
Dua bulan kemudian
''Saya terima nikah nya Mutia Aswari binti Aswari almarhum dengan mas kawin tersebut, TUNAI..''
Ayah Wildan sangat lancar dalam pengucapannya.
''Bagaimana para saksi?''
SAH..
SAH..
''Alhamdulillah.. sepertinya pengalaman Pak Wildan tidak perlu dilakukan lagi..'' ucap pak penghulu kemudian mengeluarkan candaan karena meskipun lancar, ayah tetap terlihat tegang.
Ayah hanya tersenyum malu, beberapa saksi ada yang tertawa.
Pak penghulu memimpin do'a, lalu setelah selesai, Tante Mutia mencium punggung tangan ayah Wildan, terlihat mereka saling menemukan di waktu yang tepat.
Fryan memegangi pelipisnya agar air matanya tidak turun, ia berusaha sekuat tenaga untuk selalu mengembangkan senyumnya di depan orang banyak.
Ia duduk berdekatan dengan kedua kakaknya, sedangkan Dini memilih bersama kedua orangtuanya.
''Terimakasih nak..'' ucap ayah terutama kepada Fryan.
Bujang kecilnya yang paling meratapi akan kepergian sang ibu beberapa tahun yang lalu.
Fryan sudah tidak bisa membendung air matanya, ia memeluk ayah Wildan dengan sangat erat.
''Malu diliatin calon bini..'' bisik ayah di sela-sela tangisan mereka dengan candaan, berhasil membuat Fryan mengurai pelukan dan tertawa.
''Terimakasih Ma..'' ucap Fryan memeluk ibu sambungnya yang ia panggil Mama.
''Terimakasih sayang..''
__ADS_1
Giliran Ali, putra sulung ayah Wildan dan Nita yang memeluk kedua orangtuanya.
Acara pernikahan ayah Wildan dan mama Mutia di gelar secara sederhana di kediaman orangtua mempelai wanita.
Meskipun sederhana, namun terkesan sangat sakral. Tak banyak yang ikut menjadi saksi, hanya dari keluarga terdekat saja yang sengaja mereka undang.
--
''Sekali lagi selamat untuk ayah kedua Dini dan Bu Tia..'' ucap Bu Hasni.
''Terimakasih banyak sudah meluangkan waktunya untuk hadir Pak, Bu..'' ucap ayah di ikuti senyuman dan anggukan mama Tia.
''Sama-sama Pak..''
''Memangnya mau pulang sekarang?'' tanya ayah Wildan.
''Dini ikut pulang sekarang juga?'' lanjut ayah.
''Iya Pak, tapi, Dini masih izin ke toilet dulu..''
''Mungkin masih ngantri Bu, jadinya lama..'' tambah mama Tia.
''Mungkin Bu..''
Sementara di depan toilet, Dini masih menunggu pintu toilet yang belum kunjung terbuka.
''Aduh lama banget sih yang di dalam..'' gerutu Dini sambil mondar-mandir memegangi kandung kemihnya yang sudah berada di ujung tanduk.
Ada dua toilet di luar kamar, tetapi Dini malu jika harus ke belakang.
Ceklekk
Dini langsung lari ketika mendengar suara handle pintu terbuka tanpa mempedulikan siapa.
__ADS_1
''Minta maafnya ntar aja, ah leganyaaa..'' kata Dini.
''Eh tapi tadi siapa? ya ampun maafkan aku , beneran urgent ini..'' ujar Dini dalam hati.
Dini merapikan pakaiannya sebentar sebelum keluar dari toilet.
Ceklek
''Eh eh apa-apaan ini..''
''Fryan, kamu tuh ngapain? nanti dilihat orang jadi nggak enak..'' protes Dini gelisah.
''Aku nggak takut Kak..''
Fryan menarik tangan Dini dan membawa ke sudut depan toilet lalu memeluk tubuh gadis itu sangat erat.
''Kak, nanti malam mau ya aku jemput..''
''Lepas dulu..'' pinta Dini.
Dini bernafas lega ketika Fryan mengabulkan permintaannya.
''Mau kemana?''
''Aku pengen dinner berdua aja sama Kak Dini.'' ucap Fryan serius.
Dini nampak berfikir sejenak lalu memutuskan untuk mengiyakan.
''Ya sudah, ayah sama ibu sudah nunggu..'' ujar Dini kemudian.
''Oke..'' Fryan mengangguk lalu menggandeng tangan Dini, sesaat kemudian Dini langsung melepaskan sebelum dilihat orang-orang.
Dini kembali ke depan untuk bergabung dengan kedua orangtuanya yang sedang menunggu.
__ADS_1
''Ayah, tante, bang Aldo, Kak Ali, Nita, Fryan.. kita duluan ya..'' pamit Dini.
''Hati-hati..'' ucap mereka.