Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 98 : Anak Kecil Mau Beraksi


__ADS_3

''Linda..''


''Iya Kak?''


Setelah menonton drakor tadi, Linda melanjutkan cuciannya yang belum selesai karena terpaksa menuruti permintaan bos, sedangkan Dini keatas melanjutkan pekerjaannya.


Namun, saat belum lama beraktivitas, rasa lapar diperut Dini seperti tak bisa ditunda lagi, akhirnya ia memutuskan segera turun.


''Makan yuk hehe''


Dini mengusap-usap perutnya yang sudah terasa lapar lagi, padahal belum ada jam 10.


Mungkin faktornya karena sekarang double, jadi mudah merasakan lapar.


''Aku masih kenyang Kak, Kakak mau makan apa biar aku buatkan..'' tawar Linda.


''Ah enggak Lin, aku mau makan nasi aja soalnya laper banget, beneran masih kenyang?'' tanya Dini memastikan.


''Iya Kak bener..''


''Yaudah aku makan dulu ya..'' ujar Dini tidak mau memaksa.


Dini belum merasakan ngidam yang biasanya orang hamil rasakan, misalnya menginginkan makanan yang terasa asam atau menginginkan sesuatu.


Dini belum merasakan hal itu, ia masih sebatas mual di pagi hari dan rasa laparnya naik.


Sangat nikmat rasanya menjadi ibu hamil.


Dengan lahap Dini menyantap makanan yang di masak oleh Linda pagi tadi. Bukan hanya rasa laparnya yang naik, tetapi porsi makannya juga semakin naik, dalam satu bulan ini kenaikan berat badan Dini mencapai tujuh kilogram, tentunya ia semakin chubby.


''Lin, aku gemuk ya?'' tanya Dini setelah mencuci piring yang habis dipakainya.


Linda menggeleng.


''Nggak kok Kak, cuma sedikit tembem aja pipinya hehe..''


Dini langsung memegang kedua pipinya lalu menepuk-nepuk kecil disana.


''Baru sebulan Lin, bayangin nanti 9 bulan tambah lebar haha..'' ujar Dini diikuti gelak tawanya.

__ADS_1


Linda berusaha menahan tawanya, ia tidak berani ikut menertawakan karena takut Dini tersinggung, akhirnya ia hanya nyengir memperlihatkan giginya.


''Tetep cantik Kak..'' puji Linda.


''Ah bisa aja nih bikin orang bernafas lega..''


''Beneran Kak, Kak Dini cantik..'' puji Linda lagi.


''Haha yaudah makasih, aku keatas dulu ya Lin.. kalau capek istirahat..'' ujar Dini.


''Baik Kak..''


Dini kembali keatas setelah mengisi perutnya, lalu melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda.


Drrtt drrtt


Pukul 10.45 WIB, ponsel Dini berdering panggilan video masuk, siapa lagi jika bukan si kacang kapri.


Dini segera menggeser layar ponsel untuk menjawab panggilan dari sang suami, tak lama kemudian wajah keduanya saling muncul dilayar ponsel masing-masing.


''Sayang, kamu abis ngapain dan sekarang lagi ngapain?'' tanya Fryan.


''Hahaha ya nggak papa dong sayang, yang penting kamu sehat, anak kita juga sehat..''


''Nanti kalau aku jadi gemuk gimana?''


''Iya nggak gimana-gimana dong sayang, emang maunya gimana?''


''Ishh.. nanti kamu bosan lihat aku gendut, terus cari yang lain yang ramping..'' gerutu Dini.


''Ish isshhhh siapa yang ngajarin istriku ngambeknya begitu haha..'' ledek Fryan.


''Mau gemuk kek, mau kurus kek, sama aja cantik sayang, yang nggak cantik itu mulut orang yang suka menghina fisik.''


''Lagiankan Afryan Sanjaya kesayangan Fadila Putri Nandini inikan mencintai istrinya apa adanya tanpa rekayasa dan pemanis buatan, benar-benar alami.''


Mendengar kepedean dari sang suami yang tidak pernah berubah membuat Dini kembali tertawa.


''Anak siapa sih pede banget?''

__ADS_1


''Anak pak Wildan dong.. mantunya pak Wahyu, mantep nggak tuh..'' jawab Fryan dengan memenuhi layar ponsel dengan wajahnya dan mengedipkan kedua matanya berkali-kali.


Disini Dini langsung cekikikan, begitupun dengan Fryan yang sedang tidak dirumah.


''Sayang, kamu pengen apa?'' tanya Fryan setelah berhasil menghentikan tawanya.


''Belum pengen apa-apa, cuma masih cepet laper, makanya berat badan nambah terus..'' adu Dini.


''Nggak papa sayangku, kamu jangan dengerin omongan yang aneh-aneh diluaran sana, komentar-komentar di sosmed, biarin aja, yang penting kan kamu tau kalau aku cinta kamu..'' ujar Fryan.


''Anak kecil makin pinter ngomong cinta-cintaan..'' ejek Dini lalu terkekeh.


''Diiihhh.. awas ya nanti malam, anak kecil mau beraksi..'' goda Fryan.


''Kagak denger anak kecil ngomong apa..'' ujar Dini menutupi kedua telinganya dan pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh sang suami.


Sudah berhasil mengandung buah cintanya dengan Fryan, masih saja membuat Dini suka malu-malu jika harus terang-terangan membahas hal itu.


Kerap tiba-tiba pikirannya teringat bahwa Fryan itu adik, mungkin karena sudah terlalu lama ia menganggap Fryan itu sebagai seorang adik laki-laki yang ia sayangi.


''Awas nggak denger betulan..'' ujar Fryan.


''Jangan gitu dong..'' Dini langsung melepaskan tangannya yang menempel di telinga.


''Haha becanda sayang, ohya, beneran yang kerja Linda kan? bukan kamu sendiri?''


''Iya Kapriii, Linda yang kerjain semuanya, aku cuma makan tidur, tidur makan, nggak ngapa-ngapain..'' jelas Dini.


''Bagus deh..''


Dini langsung cemberut, ia merasa bosan dan kasian dengan Linda yang mengerjakan sendiri.


''Udah jangan cemberut, tuh pipinya nambah mengembang kan jadinya..''


''Biarin!''


''Hahaha kalau ngambek makin cantik, yaudah nanti tunggu aku pulang ya.. i love you..''


''Heemmmm''

__ADS_1


__ADS_2