
Drama ngambek dua hari yang lalu telah usai, sekarang Dini dan Fryan tengah menikmati senja di balkon rumah sembari menunggu waktu maghrib.
''Kapan pekerjaan disini mulai lagi?'' tanya Dini.
''Sekalian bulan depan aja ya kalau kita pulang dari Lampung.'' jawab Fryan.
''Oh, iya.''
''Kamu bosen ya?'' tanya Fryan meraih tangan Dini.
''Iya sedikit.'' jawab Dini langsung menunduk karena merasa tidak enak.
''Maaf ya sayang, maaf..'' ucap Fryan langsung meraih bahu istrinya dan memeluk erat.
''Nggak papa, aku cuma ngerasa sepi disini, kayak hidup sendirian, kalau kamu pergi mengontrol karyawanmu, rumah ini jadi terkesan horor.'' gumam Dini dalam mengeluarkan uneg-unegnya.
Fryan merasa serba salah, karena Dini selalu menolak untuk diajak. Namun kali ini justru mengeluarkan kata sepi dan horor jika ia tinggal.
''Besok-besok ikut ya, aku juga nggak tenang kalau kamu di rumah sendiri. Tapi, kamu selalu nolak kalau di ajak.'' ujar Fryan.
''Nggak mau, nanti dikiranya suami takut istri, kemana-mana harus di kawal.'' gerutu Dini.
Fryan langsung terkekeh mendengar gerutuan dari istrinya.
''Kenapa ketawa?'' tanya Dini heran dengan mengerucutkan bibirnya.
''Kamu lucu.'' Fryan mengulum senyumnya dan menc1um bibir manyun Dini sekilas.
''Kapri ih! suka nggak bilang-bilang dulu!'' gerutu Dini.
''Emangnya kalau bilang dulu suka di bolehin gitu? pasti selalu gini..
Fryan memperagakan gaya penolakan Dini saat ia memberikan serangan mendadaknya.
''Apaan.. ngarang!'' umpat Dini langsung melengos ke arah lain.
Fryan mendekatkan bibirnya di telinga Dini seraya memberikan bisikan.
''Berarti sekarang kalau izin dulu langsung di bolehin dong ya..'' goda Fryan berhasil membuat Dini langsung terbelalak.
Dini langsung beranjak kabur, sementara Fryan tidak bisa menahan gelak tawanya sambil mengejar sang istri yang sudah lari ke dalam.
''TOLONG LEPASIINN!'' teriak Dini karena Fryan berhasil menangkapnya dari belakang.
''KAPRIIII'' Dini membungkam bibir Fryan dengan telapak tangannya agar berhenti menyerang.
''STOP NGGAK!!'' ancam Dini.
Fryan mendudukkan tubuh Dini di pangkuannya lalu menyingkirkan tangan sang istri yang masih membungkam mulutnya.
''Jangan galak-galak, kamu juga mau kan??'' goda Fryan.
''Apasih awas aku mau turun.'' ujar Dini.
Bukannya melepaskan tubuh Dini, Fryan semakin mempererat pelukannya yang melingkar di perut sang istri.
''Ada password-nya kalau mau turun.'' ucap Fryan yang sudah mendekatkan bibirnya.
Sontak Dini memundurkan kepalanya dan mendorong dada sang suami.
__ADS_1
''Ishhh buruan lepasin, udah Maghrib tu..'' gerutu Dini.
''Ini.. ini.. ini.. ini..''
Jari telunjuk Fryan menunjuk pada bibir, kedua pipi, dan juga keningnya sendiri dengan kedua mata terpejam.
''Nggak mau!'' tolak Dini sambil berusaha melepaskan diri.
''Yaudah nggak turun, gini terus sampai besok.'' ujar Fryan santai sambil terus mengencangkan tangannya.
Dini benar-benar di buat geregetan sama tingkah suaminya sendiri, rasanya ingin nabok sekarang juga.
''Yaudah.."
Cup cup cup cup
Dengan pergerakan cepat, Dini melakukan apa yang suaminya minta. Menc1um bibir, pipi kanan kiri, dan kening suaminya.
''Udah, lepasin.'' pinta Dini.
''Oohh udah ya..'' Fryan membuka kedua matanya lalu berbalik menc1umi sang istri.
''Kapriiiii!!''
''Hahahaha''
..
Dini kembali merasakan kejenuhan di dalam kamar setelah makan malam tadi, Fryan sedang meeting zoom dengan karyawannya di ruang sebelah.
''Telpon Nita aja deh, kangen.'' gumam Dini mendapatkan ide.
Dini nampak sumringah saat Nita sudah menerima panggilannya, artinya ia punya teman.
''Sombong sekarang nggak pernah nelpon.'' gerutu Dini.
''Lah nanti ganggu pengantin baru kalau di telponin terus..'' Jawab Nita.
''Kemana suamimu?'' tanya Nita.
''Lagi kerja Nit, lagian ganggu apaan sih.. ya enggaklah, kamu sehat kan?'' tanya Dini.
''Sehat kok alhamdulillah.. pengantin baru kan masih hot-hotnya Din hahahaha''
Nita tertawa terbahak-bahak di seberang sana menertawai ucapannya sendiri saat membayangkan adik-adiknya.
''Ishh Nita apaan sih..'' gerutu Dini yang mukanya sudah memerah.
''Sudah sampai tahap mana Dini? mau langsung apa di tunda?'' goda Nita dengan menahan gelak tawanya.
''Ngomong apa sih Nit.. bahas yang lain aja deh. Eh Nita, gimana calon ponakanku, pengen lihat doong..'' rengek Dini.
Disana Nita langsung berdiri memperlihatkan perutnya yang sudah mulai kelihatan menonjol sedikit, meskipun belum terlalu.
''Aaaa gemesnya..'' seru Dini dengan tangannya memeluk dirinya sendiri.
''Iya nih udah nggak sabar, semoga lucu kayak mamanya.'' puji Nita.
''Dih kakak adek sama aja suka kepedean. mirip Tante aja ya sayang..'' ujar Dini.
__ADS_1
Sedangkan disana Nita malah terus tertawa mendengar ucapan Dini.
Bukan ia tidak mau menghubungi sahabat yang sudah menjadi adik iparnya itu. Tetapi ia sudah mendapatkan larangan dari adiknya agar tidak sering-sering nelpon biar para adik memiliki banyak waktu untuk melakukan pendekatan.
''Gemes deh Nit sama perutmu, pengen cium..'' ujar Dini gemas.
''AW!!''
Dini yang sedang melakukan video call dengan Nita dengan posisi tengkurap di kasur langsung terperanjat saat tiba-tiba Fryan datang menc1um pipinya.
''Fryan!! malu ada Nita..'' gerutunya setengah berbisik, dengan posisi menutup layar hpnya.
''Halo Kakakku...'' panggil Fryan.
''Diihh adekku udah berani cium-cium anak orang haha..'' ujar Nita dengan diikuti gelak tawa.
''Eh dek, Dini kayaknya udah nggak sabar jadi kayak Kakak..'' Nita memamerkan perutnya kepada Fryan.
Dini terbelalak mendengar ucapan Nita.
''Nita jangan ngarang!!!!'' seru Dini sambil berusaha merebut hpnya dari tangan Fryan.
''Udah dulu ya Kak Nit.. ganggu pengantin baru aja.'' ujar Fryan.
''Hehhh enak aja!! Dini yang nelpon taukk!!'' seru Nita.
''Yaudah lanjutkan perjuanganmu dek.. haha'' ujar Nita.
Dini mendengus kesal melihat kelakuan kakak beradik ini, benar-benar membuatnya kesal.
''Masuk nggak permisi, nggak bilang-bilang, malu tau!'' umpat Dini.
''Kamu kenapa belum tidur hem? tadi katanya ngantuk..'' ujar Fryan dengan menyembunyikan rambut Dini di belakang telinga.
''Nggak jadi, kangen sama Nita.'' jawab Dini.
''Kamu nggak bisa tidur kan kalau nggak ada aku disini?'' tanya Fryan.
''Siapa bilang? bisa, bisa banget malahan.'' bantah Dini.
''Masa sih?? yaudah gosok gigi dulu yuk, habis itu tidur.''
Dini mengiyakan ajakan Fryan, ntah kenapa memang benar apa yang di ucapkan suaminya, ia yang tadi merasakan kantuk menjadi hilang saat suaminya tidak di kamar, dan sekarang kantuk itu sepertinya sudah hadir lagi.
..
Dini terus merubah posisi, telentang dan miring berkali-kali, rasanya ngantuk, tetapi susah untuk tidur.
Fryan melihat pergerakan sang istri yang belum bisa tidur padahal menguap berkali-kali, ia juga merasakan hal yang sama.
''Kenapa belum tidur sayang?'' bisik Fryan yang sudah mendekatkan diri di belakang istrinya.
''Nggak bisa tidur..''
''Hadap sini.'' Fryan membantu Dini untuk berbalik menghadapnya.
Dini menuruti perintah sang suami, lalu Fryan langsung menenggelamkan kepalanya Dini di dadanya.
Beberapa menit kemudian, deru nafas Dini sudah terdengar teratur, sepertinya memang sudah tidur.
__ADS_1
''Kita itu sama-sama saling membutuhkan sayang, udah yuk gengsinya, i love you.'' lirih Fryan meng3cup pucuk kepala Dini, lalu pelan-pelan memejamkan kedua matanya tanpa melepaskan pelukan kepada sang istri.