Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 88 : Tenang Fryan, Tenaaang..


__ADS_3

''Bisa kesini sekarang Gas?'' tanya Fryan pada sambungan telepon.


Saat ini ia sudah tidak di rumah, sudah melakukan rutinitasnya.


''Bisa bos.'' jawab Bagas dari tempat lain.


''Gue tunggu.'' ujar Fryan langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Fryan meletakkan ponselnya di meja lalu menyandarkan punggungnya.


Sejak semalam pikirannya tidak tenang sendiri, ia terus-terusan memikirkan tentang kebenaran apa yang ia duga.


Ketika bangun pagi, sang istri tidak menampilkan ekspresi yang aneh, ia tetap menjadi istri yang baik untuknya.


Namun, perasaan yang ia rasakan saat ini adalah kekhawatiran terjadinya sesuatu hal yang tidak pernah ia duga.


Meskipun selama ini antara Bagas maupun Dini tidak pernah terjadi apapun.


Ataukah ini hanya perasaan Fryan saja yang terlalu cemburu?


''Bos..'' panggil Bagas dengan wajah sumringahnya.


''Udah dateng aja lu, duduk.'' suruh Fryan.


Sembari nyengir memperlihatkan giginya yang putih, Bagas menarik kursi lalu duduk dengan santai.


Krik krik


Fryan dan Bagas sama-sama terdiam.


Fryan masih bingung harus memulai berbicara dari mana, sedangkan Bagas bingung kenapa Fryan menjadi aneh seperti ini.


Apakah Fryan memanggilnya hanya untuk di ajak lomba menjadi patung hiasan?


''Ada apa sih bos? kok hawanya jadi serem gini..''


''Gas, apa lu bener-bener udah nggak pernah ketemu lagi sama gadis itu?'' selidik Fryan membuat Bagas sedikit terkejut.

__ADS_1


''Jadi lu nyuruh gue kesini cuma mau nanya itu lagi bos?'' tanya Bagas serius.


''Lu jawab aja pertanyaan gue.'' paksa Fryan.


''Maaf bos, kali ini jangan ikut campur urusan pribadi gue, permisi..'' jawab Bagas lalu beranjak dari kursi.


Fryan menghela nafas berat.


''Apa karna gadis yang lu maksud adalah istri gue?'' seru Fryan tegas.


Bagas yang sudah mendekati pintu langsung menghentikan langkahnya.


Ia pasrah jika Fryan akan memaki-makinya atau bahkan membencinya.


Dengan langkah tanpa ragu, Bagas berbalik arah dan kembali mendekati Fryan yang masih menatapnya.


''Apa maksudmu?'' tanya Bagas.


''Jawab saja iya atau bukan.'' ujar Fryan tegas.


Bagas menghela nafasnya lalu kembali menatap ke arah Fryan.


''Jadi candaan lu selama ini bukan semata-mata meledek gue? tapi, karna isi hati lu? iya?'' selidik Fryan.


''Bro..'' Bagas menghentikan kata-katanya sendiri.


''Oke sekarang terserah lu mau gimana, gue nggak pernah ada maksud sedikit pun untuk ngerusak pernikahan kalian, gue rela lahir bathin dari awal gue tau kalau perempuan yang lu taksir itu sama dengan gue. Kalau gue ada niat nggak baik, tentunya sudah dari dulu sebelum kalian menikah, apalagi disaat lu galau lagi gara-gara Dini menghindar, nyatanya gue nggak maju kan? gue milih cari yang lain, gue juga sadar kalian lebih dulu ketemu daripada gue yang ibaratnya baru kemarin, itupun nggak sengaja.''


''Dan satu lagi, kalau dari penjelasan gue masih bikin lu nggak percaya, silahkan tanya langsung sama Dini, apa pernah gue secara serius godain dia? atau secara diam-diam gue deketin dia?''


''Gue rasa bini lu orang baik yang bisa berkata jujur.'' imbuh Bagas.


Fryan mencerna setiap kata demi kata yang di ungkapkan oleh Bagas.


Memang selama ini tidak ada yang aneh dari keduanya, Dini yang tidak mengetahui, sedangkan Bagas yang legowo demi kedamaian mereka semua.


Fryan juga tidak ingin gara-gara hal ini memicu permasalahan di antara mereka, ia sudah berusaha untuk tidak langsung terbawa emosi karena tujuannya hanya ingin mencari kebenaran.

__ADS_1


''Gue percaya sama lu Gas, tapi, bini gue sekarang sudah tau siapa perempuan yang lu taksir.'' ujar Fryan.


Bagas tersenyum singkat karena Fryan mempercayainya.


''Sebelumnya gue terimakasih karna lu udah percaya sama gue, tapi, soal Dini, kenapa dia bisa tau dan lu juga?''


''Iya semalam gue tiba-tiba inget sama lu, gue cerita dan Dini tanya kalian ketemu dimana. Dari situ gue bisa lihat perubahan di wajahnya, gue tau dia menyembunyikan sesuatu, tapi, mungkin sama kayak lu, menutupi dengan alasan demi kebaikan, mungkin juga dia nggak menyadari kalau dulu kalian pernah ketemu.'' jelas Fryan.


''Terus keputusan lu sekarang gimana setelah tau semuanya?'' tanya Bagas.


''Jujur Gas, gue jelas cemburu, pake banget.'' jawab Fryan.


''Tapi, tujuan gue manggil lu kesini bukan untuk memaki-maki lu, gue cuma mau tau kebenarannya.


Dan sekarang gue sudah tau, gue sudah plong.. gue cuma minta banget sama lu, tolong jaga kepercayaan gue.''


''Terimakasih bro.'' ucap Bagas.


''Dan gue minta maaf atas ledekan gue selama ini yang baru sekarang bikin lu cemburu, tapi, itu murni gue cuma becandaan, nggak ada maksud buruk apapun.'' ucap Bagas.


''Iya, no problem.. terimakasih juga lu sudah ngalah buat gue.'' ucap Fryan.


Bagas mengangguk.


''Ya sudah sekarang lu udah lega kan? gue mau jalan dulu.'' ujar Bagas seraya beranjak dari kursi.


''Thanks banget ya Gas..'' seru Fryan.


Bagas kembali mengangguk lalu langsung membuka pintu dan keluar.


Fryan menyandarkan kepalanya lagi, memang sudah lebih lega, tetapi rasa cemburu itu masih tetap ada, apalagi jika memikirkan pertemuan di antara mereka kedepannya, yang tadinya tidak memikirkan kekhawatiran, sekarang khawatir rasa di hati Bagas akan tumbuh lagi.


''Tidak-tidak!! tenang Fryan, tenaaang..''


Fryan mencoba menenangkan pikiran dan juga hatinya.


Benar apa yang dikatakan oleh Bagas, jangan sampai cemburu mengalahkan logikanya.

__ADS_1


''Semoga lu bener-bener konsisten bro..'' gumam Fryan.


__ADS_2