Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 36 : Kakak Takut


__ADS_3

Terbelenggu dalam sebuah ikatan hubungan yang sudah seperti keluarga.


Namun benar apa yang dikatakan kebanyakan orang, pertemanan akrab seorang laki-laki dan perempuan sangat jarang jika salah satunya tidak terjebak dalam sebuah rasa cinta.


Begitupun yang dirasakan oleh Nandini dan juga Afryan, hubungan yang seharusnya saling memberi kasih sayang layaknya seorang kakak perempuan ke adik laki-lakinya, nyatanya sang adik justru menyimpan sebuah rasa cinta yang teramat dalam.


--


''Kamu beneran merestui atas pernikahan ayah?'' tanya Dini hati-hati, memulai perbincangan di dalam perjalanan.


''Iya Kak aku merestui, terlihat ayah begitu bahagia.''Fryan menatap Dini sekilas seraya tersenyum.


''Iya benar sekali.'' kata Dini kemudian mengangguk-angguk sambil membayangkan ekspresi pasangan pengantin baru tadi pagi.


''Sekarang tinggal mikirin masa depanku sendiri.'' ujar Fryan, membuat Dini menjadi kikuk dan bingung harus menjawab apa.


Suasana kembali hening ketika tak ada obrolan di antara mereka.


''Kapri kenapa jadi kalem gini sih? kok nggak enak ya rasanya, tapi..'' Dini melirik Fryan sekilas lalu menatap jendela dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, batinnya terus bertanya-tanya.


Di jahili marah, di diemin bingung, dasar Dini 😏


Fryan turun dari mobil terlebih dahulu, membukakan pintu untuk sang pujaan hati.


Bibirnya mengulum senyuman seraya mengulurkan tangannya.


''Terimakasih..'' ucap Dini.


Fryan mengangguk dan memberikan senyuman manisnya lagi.


--


Sebuah lagu yang di nyanyikan oleh seorang penyanyi yang tampil di cafe tersebut, meskipun dia belum menjadi penyanyi yang banyak di kenal di negeri ini, tetapi suara dan penghayatannya sangat berhasil membuat para pengunjung terbawa suasana romantis.


Prok prok prok


Penyanyi tersebut mengucapkan terimakasih lalu sedikit membungkukkan kepalanya setelah berhasil menyelesaikan satu buah lagu dengan sempurna.

__ADS_1


Riuh tepuk tangan diberikan oleh para pengunjung cafe.


''Suaranya enak banget..'' ujar Dini di sela-sela memberikan tepuk tangan.


''Kakak masih suka dengerin musik?'' tanya Fryan.


''Masih.''


''Drakor?'' tanya Fryan lagi.


''Jangan di tanya kalau itu mah.. hehe..''


''Suka baper ya sama adegannya?'' tanya Fryan memancing jawaban Dini.


''Banget, eh nggak, nggak ya.. biasa aja..'' jawab Dini gugup.


Fryan terkekeh melihat ekspresi kegugupan di wajah Dini.


''Duh b0d0hnya Dinii.....'' rutukk Dini dalam hati.


''Hem iya?''


''Kira-kira sekarang ayah sama mama lagi ngapain ya?'' tanya Fryan sambil memandangi langit.


''Lagi ngobrol kali..'' jawab Dini tidak mau terjebak lagi.


''Masa sih?'' tanya Fryan dengan mengulum senyum.


''Kan cuma kira-kira Fryan, telpon aja kalau penasaran..'' suruh Dini.


''Nggak mau ah, ganggu..'' tolak Fryan.


Dini tak berniat menjawab lagi, karena ia tau kemana arah pembicaraan Fryan.


''Udahan yuk..'' ajak Dini.


''Apanya?'' tanya Fryan pura-pura tidak paham.

__ADS_1


''Ya disininya, udah malem..'' jawab Dini.


''Kan emang tadi jalannya udah malem Kak..''


''Ish Kakak serius..'' gerutu Dini.


Fryan sangat gemas melihat Dini yang sedang cemberut, ingin rasanya melahap bibir yang sedang dikerucutkan itu.


''Yaudah yuk..''


Dini tersenyum lebar karena akhirnya Fryan tidak mengelak lagi.


--


''Kok kayak ada yang ngikutin kita ya?'' tanya Dini berkali-kali menengok ke belakang mobil.


Dini melihat sebuah motor yang di tumpangi dua orang dengan memakai jaket kulit hitam serta helm besar sedang mengikutinya.


''Mungkin perasaan Kakak aja, ini kan jalanan umum Kak..'' jawab Fryan mencoba tenang, padahal ia juga sedang berusaha menghindari motor tersebut.


''Tapi, motor itu ngebut? kamu juga kenapa jadi ngebut gini?'' tanya Dini semakin panik.


''Fryan ada apa? kamu sedang ada masalah apa?''


''Kak Dini tenang ya.. semua baik-baik saja.''


''Kakak takut..'' Dini semakin panik dan sesekali menengok kembali ke belakang.


''Loh kok berhenti?'' tanya Dini semakin panik.


''Fryan tolong jangan keluar, please ini bahaya, mereka serem.. kakak nggak bisa bantuin kamu..''


Dini semakin takut saat motor itu berhenti tepat di depan mobil Fryan.


''Kakak cukup diam disini, share lokasi ke bang Aldo sekarang.'' ujar Fryan langsung keluar.


''FRYANN, FRYANN..'' teriak Dini, namun Fryan tetap nekat menemui orang-orang asing yang membuntutinya.

__ADS_1


__ADS_2