
Dini mengeluarkan bahan-bahan untuk di masak sore ini, Fryan sedang ada kegiatan di luar dan ia tetap tidak mau di ajak dengan alasan yang sama, takut di kira memberi pengawalan kepada suaminya.
Sementara menunggu ikannya tidak beku, Dini mempersiapkan bumbu-bumbunya dan juga sayuran untuk di tumis.
''Pasti Fryan.'' Dini berjalan cepat ke arah meja makan untuk mengambil hpnya yang sedang berdering tanda panggilan masuk.
Tanpa di sadari senyumnya mengembang nama yang ia sebut muncul di layar hpnya melakukan panggilan video.
''Assalamu'alaikum sayang.'' ucap Fryan dengan wajah memenuhi layar hp Dini.
''Wa'alaikumussalam.'' jawab Dini.
''Lagi masak ya?''
''Enggak, masih main kelereng.'' jawab Dini.
''Hahahaha''
Disana Fryan tidak bisa menahan gelak tawanya mendengar jawaban sang istri.
''Jam berapa pulang?'' tanya Dini.
''Udah kangen ya?'' goda Fryan di sambungan video call.
''Hiiihhh, Kalau masih lama kan jadi nggak buru-buru masaknya, baru masih bikin bumbu.'' bantah Dini.
''Ooohhh gitu.. kirain udah kangen.''
''Nggak sampai se jam lagi udah sampai rumah, mau titip apa?'' tanya Fryan.
''Nggak titip apa-apa.''
''Yaudah tunggu aku sampai rumah ya..'' Fryan melambaikan tangannya sambil membuat tanda c1um jauh.
Sedangkan wajah Dini yang merona merah karena malu langsung menutup telpon sebelum mengucap salam.
Sementara itu, Fryan sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumah, ia semakin semangat menjalani hari-harinya.
Sekarang ia sudah menjadi seorang suami, sebuah impian yang menjadi kenyataan karena sudah berhasil menikahi Dini.
''Jangan lupa nanti malam ke rumah ya.'' ujar Fryan pada Bagas, karyawan yang juga temannya dan menjadi salah satu orang yang di beri kepercayaan.
''Siap bos.'' jawab Bagas memberi tanda hormat.
''Sekarang nggak pernah pulang malam lagi ya bos..'' ledek Bagas.
''Iyalah, ngapain pulang malam kalau yang dilihatin lu lagi lu lagi.. lama-lama bisa cinlok.'' jawab Fryan.
''ASTAGHFIRULLAH HAL'ADZIIM.. gini-gini normal kali, enak aje lu..'' seru Bagas.
''Hahaha, gue juga normal kali.. udah ada bini pula, dah duluan ya.'' ujar Fryan sambil tertawa.
''Oke, salam buat kekasihku yang tak sampai..'' ledek Bagas setengah berteriak.
Fryan mengangkat tangannya dengan menunjukkan kepalan membuat Bagas tertawa terbahak-bahak.
..
Tok tok tok
''Assalamu'alaikum..''
''Wa'alaikumussalam..''
Fryan menunggu beberapa saat karena istrinya belum juga membukakan pintu meskipun sudah terdengar jawaban salam.
Ceklek
''Maaf nunggu lama.'' ujar Dini sembari membuka lebar daun pintu.
__ADS_1
Dini mengulurkan tangannya, menyambut kedatangan sang suami.
''Iya nggak papa sayang, belum lama juga.'' jawab Fryan lalu menc1um kening istrinya.
''Yaudah ayok masuk.''
Dini mengangguk, sementara Fryan langsung menutup pintu kembali dan merangkul bahu istrinya sembari jalan ke dalam.
''Huummm harumnya.. masak apa sayang?'' tanya Fryan menghirup aroma wangi hasil kreasi sang istri.
''Kakap asam manis sama tumis sawi.'' jawab Dini.
''Terimakasih ya sayang.'' ucap Fryan membuat Dini tersenyum lalu mengangguk.
''Mandi dulu sana, bau asem.'' sindir Dini.
''Oke.. bau-bau gini istriku suka banget loh, nggak bisa tidur kalau nggak bau suaminya.'' bisik Fryan lalu langsung berjalan ke kamar.
..
Selepas Maghrib, Dini dan Fryan turun ke bawah untuk makan malam.
''Ohya Sayang''
''Hmm''
''Nanti Bagas mau kesini.'' ujar Fryan karena baru teringat.
''Jam berapa?'' tanya Dini.
''Nggak tau, aku nyuruhnya malam aja.''
''Ohh..''
''Kita makannya satu piring barengan terus ya kalau di rumah.'' pinta Fryan.
''Tapikan..'' Dini ragu dan malu.
Akhirnya Dini mengangguk menyetujui usulan suaminya.
Di tengah-tengah sedang menikmati makan malam, tiba-tiba ada suara yang mengetuk pintu depan.
''Hmm pasti si Bagas.. ganggu aja.'' gerutu Fryan.
''Sstt, nggak boleh gitu.'' sahut Dini.
''Hehe maaf sayang.. bentar ya aku bukain pintu dulu.''
''Iya.''
Fryan mencuci tangannya terlebih dahulu karena ia makan tanpa menggunakan sendok dan menyempatkan menc1um kening istrinya sekilas lalu berjalan cepat ke depan.
''Assalamu'alaikum bosku..'' ucap Bagas cengar-cengir di depan pintu.
''Wa'alaikumussalam, apa lu senyum-senyum? ngeri gue.'' ujar Fryan.
''Dih, masa iya mau marah-marah sih bos?? tamunya di suruh masuk dong.. ah nggak baik lu bos.'' protes Bagas langsung nyelonong dari samping Fryan.
''Eiiiittssss..'' Fryan menarik kerah baju belakang Bagas seperti induk kucing menggendong anaknya.
Langkah Bagas langsung terhenti seketika.
''Gue duluan yang jalan ke dalam.'' protes Fryan.
''Penyiksaan lu!'' gerutu Bagas.
''Udah makan belum?'' tanya Fryan.
''Kebetulin..''
__ADS_1
''Kebetulan!'' protes Fryan.
''Haha oh iya kebetulan makannya tadi siang bos, kalau masih ada sisa nasi dan lauk sepiring bolehlah gue makan hehehe..'' ujar Bagas dengan cengengesannya.
''Pantesan lu cepet kesini, kebetulan kita lagi makan, ayok sekalian bareng.'' ajak Fryan lalu melangkah terlebih dahulu menemui istrinya lagi.
''Alhamdulillah rejeki anak sholeh itu memang selalu tidak terduga.'' gumamnya.
Bagas melangkah dengan mengekori Fryan yang berada di depannya.
Dini yang masih menunggu suaminya mencuci tangan terlebih dahulu untuk berjabat tangan dengan Bagas.
''Dini, how are you??'' Bagas mengembangkan senyumnya saat melihat Dini, niatnya memang menjahili Fryan.
''Alhamdulillah baik, kamu apa kabar Gas?'' tanya Dini mengulurkan tangannya, tetapi langsung di cekal oleh Fryan.
''Udah sayang jangan pegang-pegang, bukan mahram. Nih anak mau ikut makan.'' sahut Fryan.
''Oh iya kebetulan kita lagi makan Gas, ayok sekalian ikut, seadanya ya..'' ujar Dini lalu mengambilkan piring dan gelas untuk Bagas.
''Iya-''
''Dia apa aja di makan kok Yang, meja kursi juga mau.'' sahut Fryan memotong jawaban Bagas.
''Rayap kali ah gue!''
''Suamimu emang ngeselin Din, harusnya sama aku aja nikahnya.'' timpal balik Bagas.
''Lebih ngeselin ya Gas..'' ujar Dini lalu terkekeh.
''Ya ampuun.. jujur amat bini orang, jadi pengen nampol lakinya.'' gerutu Bagas lalu mengambil nasi dan lauk.
Fryan langsung melotot mendengar gerutuan Bagas, sedangkan yang di pelototi hanya nyengir sambil menunjukkan dua jari membentuk huruf V.
..
Bagas, Fryan, dan Dini sudah selesai makan. Sementara Bagas dan Fryan ke ruangan keluarga, Dini membereskan meja dan juga piring kotor lalu menyusul suaminya dan juga Bagas.
Dini membawa dua gelas berisikan minuman hangat dan juga satu toples cemilan untuk menemani obrolan mereka.
''Terimakasih Dini..'' ucap Bagas.
''Sama-sama.'' jawab Fryan mendahului istrinya.
''Sini sayang, kita mau bahas buat berangkat ke Lampung.'' ujar Fryan menepuk tempat kosong di sampingnya.
''Oh, iya.'' Dini menuruti.
''Jadi gimana?'' tanya Dini.
''Kita berangkatnya hari Rabu ya, sama Bagas dan Bagus, soalnya kan bawa mobil jadi harus ada yang gantian nyetir, tapi, aku nggak mau nyetir, biar mereka aja yang gantian.'' ujar Fryan.
''Hemmm kelakuan bos memang gitu.'' sindir Bagas.
''Mau nggak nih??'' tanya Fryan.
''Mau doong.. udah gue bilangin juga ke si Bagus, dia oke kok, ready stock tinggal berangkat.'' jawab Bagas.
''Dikira kembarannya barang kali, ready stock haha.'' sahut Dini lalu terkekeh.
''Nggak ada yang lucu sayang, lebay dia nih, biarin aja..'' protes Fryan tidak terima melihat sang istri tertawa terhadap Bagas membuat Dini langsung menahan.
''Iri bilang bos..'' timpal Bagas.
''Idih.. emang nggak lucu, garing BANGET.'' protes Fryan menekankan ujung kalimatnya.
''Udah-udah, dari dulu berantem mulu nggak kelar-kelar kalian nih..'' protes Dini membuat Fryan dan Bagas langsung terdiam.
''Ehehehe.. yang penting bukan berantem sama kamu ya sayang.'' ujar Fryan menc1um pipi istrinya sekilas.
__ADS_1
''Beuuuhhh penodaan kepada mata anak sholeh yang masih suci ini.'' protes Bagas langsung menutup kedua matanya.
Fryan dan Dini langsung terkekeh melihat Bagas yang kepanasan sendiri.