
Dua hari sudah Fryan sembuh dari masuk anginnya, ia sudah kembali beraktivitas seperti biasa.
Karena hal itu juga, ia harus menumpuk pekerjaannya yang tertunda.
Dini yang rutinitas malamnya berada di cafe sering di temani oleh Fryan juga.
Selain ingin terjun langsung, Fryan juga tidak ingin terjadi sesuatu kepada sang istri tercinta.
Karena siapa-siapa pengunjung yang datang tidak ada yang ia kenal, apalagi kebanyakan anak-anak muda.
Fryan yang masih muda tentu saja memiliki rasa cemburu yang teramat tinggi.
Apalagi rasa cintanya kepada sang istri yang harus ia pendam bertahun-tahun.
Tidak mungkin ia akan membiarkan Dini terluka sedikitpun setelah ia berhasil memilikinya.
''Kita balik dulu ya..'' pamit Dini pada anggotanya.
''Oke Kak.''
Setelah berpamitan, Fryan dan Dini langsung turun ke bawah untuk segera kembali ke rumah.
Begitu sampai di kamar atas, mereka langsung bersih-bersih di kamar mandi terlebih dahulu sebelum bersiap untuk tidur.
''KAPRI!'' seru Dini saat Fryan menarik tangannya dari belakang, membuat Dini langsung balik menghadap sang suami.
Fryan merengkuh pinggang Dini, kedua pasang mata mereka saling bertemu dan beradu.
Meskipun perjalanan pernikahan mereka sudah jauh lebih normal, tetapi tetap saja momen seperti ini berhasil membuat jantung keduanya serasa mau copot.
''Mari kita mulai sayang..'' bisik Fryan dengan suara berat lalu menghembuskan nafas tepat di telinga Dini.
''I-iya tapi nggak usah pake kayak gini, aku gugup.'' ujar Dini menatap sang suami lalu mengalihkan ke arah lain.
Fryan mengulum senyumnya sambil menatap Dini, lalu mengangkat tubuh sang istri tanpa permisi.
''Kita mulai seperti biasa..'' bisik Fryan menggoda Dini.
Tidak perlu menunggu lama, Fryan langsung menanggalkan seluruh pakaiannya dan melemparnya ke sembarang arah, begitu saja dengan apa yang dikenakan oleh sang istri hingga sama-sama tanpa busana dan menampilkan sisi polos mereka.
Fryan yang memegang kendali atas pacuannya, memacu dengan semangat memulai pemanasan.
__ADS_1
Dini yang berada di bawah kungkungan sang suami hanya bisa merespon dengan suara-suara yang membuat hasrat Fryan semakin terbakar.
AKKHH
''Lagi sayang'' pinta Fryan.
Hingga perpacuan dihentikan setelah sudah mencapai puncaknya.
''I love you, sayang''
Fryan menyudahi pacuannya lalu bersandar di belakangnya. Penampilan Dini yang sudah acak-acakan juga ikut duduk dengan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
''Sini sayang.''
Fryan mengangkat tubuh sang istri ke pangkuannya yang sama-sama masih polos.
''Awh Kapri.'' pekik Dini karena pant4tnya menyentuh aset Fryan.
Fryan yang menjadi tersangka langsung terkekeh karena memang sengaja menggoda sang istri.
''Aku duduk sendiri aja.'' pinta Dini, namun Fryan langsung memeluk erat tubuh Dini agar tidak terlepas.
Fryan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
''Semoga kali ini berhasil ya..'' ujar Dini lirih.
''Aamiin..''
Dini menenggelamkan kepalanya di dada suaminya, memejamkan kedua mata dan mencoba merenungkan banyak hal yang terjadi di dalam hidupnya.
''Apa kamu udah ngantuk?'' tanya Dini seraya mendongak.
''Belum sayang, ayo kalau mau lanjut lagi..'' goda Fryan.
''Isshh mesum terus anak kecil!'' sungut Dini membuat Fryan terkekeh.
Fryan menghela nafasnya sambil mengeratkan pelukannya kepada sang istri.
''Aku tiba-tiba ingat Bagas.'' ujar Fryan lalu menatap ke arah sang istri.
''Kenapa?'' tanya Dini masih belum mengerti.
__ADS_1
''Seperti yang hari itu dia ceritakan sayang, tentang pertemuan dia dengan seorang gadis.''
''Emang Bagas sama perempuan itu ketemu dimana?'' tanya Dini.
Fryan mencoba mengingat-ingat apa yang pernah di ceritakan oleh Bagas kepadanya.
Bagaimana ekspresi berbunga-bunga di wajah teman baiknya itu.
''Kata Bagas ketemu gadis itu tidak sengaja di pameran buku dan nggak sengaja nabrak Bagas karena sedang dia buru-buru, udah lama banget sih cerita itu, dari masih sekolah. Kata dia gadis itu cantik dan juga sopan, jadi pertemuan pertama itu langsung berhasil membuat Bagas tertarik sama gadis itu sampai-sampai dia malah gugup sendiri.''
''Katanya kalau ketemu lagi mau langsung gaspol minta nomornya, alamat rumah juga haha.. eh malah udah nyerah aja.'' cerita Fryan sembari mengingat ekspresi Bagas kala itu.
Jantung Dini terasa berdebar kencang, ia teringat di suatu waktu, waktu yang sudah berlalu sangat lama di pameran buku, ia berlari-lari lalu tidak sengaja menabrak laki-laki muda.
''Apa yang di maksud itu aku? kenapa aku benar-benar melupakan kejadian itu, bahkan ketika bertemu dengan Bagas waktu pertama kali, aku tidak ingat sama sekali..'' batin Dini sembari terus menunduk.
Fryan mengernyitkan keningnya menatap sang istri yang tidak merespon ceritanya.
''Sayang..'' panggil Fryan.
''Hah iya?'' jawab Dini dengan ekspresi yang kaget.
''Kamu ngelamun?''
''Nggak kok, aku dengerin cerita kamu..'' jawab Dini lalu mengembangkan senyum di wajahnya.
''Semua itu kan sudah berlalu, memang bukan jodohnya Bagas.'' imbuh Dini.
''Iya sayang.''
''Tidur yuk..'' ajak Fryan.
Mereka langsung membenarkan posisi tidurnya dengan saling memeluk.
Dini memejamkan kedua matanya perlahan, namun pikirannya masih kembali ke masa itu.
''Kenapa dunia ini sempit?'' batinnya.
''Tapi, sejauh ini Bagas nggak aneh-aneh, dia tetap biasa saja, itu artinya dia sudah move on. Tapi.. kalau sampai Fryan tau, pasti dia akan marah dan aku tidak mau melihat keakraban mereka yang sudah lama terjalin dengan sangat baik menjadi retak gara-gara aku.'' Dini terus bimbang, hatinya bermonolog dengan mata tetap terpejam.
Sementara itu, Fryan menatap kedua mata sang istri yang nampak jelas belum tidur. Terlihat masih bergerak kesana kemari dan dipejamkan dengan paksa.
__ADS_1
Fryan menangkap reaksi terkejut dari sang istri saat ia menceritakan pertemuan Bagas dengan seorang gadis.
''Aku akan cari tau kebenarannya.'' batin Fryan lalu melepaskan pelukannya dan turun dari ranjang lalu mengenakan pakaiannya kembali.