Menikah Dengan Adik Sahabatku

Menikah Dengan Adik Sahabatku
MDAS 7 : Ciuman Pertama


__ADS_3

Para tamu langsung fokus kepada Dini dan Fryan, jika Fryan nampak sumringah, beda halnya dengan Dini, wajahnya sudah memerah karena malu mendapat tepuk tangan dari banyak orang.


''Cie ciee''


''Cocok bro!!''


''Serasiiiii..''


Berbagai suara-suara yang tertuju pada Dini dan Fryan.


''Sepertinya masih ada yang malu-malu, mari kita kembali fokus pada acara ini,'' Ucap MC dengan suara meledek.


.


Acara berjalan lancar, bunga yang tadi diperebutkan Fryan dan Dini akhirnya berada di tangan Dini karena Fryan mengalah.


''Kak Dini nggak pengen nginep di hotel aja? kelihatannya Kakak sangat lelah,'' selidik Fryan.


''Pulang aja Pri, lagian sama aja capeknya, kalau kamu capek nggak papa Kakak pesen taxi online aja, kamu istirahat,'' ujar Dini kemudian tersenyum.


''Eiittsss tidak bisa!! Kak Dini adalah tanggung jawabku dunia dan akhirat,'' ujar Fryan membanggakan dirinya.


''Hilih gayamu Pri.. Kapri,'' Dini menepuk punggung Fryan.


''Ini tangan nggak boleh kebiasaan buat mukul,'' protes Fryan.


''Cuma buat mukul kamu Pri.. kamunya juga mancing-mancing buat di tabok, di jewer, hmmm dan lainnya deh..'' kata Dini tak mau kalah.


Fryan menghela nafasnya, gemas rasanya melihat sikap kakak ketemu gedenya itu.


''Aku kasih contoh kegunaan tangan,'' ujar Fryan lalu menghadap kepada Dini.


''Begini.. terus gini..'' Fryan memajukan langkahnya lalu mengarahkan tangannya untuk menelusuri wajah Dini.


Dini sangat syock mendapat sentuhan dari adik ketemu gedenya itu, bahkan tatapan Fryan terasa sangat dalam, jarak mereka begitu dekat.


''KAPRIIII!!! JANGAN NGELUNJAK!!!'' Seru Dini lalu lagi-lagi mencubit pinggang Fryan.


''Aww sakit Kakak.. baru juga dicontohkan,'' pekik Fryan sambil mengusap pinggangnya.


''Makanya jadi adek nggak boleh nyebelin..''


''Udah ah ayok antar Kakak pulang, jadi nggak nih?'' kata Dini.


''Iya jadi, ayok sayang kita pulang haha..'' Fryan merasa kaku hingga terkekeh sendiri, namun tetap nekat lalu merangkul pundak Dini.


''Lepasin Pri.. malu dilihat orang-orang..'' protes Dini sambil berusaha melepaskan tangan Fryan yang berada di pundaknya.


Fryan semakin kuat.


''Biarin Kakak, aku nggak peduli, cuma ngerangkul aja, bukan nyium,''

__ADS_1


''Apa mau di cium nih biar dilihat orang-orang?'' goda Fryan.


''Tonjok nih!'' Ancam Dini sudah mengepalkan tangannya di hadapan Fryan.


Fryan kembali terkekeh, mereka berjalan menuju mobil milik Fryan.


Dengan sigap Fryan membukakan pintu untuk Dini.


Perjalanan baru beberapa menit, Dini sudah tertidur, ia benar-benar kelelahan karena ikut sibuk dengan acara sahabatnya sampai waktu istirahatnya sendiri sangat kurang.


Jarak hotel tempat acara ke rumah Dini lumayan jauh, sehingga membutuhkan waktu lumayan lama, apalagi Fryan sengaja mengurangi kecepatannya agar bisa berlama-lama dengan Dini.


''Tidur aja tetep cantik,'' gumam Fryan menatap Dini sesaat lalu kembali fokus pada kemudi.


Beberapa kali Fryan menguap karena juga mengantuk.


''Nggak baik nih kalau dipaksa nyupir, mana kagak ada yang ngajakin ngobrol lagi..''gumamnya.


Fryan memilih untuk mencari jalanan yang sepi, ia akan istirahat terlebih dahulu dan akan memejamkan mata beberapa menit agar ngantuknya berkurang.


Baru saja Fryan menepikan mobilnya, Dini bergerak dan merubah posisi menjadi menghadap Fryan, tetapi ternyata ia masih tidur.


''Kak Dini benar-benar lelah ya.. maafin kami ya Kak.. suatu saat kesibukan itu untuk acara kita.'' ucap Fryan lirih lalu tersenyum.


Melihat wajah gadis yang ia cintai tertidur membuatnya terus menghela nafas.


''I love you Kak Dini''


CUP


''Maafin aku Kak..'' batin Fryan.


Fryan berusaha memejamkan matanya untuk mengurangi rasa ngantuk yang terasa sangat berat.


.


''Kapri bangun, Kaprii!!!'' Dini terus menggoyang-goyangkan tubuh Fryan agar bangun.


''Kapriiii''


''Hah iya ada apa?!'' Fryan terkejut lalu mengusap wajahnya.


''Kak Dini sudah bangun?'' tanya Fryan.


''He'em, kalau kamu ngantuk kenapa sih maksa nganterin Kakak?'' protes Dini.


''Aku kan sudah bilang kalau Kakak itu tanggung jawabku, coba kalau tadi kakak naik taksi, baru beberapa menit aja udah tidur, kalau Kakak dijahatin gimana? di apa-apain gimana?? mending akulah yang ngapa-ngapain ke Kakak..'' cerca Fryan.


''Ngomong apa sih.. jadi sekarang masih ngantuk?'' tanya Dini.


''Udah enggak, lihat Kakak jadi seger lagi,'' goda Fryan.

__ADS_1


''Bisa ae bocil..'' celetuk Dini.


Fryan melanjutkan perjalanan dan sempat mampir ke sebuah minimarket untuk membeli minuman.


Karena sudah sama-sama kembali segar, Dini dan Fryan terus saja bercerita selama perjalanan, sampai tidak terasa sudah tiba di depan gerbang kediaman Dini.


Dini langsung hendak membuka pintu mobil, tetapi langsung di cegah oleh Fryan.


Ia meraih tangan Dini, tatapannya lekat dan mendalam, jantungnya berdebar, Dini juga terkejut apalagi Fryan semakin mendekatkan wajahnya ke arah Dini.


Dini memundurkan kepalanya tetapi malah terbentur kaca jendela sehingga membuatnya meringis kesakitan.


''Jangan macam-macam Kapri!'' seru Dini yang sudah tidak bisa bergerak lagi.


Fryan tidak peduli, ia ingin segera mendapatkan sesuatu.


Fryan meraih tengkuk Dini yang sudah ketakutan.


Jarak mereka sekarang sangat dekat, bahkan tidak sampai 5 cm.


''Kapri..'' lirih Dini.


''Kakak tadi bilang malu dilihat orang-orang, sekarang kita hanya berdua, nggak malu lagi kan? bahkan Kak Nita aja sekarang sedang proses membuat anak,'' lirih Fryan.


Deru nafas keduanya saling bertautan, sama-sama deg-degan.


Dini membulatkan kedua matanya sempurna saat bibir Fryan menempel di bibirnya.


Fryan memejamkan kedua matanya lalu m3lum4t bibir Dini dengan lembut, Dini sangat syock sehingga hanya diam tak bergeming.


Hanya beberapa detik karena Dini lalu menunduk.


''Lepas! Kakak mau masuk.'' Ucap Dini lirih sambil berusaha melepaskan tangan Fryan yang menahannya.


''Maaf Kak, jangan benci aku, ini ciuman pertamaku, aku cinta sama Kakak..'' Fryan sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi.


Dini terkejut namun hanya terdiam memikirkan ucapan Fryan yang terasa aneh.


''Aku telfon ayah dulu biar dibukakan gerbangnya,'' ujar Fryan, Dini hanya terdiam.


Setelah menghubungi ayah Dini dan tak lama kemudian ayah terlihat keluar rumah dengan membawa sebuah kunci.


''Jangan mikir yang macam-macam Kak, aku lega bisa ungkap perasaan ini, rasa yang sudah sangat lama aku pendam,''


CUP


Fryan kembali mencium pucuk kepala Dini, bedanya sekarang Dini dalam keadaan sadar.


Fryan kemudian langsung turun dari mobil, belum sampai ke pintu penumpang, Dini sudah turun terlebih dahulu.


''Maaf Yah pulangnya kemalaman, saya langsung pamit ya..'' ucap Fryan.

__ADS_1


''Terimakasih ya nak, hati-hati..''ujar ayah, sementara Fryan mengangguk.


Menatap kepada gadis itu sekilas kemudian tersenyum, tetapi Dini langsung membuang muka, ia masih sangat syock dengan kejadian tak terduga malam ini.


__ADS_2