Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 46 : Kita Sudah Menikah kan?


__ADS_3

Malam pertama?


Malam pertama mereka sudah di lalui saat masih di rumah sakit, sehingga tak terjadi kegiatan suami istri pada umumnya, pernikahan mendadak dan tanpa rasa cinta dari Dini membuatnya kebingungan sendiri.


Setelah menikah, baru kali ini mereka berada di dalam satu kamar.


Meskipun belum ada rasa cinta, Dini tetap mengingat rasa tanggungjawabnya dan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, kecuali untuk melakukan emmmm itulah pokoknya.


Dini belum bisa dan belum siap lahir batin. hehe


''Kenapa waktu itu enteng banget nih mulut ngomong minta dinikahkan?'' batin Dini lalu melirik ke arah Fryan yang sedang duduk di kursi kerjanya sambil mengecek pekerjaannya via laptop.


Dini langsung sigap kembali bermain handphone, sebelum kepergok oleh Fryan.


''Ayah sama mama lagi jalan, ah indahnya pasangan pengantin baru.. sudah jam 9 lebih belum pada pulang hihi..'' batin Dini membayangkan keromantisan mertuanya.


''Sayang''


''Sayang''


''Istriku, cintaku, hellooo...''


''Kak Dini.''


''Hah APA? ADA APA TERIAK-TERIAK?'' jawab Dini gelagapan.


''Dih siapa yang teriak-teriak sayang, berkali-kali di panggil malam diem aja, senyum-senyum sendiri nggak jelas.'' protes Fryan.


''Masa sih? Kakak nggak denger, maaf..'' ucap Dini.


''Ada apa?'' tanya Dini.

__ADS_1


''Boleh minta tolong kah?'' tanya Fryan sambil mendekatkan kursi kerjanya yang memiliki roda itu.


''Boleh-boleh, kamu disitu aja, nggak usah mendekat, minta tolong apa?'' tanya Dini.


''Kalau nggak deket nanti nggak denger lagi..'' protes Fryan.


''Tadi sama sekarang beda dong, buruan dah mau minta tolong apa?''


''Aku masih ngecek laporan hari ini, boleh buatin minum..'' ujar Fryan.


''Ohhh, iya sebentar.'' jawab Dini lalu bergegas keluar kamar dan menuju dapur.


''Bisa-bisanya sebagai istri aku nggak peka.'' gerutu Dini merutuki dirinya sendiri setelah berada di dapur.


Dini keluar kamar tanpa menutup pintu, ia membiarkan pintu terbuka begitu saja.


Rumah terlihat sepi, mertuanya sedang pergi berdua, sedangkan ART sudah kembali ke rumahnya setelah beberes sore tadi.


''Sepi amat sih nih rumah..'' gumam Dini sambil membawa nampan kecil yang berisi satu gelas dan satu toples cemilan menuju kamarnya.


Dini meletakkan nampan di tepi meja kerja Fryan.


''Ini..'' ucap Dini.


''Terimakasih istriku..'' jawab Fryan.


Dini merespon dengan tersenyum.


''Jangan pergi dulu, temenin aku, ini udah aku ambilkan kursi kesini.'' Fryan menepuk kursi kosong di sebelahnya.


Dini menuruti perintah sang suami, toh dirinya juga belum mengantuk.

__ADS_1


''Laporan cafe ya?'' tanya Dini.


''Iya sayang, beberapa hari ini kan belum ke handle, jadi ngurus yang kemarin-kemarin, hari ini kan belum tutup.'' jawab Fryan.


''Oh iya-iya..'' Dini mengangguk paham.


Fryan menyeruput minuman hangat yang dibuat dengan penuh cinta dari sang istri.


Hah cintaa???


Iyain aja deh untuk Fryan.


''Terimakasih sayang, rasanya nggak pernah berubah.'' puji Fryan.


''Selama bahannya masih sama di jamin rasanya juga tetap sama.'' jawab Dini santai.


Hahaha


Fryan terkekeh mendengar jawaban sang istri lalu memutar kursinya untuk menghadap ke arah Dini.


''Ya bener kan?'' tanya Dini.


''Iya benar, pinter banget sih istriku yang cantik..'' puji Fryan lagi.


Fryan masih betah memandangi wajah sang istri yang sejak lama ia cintai itu.


''Kenapa aku deg-degan gini sih..'' batin Dini merasa tidak nyaman dengan jantungnya.


''Sekarang kita sudah menikah kan?'' tanya Fryan.


''I-iyalah kita menikah.'' jawab Dini sedikit gugup.

__ADS_1


''Kenapa emangnya?'' tanya Dini menangkap tatapan Fryan yang seperti memiliki makna tinggi.


Fryan tersenyum mendengar pertanyaan sang istri yang terlihat sedang merasa gugup.


__ADS_2