
''BAGAS!'' seru Fryan.
''Iya bos gue denger!''
''Awas jangan macem-macem lu sama bini gue!'' ancam Fryan.
''ASTAGHFIRULLAH... Kagak bos, sumpah!''
Tanpa menjawab perkataan Bagas, Fryan memutuskan sambungan telepon.
Bagas mendengus kesal karena ulah bosnya.
''Gue beneran niat nolong bro, emang bener dah kalau udah bucin suka lupa waras..'' gumamnya lalu terkekeh pelan.
Sementara itu, ayah yang memperhatikan putranya panik langsung menghampiri.
''Kenapa? ada apa?'' tanya ayah.
''Dini pingsan Yah, sekarang di klinik.'' jawab Fryan.
''Di temenin Bagas.'' imbuh Fryan ragu.
''Kok bisa pingsan?'' tanya ayah ikut khawatir.
''Ya nggak tau Yah, aku pulang duluan boleh ya Yah?''
''Yasudah ayo kita pulang bersama.'' ajak ayah.
''Tapi Yah..''
''Nggak papa, Ayah mau bilang dulu sebentar.'' ujar ayah lalu mendatangi rekannya.
Setelah berbincang cukup lama, ayah kembali menghampiri Fryan yang sudah mondar mandir seperti setrika.
''Gimana Yah?''
''Sudah, ayok kita pulang..'' ajak ayah.
''Beneran nggak papa Yah?'' tanya Fryan memastikan.
''Iya tidak apa-apa.'' jawab ayah.
Ayah dan Fryan langsung berjalan ke arah parkiran.
''Biar Ayah yang nyetir, pikiranmu lagi tidak konsen, nggak baik kalau nyetir.'' ujar ayah lalu menyerobot masuk ke kursi kemudi.
Benar apa yang dikatakan oleh ayah, pikiran Fryan memang sedang khawatir.
Jadi ia tak memaksakan diri ketika ayah meminta gantian menyetir.
Ayah melajukan kemudi dengan kecepatan tinggi di perjalanan yang sedikit lengang karena belum waktunya jam istirahat ataupun pulang sekolah.
''Kenapa juga ada Bagas disana?'' gerutu Fryan semakin tidak tenang.
''Emang Bagas bilang apa?'' tanya ayah yang mendengar gerutuan putranya.
''Yaaa dia bilang nggak sengaja lihat Dini pingsan di tepi jalan.'' jawab Fryan.
__ADS_1
Ayah menyunggingkan senyumnya, ayah paham jika Fryan tengah cemburu sehingga rasa khawatirnya semakin bercabang.
''Nah itu sudah ada jawabannya, jangan persulit hidupmu dengan segala perkiraan dan pertanyaan kenapa. Berfikir positif, nanti kalau perkiraan negatifmu nggak kebukti jadi malu sendiri.'' ujar ayah yang sebenarnya didalam hati juga merasakan kekhawatiran.
''Iya Yah.'' jawab Fryan.
''Coba telpon Bagas lagi, gimana kondisi istrimu sekarang..'' suruh ayah.
Fryan menuruti apa yang diperintahkan oleh ayahnya, sedari tadi ia hanya disibukkan dengan berbagai macam pikirannya.
''Sialan nggak diangkat!'' umpat Fryan.
''Sabar.. tahan emosinya, barangkali Bagas masih ada keperluan.'' timpal ayah.
Fryan tidak merespon perkataan ayahnya, ia benar-benar khawatir memikirkan sang istri, ditambah lagi ada Bagas disana.
Jawaban yang setelah sekian lama menjadi teka teki.
Di tengah lamunan Fryan, ponselnya kembali berdering, nama Bagas muncul.
''Kemana lu nggak jawab telpon gue?''cerca Fryan.
Ayah hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya.
''Gue tadi lagi boker.'' jawab Bagas dari sana.
''Kampret! nggak usah keras-keras ngomongnya!'' sungut Fryan, sedangkan ayah berusaha menahan tawanya.
Volume di ponsel Fryan sengaja ia besarkan agar sang ayah bisa mendengarkan juga, ternyata jawaban Bagas sangat diluar dugaan.
''Didalam ruangan, lu lagi dijalan kah? berisik banget.'' seru Bagas.
''Iya, gue otw pulang, awas lu ya jangan apa-apain bini gue!'' ancam Fryan lagi.
''IYAAAAA!!'' seru Bagas.
Meskipun sempat was-was karena harus mengendarai mobil dengan kecepatan lumayan tinggi. Akhirnya Fryan dan ayah tiba di sebuah klinik yang sebenarnya tidak jauh dari rumah Fryan.
Fryan langsung turun dari mobil tanpa menunggu ayahnya.
Ia langsung setengah berlari masuk kedalam gedung tersebut.
''Pasien atas nama Nandini, istri saya.''ujar Fryan.
''Sebentar Pak..'' jawab petugas.
Setelah mendapatkan informasi, Fryan langsung menuju ke ruangan dimana Dini berada, ayah Wildan sudah mengikuti dari belakang.
''Sayang..'' seru Fryan sambil membuka pintu, ia melihat Dini duduk bersandar di ranjang.
Dini sudah sadar dari pingsannya, di dalam ruangan itu ia ditemani oleh Bagas yang duduk di kursi dengan memberi jarak sembari memainkan ponselnya.
Mereka sama-sama langsung menoleh kearah pintu.
''Sayang kamu nggak papa kan? mana yang luka? yang sakit mana hah? maafin aku..'' Fryan memeluk erat tubuh Dini.
''Aku nggak papa kok.'' jawab Dini seraya tersenyum.
__ADS_1
''Beneran nggak papa?'' tanya Fryan.
''Iya..''
''Mila mana? kenapa kamu bisa pingsan di pinggir jalan?'' cerca Fryan sambil celingukan mencari keberadaan Mila.
''Mila lagi izin pulang tadi pagi nggak lama dari kamu jalan, ibunya sakit, jadi nungguin ayahnya pulang nanti sore.'' jawab Dini.
''Kamu tuh pulang cepet mau nemuin aku apa cariin Mila?'' sungut Dini agar Fryan tidak membahas yang lain.
Fryan langsung menelan salivanya, salah ngomong.
''Kamu baik-baik aja kan, Nak?'' tanya ayah mendekati menantunya.
''Nggak papa Yah, Dini baik-baik aja kok.'' jawab Dini.
''Ohya, nak Bagas terimakasih banyak ya sudah menolong Dini..'' ucap ayah membuat Fryan langsung terkejut, ia sendiri lupa atau bahkan tidak terfikir untuk mengucapkan terimakasih kepada Bagas.
''Sama-sama Om.'' jawab Bagas.
Mendengar ucapan ayah mertua, Dini langsung memutarkan arah bola matanya kearah sang suami.
''Thank's bro..'' ucap Fryan.
''Oke..'' jawab Bagas.
''Ohya, apa kata dokternya? sudah boleh pulang kah?'' tanya Fryan.
''Sudah, sebenarnya sudah boleh pulang dari tadi, tapi karna kata Bagas kamu perjalanan kesini yaudah ditunggu aja.''
''Emm.. kata dokternya...'' Dini menunduk seperti orang sedih, padahal ingin tertawa.
''Kenapa sayang? apa kata dokter?''
''Kenapa Nak? ada apa?'' timpal ayah khawatir.
Dini menggeleng pelan.
Bagas yang duduk di kursi paling ujung mencoba menahan tawanya karena ia sudah tau apa hasil pemeriksaan Dini.
''Hasilnya ada diatas meja bro..'' timpal Bagas dengan santai.
Ayah dan Fryan hanya menoleh sebentar, Fryan langsung meraih map tersebut dan membuka dengan perasaan was-was.
Namun, perasaan was-wasnya berubah menjadi senyuman yang mengembang diwajahnya.
...^^^^^^^...
Mohon do'anya ya semoga author Cimai lekas sehat lagi, ini hanya melanjutkan yang sudah dicicil.
Pelan-pelan karena matanya ngeblur kalau lihat layar hp hehe
Jadi, bentar-bentar hpnya di tarok🤭
Terimakasih yang selalu setia bersama Fryan dan Dini, mohon maaf atas keterlambatan dalam update 🙏
Jaga kesehatan untuk teman-teman author dan readers💞
__ADS_1