Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 84 : Adek Kakak


__ADS_3

Tak terasa pernikahan yang di awali dengan cinta bertepuk sebelah tangan Fryan, kini telah berhasil dengan saling menggenggam tangan dan saling mencintai.


Meskipun terkadang terbesit dalam perasaan Dini yang masih belum menyangka jika jodohnya adalah Fryan.


''Kapri, aku pengen ke pasar.'' pinta Dini seusai sarapan.


''Emmm.. mau nggak ya?'' kata Fryan pura-pura sedang berpikir.


''Kalau nggak mau nggak papa kok.'' ujar Dini pasrah.


''Ya maulah sayang, apa sih yang nggak buat kamu.'' sahut Fryan dengan mengusap rambut sang istri.


''Siap-siap dulu ya..''


''Iya..''


Kesukaannya berkunjung ke pasar masih melekat di jiwa Dini.


Ia merasa bisa puas memilih, dan bertemu dengan orang-orang membuatnya senang.


Fryan juga tidak keberatan jika sang istri selalu mengajaknya. Baginya juga menyenangkan, walaupun terkadang risih dengan rumpian khas ibu-ibu jika sudah bertemu.


Bahkan hal ini sudah sering Fryan lakukan saat masih mencintai dalam diam kepada Dini.


Nita kerap memaksanya untuk mengantar ke pasar, Fryan selalu nurut karena andalan Nita adalah mengajak Dini yang tentunya membuat Fryan semangat 45.


Namun, jika tidak mengajak Dini, ia selalu banyak alasan meskipun akhirnya nurut juga jika sang kakak terus memaksa.


Dini masih semangat memilah-milah apa yang akan di belinya, sementara Fryan juga selalu setia menemani langkah sang istri.


Ia juga tidak ingin membiarkan sang istri berjalan sendiri menyusuri lorong-lorong penjual.


''Kayaknya udah deh ya..'' ujar Dini lalu menatap ke arah Fryan meminta persetujuan.


''Yakin?'' tanya Fryan.


''Iya, kakiku mulai pegel..'' jawab Dini jujur.

__ADS_1


''Aku gendong.'' tawar Fryan langsung siap siaga berjongkok agar Dini naik di belakang.


''EH EHH nggak usah lebay.. malu'' bisik Dini sambil menoleh ke kanan-kiri.


''Katamu tadi kakinya pegel, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa sayang.'' ujar Fryan khawatir.


''Ishh kan baru mulai, masih bisa jalan sendiri, makanya aku nggak mau lanjutin.'' gerutu Dini.


''Iya sayangku iyaa, maaf..''


''Yaudah sini aku semua yang bawa belanjaannya.'' pinta Fryan yang satu tangannya sudah memegang satu kantong.


''Tapi, nanti kamu keberatan.''


''Nggak sayang, kan cuma sampai parkiran aja..''


Akhirnya Dini memberikan kantong berisi belanjaannya kepada Fryan.


Setelah puas mengelilingi pasar dan membeli yang di butuhkan.


Dini dan Fryan sudah mulai pegel karena terus berjalan mencari sesuatu. Hingga akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah.


Dini melihat penjual es krim yang menaiki sepeda motor sedang berhenti tak jauh dari area mobilnya di parkirkan.


''Kapri, es krim dulu yuk kayaknya seger..''


''Ok sayang, narok ini dulu ya..'' ujar Fryan.


''Iya..''


Fryan bergegas memasukkan belanjaan ke dalam mobil lalu kembali menghampiri sang istri yang sudah lebih dulu menghampiri penjual es krim.


Dini memilih es krim di dalam box tersebut dan mengambil dua buah dengan rasa yang ia dan Fryan sukai.


Setelah mendapatkan rasa eskrim yang di cari, Dini langsung membayar dan menyerahkan satu buah es krimnya kepada Fryan yang baru saja berdiri menyusulnya.


''Udah?'' tanya Fryan.

__ADS_1


''Udah, ini..'' jawab Dini lalu menyerahkan satu es krim kepada sang suami.


Sebelum melanjutkan arah pulang ke rumah, Fryan dan Dini memilih menikmati es krim dengan di temani angin yang menyejukkan di area yang tidak jauh dari parkiran, disana terdapat kursi untuk bersantai.


''Ihh Adek makannya belepotan..'' ledek Dini lalu mengusap sudut bibir Fryan yang menampakkan cairan es krim.


''Ihh Kakak jangan kenceng- kencang ngomongnya, kan malu kalau kedengaran cewe cantik..'' canda Fryan.


''Ganjen ya..'' protes Dini lalu menepuk paha Fryan.


''Haha.. cewenya bernama Dini.'' jawab Fryan sambil menahan tangan Dini.


Keduanya saling menatap dengan mengembangkan senyumnya. Tatapan mereka terasa sangat hangat.


Tin Tin


Suara keras klakson dari kendaraan yang tidak jauh dari tempat mereka duduk langsung membuyarkan wajah Fryan yang sudah semakin maju.


Dini pun juga gelagapan sendiri, hampir saja ia memalukan dirinya sendiri di depan umum.


Fryan dan Dini langsung cekikikan sendiri mengingat aksi yang hampir mereka lakukan di depan umum.


Meskipun mobil itu tidak bermaksud menggagalkan aksi pasangan suami-istri ini, tetapi tetap saja suara kerasnya benar-benar langsung menyadarkan Fryan dan Dini.


''Pulang yuk..'' ajak Dini yang masih menahan tawanya sendiri.


''Ayuk..''


Gelak tawanya masih terbawa hingga di dalam mobil.


''Kamu ih suka nggak lihat tempat..'' protes Dini.


''Kamunya juga siap haha..'' timpal Fryan nggak mau kalah.


"Nanti di kirain orang pacaran yang nggak lihat tempat."


"Biarin.. nyatanya kan kita udah nikah." jawab Fryan lalu membelokkan stirnya ke kiri.

__ADS_1


"Huhh hampir aja.. lain kali harus bisa jaga diri, harus lihat tempat dan situasi.. sekalipun sudah menikah, sepertinya tidak pantas." tutur Dini.


"Iya sayang, nanti bikin baper yang baca.. eh!" sahut Fryan lalu di ikuti tawanya yang tertahan.


__ADS_2