
''Minggu depan kita liburan ya.'' ujar Fryan.
''Kemana?'' tanya Dini yang sudah berhenti menangis, tetapi nampak hidungnya masih merah dan mata yang sembab.
''Dulu kamu pernah bilang sama kak Nita pengen banget kan nyeberang ke Lampung, katanya disana banyak tempat wisata, aku juga sudah cari-cari informasi, tepatnya di kabupaten Pesawaran, kita kesana ya..'' ujar Fryan berharap sang istri mengiyakan.
Dini tampak berbinar mendengar kata wisata itu.
''Beneran mau kesana?'' tanya Dini dengan senyum yang mengembang.
Fryan bernafas lega melihat raut wajah bahagia dari istrinya.
''Iya beneran, mau kan sayang?''
Dini mengangguk.
''Iya mau.''
''Makasih ya.'' ucap Dini.
''Sama-sama, aku yang makasih sama kamu sayang.''
Fryan tidak menyerah untuk menjadikan pernikahan ini menuju kehidupan rumah tangga yang normal.
Terutama berjuang untuk mendapatkan cinta tulus dari istrinya.
''Sekarang istriku yang cantik ini mau makan apa? kita order lagi ya.. soalnya kan belum belanja.''
''Terserah kamu aja.'' jawab Dini.
''Heemm kebiasaan..'' gumam Fryan.
''Kamu suka sate ayam apa sate kambing?'' tanya Fryan mendapatkan ide.
''Sate ayam dong.'' jawab Dini langsung.
''Oke.'' Fryan langsung membuka aplikasi untuk memesan sate ayam.
Begitulah cara menanyakan kepada perempuan, jangan tanyakan mau makan apa. Tetapi langsung berikan pilihan makanan yang pernah di makannya😂
''Aku mau mandi dulu.'' ujar Dini.
''Hmmmmm iya sayang, duluan gih..'' jawab Fryan yang ingin meminta mandi bersama tetapi tertahan takut ngambek lagi.
Dini langsung masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Fryan kembali fokus ke layar hpnya untuk memesan menu makanan yaitu sate ayam.
Fryan meletakkan hpnya di sofa lalu beranjak membuka pintu dan menatap langit cerah dari balkon lantai dua.
Rumah yang dibuat tidak terlalu lebar karena awalnya hanya untuk tempat persinggahan Fryan, namun rumah tersebut memiliki dua lantai.
''Rasanya masih seperti mimpi.'' gumam Fryan.
Fryan tersenyum sendiri membayangkan selama ini hanya bisa berkhayal untuk bersanding dengan Dini.
__ADS_1
''Hadeh kelamaan disini nanti kurirnya keburu datang.'' gumam Fryan lalu melangkahkan kaki kembali masuk ke dalam.
''AAAAAAAAA''
Ssrrttt
BRUK
''Aww''
''Kenapa Sayang?''
Fryan terkejut mendengar teriakan Dini dan tak lama kemudian melihat sang istri terpeleset.
Dini memekik kesakitan karena kaki dan juga pant4tnya yang lebih dulu mendarat di lantai.
''Kamu kenapa?'' tanya Fryan yang sudah jongkok di depan Dini.
Dini menunduk malu sambil menahan rasa sakit, ia benar-benar ceroboh, biasanya selalu langsung membawa baju ganti ke kamar mandi. Namun kali ini melupakan hal itu, hanya ada handuk di dalam dan sialnya saat baru selesai mandi dengan jalan mengendap-endap, melihat kamar kosong membuatnya lega. Namun, tiba-tiba sang suami masuk dan membuatnya terkejut lalu berbalik arah dan malah terpeleset karena tetesan air dari rambutnya yang sudah membasahi lantai.
''Kamu kenapa sayang kok teriak-teriak?'' tanya Fryan.
''Nggak papa, kamu minggir dulu aku malu..'' pinta Dini masih menunduk, karena baru kali ini ia hanya mengenakan handuk di depan Fryan, meskipun mereka sudah menikah.
Fryan hanya bisa berusaha mengendalikan dirinya agar tidak goyah.
''Iya-iya, tapi, aku bantu kamu berdiri dulu.''
''Nggak usah Fryan, aku bisa sendiri.'' tolak Dini.
Dini berusaha beranjak, namun kakinya yang menatap pintu terasa masih sakit.
''Aww sakit..'' pekiknya, membuat Dini gagal berdiri.
''Udah sini aku bantu, ayo..''
Fryan langsung menopang lengan istrinya untuk berdiri.
''Aku malu.'' lirih Dini.
''Haha aku ini suamimu sayang, jangan malu, kecuali kalau yang lihat orang lain baru malu.'' sahut Fryan.
Sekuat tenaga Fryan menelan salivanya, apalagi saat kedua matanya terfokus pada sebuah belahan yang Dini jadikan tempat untuk menyelipkan ujung handuk.
''Sabar Fryan, sabaaarrrr..'' batin Fryan menjerit ingin menyanyikan ku menangis membayangkan.
Fryan membantu Dini untuk duduk di sofa terlebih dahulu.
Pandangannya kembali tidak fokus saat handuk yang di pakai Dini terangkat karena posisi duduk.
Fryan memilih mengalihkan pandangannya untuk memijit kaki Dini.
''Pesanannya belum datang?'' tanya Dini.
__ADS_1
''Hah pesanan? belum, belum datang.'' jawab Fryan gugup.
Benar-benar pemandangan kali ini membuat otaknya tidak berjalan dengan baik.
''Aku tau apa yang ada dibenakmu Fryan, aku juga bingung harus bagaimana, maafkan aku..'' batin Dini.
''Emm sebentar aku ambilkan baju kamu.'' ucap Fryan seperti bingung sendiri, ia langsung membuka koper yang belum sempat di susun isinya ke dalam lemari.
Fryan membuka koper baju Dini, memilih baju yang cocok untuk sehari-hari.
Pilihan Fryan jatuh pada baju terusan kira-kira selutut berbahan kaos dan tak lupa pakaian dalam yang membuatnya merinding karena terbayang isinya.
''Ini sayang bajunya, mau di pakein?'' tawar Fryan.
''Nggak, makasih, bisa pake sendiri.'' tolak Dini langsung mengambil baju dari tangan suaminya.
Fryan hanya bisa menghela nafasnya. Sabaaaarrrrr....
''Loh kenapa kamu duduk disini? aku malu kalau kamu disini..'' protes Dini karena Fryan malah duduk di sampingnya.
''Sayang.. aku mohon kali ini boleh ya..'' pinta Fryan penuh harap.
''Bo-boleh apanya?'' tanya Dini gugup.
Fryan mencoba mengatur nafasnya untuk mengungkapkan sesuatu.
''Pemanasan disitu.'' tunjuk Fryan pada bagian d4da istrinya.
''Emm anu, tapi..''
''Hanya sampai situ sayang, selebihnya aku tidak mau memaksa.''
Ting Tong
Tiba-tiba bel dirumahnya berbunyi membuyarkan ketegangan Fryan dan Dini.
''Pesanan.'' kata Dini.
''Hah? oh iya bentar, jangan gerak, jangan kabur, tunggu aku.''
Fryan langsung meraih dompet dan berlari cepat.
''Terimakasih Pak.'' ucap Fryan pada kurir tersebut.
''Loh Mas ini kebanyakan.'' ujar pak kurir setelah mengecek nominalnya.
''Ambil aja untuk bapak dan keluarga ya, maaf saya buru-buru karena masih ada kerjaan.'' jawab Fryan nampak tidak tenang.
''Oh iya-iya, terimakasih banyak Mas.'' ucap kurir tersebut sumringah mendapatkan rezeki menjelang sore.
Fryan meletakkan pesanannya di atas meja begitu saja, dan langsung kembali berlari menuju kamar.
Fryan tersenyum saat melihat istrinya masih duduk sambil memijit kakinya yang mungkin masih terasa nyeri.
__ADS_1
''Boleh dilanjut?''