
''Ayah apa kabar?'' tanya Dini setelah mereka di dalam mobil.
''Ayah sehat banget Kak, Alhamdulillah.. mau kawin lagi kayaknya.'' jawab Fryan sambil menghidupkan mesin mobilnya.
''Nikah? serius?'' tanya Dini.
''Kayaknya sih, akhir-akhir ini sering ngode-ngode gitu..'' jawab Fryan.
Dini menatap heran dengan ekspresi Fryan yang tampak biasa saja, karena ia tau jika selama ini Fryan sangat menentang keras jika sang ayah untuk menikah lagi.
''Lalu kamu?'' tanya Dini hati-hati.
''Sekarang terserah ayah aja Kak, yang penting ayah bahagia, aku nggak mau egois.'' ucap Fryan menatap Dini sekilas.
Dini mengangguk.
''Kak Dini masih sering komunikasi sama kak Nita kah?'' tanya Fryan.
''Sering dong..'' jawab Dini sumringah.
Fryan kembali menoleh sekilas menatap Dini seraya tersenyum.
Dini langsung membuang muka menatap arah luar karena merasa canggung dengan tatapan Fryan.
''Kak Dini laper ya?'' tanya Fryan.
''Enggak tuh'' jawab Dini cepat.
''Ayolah Kak, jangan bohong, perut Kakak bunyi tuh..'' ujar Fryan sambil melirik perut Dini.
Spontan Dini menutup perut ratanya, bisa-bisanya gara-gara dorong motor yang baru beberapa meter sudah membuatnya di landa kelaparan lagi.
''Tuh kaaann.. kita mampir ke cafe ya Kak, Kakak pasti kangen kan?''
''Terserah kamu aja deh.'' jawab Dini pasrah.
Fryan kembali merespon dengan senyuman.
__ADS_1
-
Fryan dan Dini mampir ke cafe, Dini hanya menemui para karyawan sebentar untuk mengobati rasa rindu karena pengunjung sedang ramai, jadi tidak enak jika harus berlama-lama mengobrol.
Sedangkan Fryan sedang berbincang dengan juru masaknya.
''Nanti tolong di antar ke dalam ya..'' ujar Fryan dan di respon dengan jempol.
''Ayo Kak..'' ajak Fryan.
''Kemana? pulang?'' tanya Dini.
''Bantuin aku bikin laporan hehe '' jawab Fryan beralasan.
''Lah kan sekarang ini juga kamu yang buat, harusnya udah mahir dong..''
''Takutnya ada yang salah Kak, bantu di cek aja.'' jawab Fryan.
''Ya sudah ayok.''
Fryan membuka laptop dan menunjukkan hasil kerjanya kepada Dini, sementara Dini fokus mengkoreksi, Fryan malah asyik memandangi gadis di hadapannya ini.
''Udah bener nih.'' ujar Dini.
''Hah kok cepet sih Kak.. serius apa nggak tadi ngoreksinya?'' tanya Fryan yang terkejut karena suara Dini langsung memotong drama batinnya.
''Hmmm..''
''Hehe iya percaya Kakak, makasih ya..'' kata Fryan melihat ekspresi marah Dini.
Tok tok
Fryan langsung bergegas berjalan ke arah pintu dan menerima makanan serta minuman yang ia pesan tadi.
''Terimakasih.'' ucapnya.
Fryan kembali masuk ke dalam dengan mendorong pesanannya.
__ADS_1
''Ini favorit Kak Dini kan?'' tanya Fryan.
Wajah Dini sangat berbinar, perutnya semakin keroncongan melihat menu lezat di hadapannya, steak.
Dini merasa steak disini sangat cocok dengan lidaknya.
Di tempat lain rasanya tak kalah enak, tetapi balik lagi semuanya sesuai dengan selera masing-masing.
''Wah rindunya..'' gumam Dini lirih, tetapi Fryan masih bisa mendengar suara itu.
''Jangan sungkan-sungkan buat sering kesini Kak.'' ucap Fryan.
''He'em.'' jawab Dini karena posisi masih mengunyah.
Beberapa menit mereka menikmati makan sore yang tidak di rencanakan.
Kebahagiaan yang sangat besar untuk Fryan, akhirnya bisa kembali berdekatan dengan Dini.
''Makasih ya Fryan.'' ucap Dini setelah menghabiskan makanannya.
''Jangan canggung Kak, aku masih seperti yang dulu, Kapri nya kak Dini.'' ujar Fryan.
Dini hanya tersenyum kecut karena dia merasa canggung, bahkan untuk memanggil Fryan dengan sebutan Kapri rasanya bibir terasa berat.
Dini merasa hpnya berdering di dalam tasnya, dengan cepat ia mengambil sebelum nada dering itu berakhir.
''Iya Bu sebentar lagi jalan, masih mampir makan.'' jawab Dini pada sambungan telepon.
''Iya Bu..''
Setelah selesai berbicara, Dini kembali memasukkan hpnya ke dalam tas.
''Ibu nanyain ya Kak?'' tanya Fryan.
''Iya.''
''Ya sudah ayok, ibu pasti nungguin.''
__ADS_1
Dini dan Fryan beranjak dari tempat duduk dan pergi meninggalkan cafe tersebut.
''Padahal masih pengen banget berduaan sama Kak Dini, hmmm ibu...'' batin Fryan menggerutu.