
Kedatangan Salma dan kedua orang tuanya mendapatkan sambutan hangat dari ayah.
''Woaah tetangga lamaku, akhirnya kita bertemu lagi..'' sambut ayah lalu memeluk papa Salma.
''Om..'' sapa Fryan.
''Ini Fryan, bujangmu?'' tanya pak Rian pada ayah Wildan.
''Iya saya Fryan om, tapi sudah nggak bujang lagi.'' jawab Fryan lalu celingukan mencari keberadaan sang istri yang belum juga muncul.
''Sudah menikah?''
Fryan mengangguk.
''Kecil-kecil cabe rawit anakku.'' timpal ayah lalu terkekeh
''Panjang umur, itu istri dan menantuku.'' tunjuk ayah pada mama Tia dan Dini yang berjalan beriringan.
''Sini sayang..'' panggil ayah.
Mama Tia sengaja menemani menantunya untuk bergabung dengan mereka secara bersama.
Ia memahami jika di hati sang menantu masih belum baik-baik saja.
Mama dan Dini berjabat tangan dengan para tamu.
''Kami turut berdukacita atas meninggalnya istri pertamamu, jujur kita baru dengar, saking tidak pernah kita berkomunikasi.'' ujar pak Rian.
''Iya terimakasih, nggak papa.. kita memang benar-benar putus komunikasi.'' jawab ayah.
''Alhamdulillah sudah di kasih pendamping lagi.'' imbuhnya.
Salma dan kedua orangtuanya melirik ke arah mama Tia sekilas.
''Iya syukurlah, sudah lama?'' tanya bu Lita menatap ke arah mama sekilas.
''Belum, masih baru, sama halnya dengan anak-anak kami, jarak menikah kita tidak lama.''
''Oh ya, nanti kita jadi kelamaan ngobrol, sepertinya sudah siap, nanti obrolannya bisa kita lanjutkan.'' ujar ayah.
''Oh iya iya mari..''
Di meja makan sudah dipersiapkan menu lengkap masakan nusantara ala bu Mina dan mama Tia.
Bu Mina yang awalnya menolak untuk di ajak bergabung di meja makan akhirnya nurut karena terus di paksa.
Ayah Wildan tidak pernah membeda-bedakan kepada siapapun.
Apalagi di hari-hari biasanya jam segini bu Mina sudah berkumpul dengan keluarga di rumah.
Tetapi karena hari ini berbeda, ayah meminta bu Mina untuk menambah waktu tentu dengan perjanjian bonus tambahan.
Dini duduk bersebelahan dengan Fryan, sedangkan posisi Salma tepat di depan Fryan.
Dini bisa melihat dengan jelas, gadis itu kerap mencuri-curi pandang kepada suaminya.
Tentu saja sebagai seorang istri, ia merasa risih dengan kejadian itu.
Namun, Dini tetap berusaha tenang dengan menghela nafasnya untuk terus bersabar dan jangan terpancing emosi.
''Cobain ini sayang, enak banget.''
__ADS_1
''Hah eh.. iya sayang..'' Dini terkejut dengan tangan Fryan yang tiba-tiba menyodorkan suapan.
''Apa aku tidak salah denger barusan di jawab sayang juga?'' batin Fryan.
''Enak kan?'' tanya Fryan.
''Pasti dong..'' jawab Dini dengan menampilkan senyumnya.
Salma menekankan sendoknya di piring, lalu tiba-tiba beranjak berdiri.
''Mau kemana Salma?'' tanya ayah Wildan.
''Mau ke toilet Om, sebelah mana ya?''
Setelah ayah menunjukkan arah, Salma melenggang pergi meninggalkan meja makan yang membuat matanya sakit.
''Kurang ajar! bisa-bisanya mereka mesra-mesraan di depanku.. awas kamu ya!''
Puas mengeluarkan gerutuannya, Salma kembali bergabung dengan ekspresi yang lebih terkontrol.
Setelah selesai menikmati hidangan makan malam, mereka kembali berkumpul ke depan untuk mengobrol.
Tidak lama kemudian, bu Mina keluar dengan membawa minuman.
''Maaf Pak, saya sekalian izin pulang ya.'' ujar bu Mina.
''Ohh iya bu, terimakasih ya..'' jawab ayah.
''Baik Pak.''
Bu Mina dan mama tadi memasak dengan porsi lumayan banyak dan tidak semuanya di hidangkan.
Setelah mengambil pesanan mama Tia, bu Mina langsung berjalan untuk kembali ke rumahnya yang tidak jauh.
''Maaf obrolannya terputus, beliau yang bantu-bantu disini, tapi, tidak nginap karena warga sini aja.'' jelas ayah.
''Oh, iya tidak apa-apa pak Wildan.'' jawab pak Rian.
Di ruang tersebut sudah lengkap semuanya, obrolan di dominasi oleh para bapak.
''Padahal aku dan papanya Salma masih berharap loh perjodohan anak-anak kita berlanjut, sayangnya anakmu sudah nikah duluan..'' ujar bu Lita membuat semua mata tertuju padanya.
''Yang sabar ya sayang..'' imbuhnya mengusap bahu Salma dengan nada yang menyedihkan.
Ayah langsung menatap Dini yang tetap memasang senyum di bibirnya seolah-olah tidak ada yang perlu di permasalahkan.
Namun, apakah ayah bisa menerka perasaan Dini yang sesungguhnya?
Dini terpaksa terus tersenyum karena menahan airmata agar tidak mengalir.
Melihat anak menantunya, Mama langsung memberi lirikan tajam kepada ayah Wildan yang menjadi dalang atas kecanggungan ini.
''Bukan jodohnya Tante..'' sahut Fryan santai.
''Oh itu.. haha iya benar sekali kata Fryan, kalian tidak berjodoh. Fryan di takdirkan menjadi imam untuk makmumnya yang cantik dan selalu membuat anak Ayah ini klepek-klepek.'' jelas ayah.
"Kalau nak Salma belum waktunya, karna kan mau fokus mengejar cita-cita.." sambung ayah.
Mendengar perkataan ayah Wildan membuat Salma ingin menjambak rambut Dini sekarang juga, tetapi ia berusaha tersenyum merespon perkataan ayah.
''Apa ini maksudnya?!'' sungut Salma dalam hati, ia tidak terima.
__ADS_1
''Hah? nggak salah denger?'' batin Dini bertanya-tanya.
''Ah iya benar sekali, putra kami ini sangat mencintai Dini. Bahkan sudah bertahun-tahun menunggu Dini mau menerimanya, sweet sekali..'' puji mama membuat Salma dan mamanya semakin kepanasan.
''Apasih ini ibu tiri ikut nyamber aja kayak petir!'' batin Salma.
''Kok mama tau?'' batin Dini.
''Pengen tau emang pilihan Fryan ini lulusan mana dan kenal dimana sih?'' tanya mamanya Salma memandang Dini dengan seksama dan tatapan yang merendahkan.
Belum sempat yang lain menjawab, ayah sudah membuka suara.
''Kau masih ingat dengan Nita anakku?'' tanya ayah.
''Tentu saja ingat.''
''Nah.. menantuku ini sahabatnya Nita, kemana-mana sering bareng, sering kumpul disini juga, mereka kuliahnya juga bareng sampai sudah mendapatkan gelar S.Ikom, makanya putra kecilku ini diam-diam naksir Dini haha..'' cerita ayah membuat mamanya Salma geram karena ayah Wildan bercerita dengan antusias membanggakan anak menantunya.
''Ayah kenapa sih?'' batin Dini.
''Pasti ada maksud lain nih kemarin ayah kayak gitu..'' ujar Fryan dalam hati.
''Ohh..'' jawab bu Lita.
''Pantesan aku asing dengan muka istrimu, selain dia bukan teman sekolah kita, istrimu ternyata juga berumur lebih tua darimu.'' ujar Salma dengan tatapan menghina.
''Yang penting aku mencintai istriku, begitupun sebaliknya Sal.'' jawab Fryan.
Salma langsung terdiam mendengar jawaban Fryan.
''Kamu tidak menyangka ya kalau aku berumur lebih tua dari kalian, hmmmmm masih kelihatan seusia kalian ya? atau malah kamu mengira aku lebih muda dari kalian? iya sih alhamdulillah dikasih muka awet muda tanpa permak sana sini.''
''Justru awalnya aku mengira umurmu 29 tahun loh, maaf ya dek Salma.
Tapi, kamu cantik kok, seksi beud lagi.'' ucap Dini.
''Kamu menghina anakku?'' tanya bu Lita dengan nada tinggi.
''Tentu tidak Tante, aku hanya mengira dan tak lupa mengatakan maaf.'' jawab Dini santai.
Mendapat skatmat dari Dini, Salma hanya bisa menahan geramnya, begitu juga dengan bu Lita.
''Istriku hebat sekali..'' puji Fryan dalam hati, ia sudah tidak tahan ingin tertawa dan menc1umi wajah sang istri yang menggemaskan itu.
''Sepertinya sudah semakin malam, pak Wildan dan keluarga pasti akan istirahat.
Ayo mam, Salma kita balik.'' ajak pak Rian yang merasa risih dan tidak enak dengan sikap istri dan putri semata wayangnya itu.
''Kami santai kok Pak..'' ujar ayah.
''Terimakasih Pak Wildan atas undangannya, kalau tidak seperti ini kita tidak akan berjumpa.
Maaf kalau kedatangan kami membuat kurang nyaman.'' ujar pak Rian.
''Kami selalu merasa senang jika kedatangan tamu.'' ucap ayah.
''Baiklah, kapan-kapan kita sambung lagi pertemuan ini, lusa kami akan kembali.''
''Siap.. jangan lupa di simpan nomorku tadi.'' ujar ayah.
''Siap Pak..''
__ADS_1