.''


''Terus siapa yang gendong? mau ku patahin itu tangan.'' gerutu Fryan.


''Mau patahin tangan bang Aldo? yakin?'' tanya Dini.


''Hah bang Aldo?''


''Iyalah, siapa lagi.. aneh kamu.''


''Silakan aja kalau berani.'' tantang Dini tiba-tiba tersenyum.


''Hehe nggak berani deh kalau itu, cemburu sih.. enak aja bang Aldo megang kamu, tapi, keadaan genting jadi dimaafkan aja..'' jawab Fryan lalu memeluk Dini.


''Tadi sok nantangin.'' ledek Dini.


''Nggak jadi.. maafin aku ya nggak bisa jagain kamu, kalau nggak ada bang Aldo, kak Ali dan lainnya, tentu keadaan kita sekarang sudah berbeda.'' ujar Fryan serius.


''Iya.''


''Ohya satu lagi!'' Fryan tiba-tiba teringat seseorang.


''Apa?'' tanya Dini.


''Felly! dia tiba-tiba ada disana, jangan-jangan mereka sekongkol, dengan kehadirannya di rumah sakit biar seolah-olah dia yang jagain aku dan biar aku merasa berhutang budi sama dia.'' duga Fryan.


''Bisa jadi juga, pas aku masuk ruangan kamu pertama kali itu, dia memang kayak kaget gitu sih.. apa dia nggak nyangka aku bakal lepas dari si Dito, dan setelah itu dia jadi buru-buru pergi kan?'' tanya Dini.


''Nah.. iya-iya bener banget kamu sayang.. pasti ada yang nggak beres antara mereka berdua. Tapi, apa mereka saling kenal?'' tanya Fryan.


''Nggak tau, dulu waktu masih pacaran sama Dito, aku nggak pernah ketemu sama Felly, nggak taulah pokoknya.'' jawab Dini.


''Malah nostalgia..'' protes Fryan.


''Dih.. siapa juga.'' gerutu Dini lalu cemberut.


''Oke, intinya sekarang kita harus hati-hati, kita sudah menikah, jangan ada yang saling menutupi, kalau ada apa-apa bilang sama aku ya sayang..'' ujar Fryan sambil membenarkan rambut Dini yang menutup mata.


''Iyaaaaaa udah!'' pekik Dini karena Fryan menc1um pipinya sangat lama.


Fryan terkekeh melihat ekspresi kesal sang istri.


''Meskipun cara bersatunya kita seperti ini, kita tetap sah menjadi suami istri. Udahan ya gengsi sama juteknya, kita jalani pernikahan ini normal kayak pasangan lain, melakukan apa yang sewajarnya dilakukan dalam pernikahan.'' ujar Fryan menatap sang istri penuh makna.


''Eh adzan subuh.'' ucap Dini mengalihkan pembahasan lalu beranjak dari duduknya dan berlari ke kamar mandi terlebih dahulu.


Dini langsung mengunci pintu agar Fryan tidak ikut masuk.


''Ibuu, aku belum siap.'' batin Dini menjerit.


"Aku tau kamu hanya masih gengsi, cepat atau lambat kita akan menjadi pasangan normal, berharapnya sih cepet.." gumam Fryan seraya tersenyum.


"Sayang, buka pintunya aku kebelet." seru Fryan dari depan pintu.

__ADS_1


__ADS_2