
''Jadi gimana Yah? sekarang sudah boleh kan?'' tanya Fryan memulai percakapan setelah selesai menyantap makanannya.
''Boleh apanya?'' tanya ayah Wildan sambil mengusap mulutnya dengan tisu.
''Kita pindah rumah Yah.'' jawab Fryan.
''Duhh penganten baru emang gitu ya, nggak sabaran..'' timpal Bu Hasni meledek anak-anaknya.
''Iya nih Bu besan, sepertinya mereka pengen cepet-cepet kasih cucu ke kita.'' canda ayah Wildan juga nggak mau kalah.
''Bisa-bisa adiknya Fryan sama anaknya Fryan lahirnya barengan nih nanti haha seru-seru..'' sahut ayah Wahyu.
''Duh Mas jadi salah ngomong, malah kejebak sendiri.'' timpal mama Tia malu.
Semua langsung terkekeh.
''Haha fokus ke anak kita aja.'' ucap ayah Wildan.
''Kalian serius? kamu yakin sudah baik-baik aja?'' tanya ayah Wildan menatap putranya.
''Iya Yah aku sudah sehat, lagian itu rumah nanti jadi horor kalau nggak di tempati.'' jawab Fryan beralasan, padahal ia sudah mempercayakan Bagas untuk menjaga dan merawat rumahnya agar tidak kosong dan kotor.
''Ya terserah kalian sih, gimana kalau menurut besan?'' tanya ayah Wildan lalu beralih menatap kedua besannya.
''Kita terserah anak-anak aja pak Wildan, kalau saran saya sebagai ibu ya yang penting Dini harus patuh sama suaminya, selagi hal positif loh ya..'' jawab Bu Hasni.
''Iya kan Yah?'' tanya Bu Hasni mencari persetujuan kepada suaminya.
"Betul sekali." jawabnya tanpa ragu.
''Ya sudah kalau semuanya sudah setuju, tinggal anaknya aja nih..'' ujar ayah Wildan.
''Besok aja ya Yah.'' jawab Fryan cepat.
__ADS_1
''Tapi, ngomong-ngomong kenapa sih kalian nggak mau bikin resepsi?'' tanya ayah Wildan penasaran.
Iya, beberapa hari setelah Fryan keluar dari rumah sakit, Fryan dan Dini langsung menyelesaikan persyaratan untuk melengkapi dokumen pernikahan mereka ke KUA.
Namun, mereka memutuskan untuk tidak meresmikan pernikahan mereka secara ramai.
Keputusan mereka sudah bulat atas kesepakatan Dini dan Fryan sendiri.
Mereka hanya menggelar acara syukuran sederhana di kediaman orangtua Dini dengan mengundang warga sekitar dan beberapa teman akrab dari keduanya yang tidak tinggal diluar kota.
Kejadian hari itu tidak mungkin terlupakan bagi Dini dan Fryan, meskipun Fryan merasa bahagia karena sudah menikah dengan Dini dan ingin menjadi raja dan ratu sehari, tetapi ia tetap memiliki rasa khawatir yang sangat tinggi.
Mereka menolak untuk menindaklanjutkan kasus itu, karena status sosial mereka yang jauh berbeda. Meskipun Dini dan Fryan juga bukan dari masyarakat kurang mampu, tetapi jika dibandingkan dengan keluarga Dito tentu sangatlah jauh.
''Kita sudah sangat sepakat untuk sederhana seperti ini aja Yah, yang penting harmonis.'' jawab Fryan lalu menoleh ke arah istrinya untuk mencari persetujuan.
''Aamiin..'' jawab orangtua mereka kompak.
''Iya Yah terimakasih.''
..
Keesokan pagi, Fryan sudah bersiap-siap dengan pemindahan, kedua orangtua mereka juga turut mengantar.
Tidak banyak barang yang di bawa karena di dalam rumah Fryan sudah ada perlengkapan meskipun belum terlalu lengkap, sedangkan mereka hanya perlu membawa pakaian saja.
''Ini bukan kali pertama aku kesini.'' batin Dini setelah menginjakkan kembali kakinya di depan rumah Fryan.
''Lagi nostalgia ya?'' goda Fryan sambil menyenggol bahu istrinya.
''Dih apaan!'' cibir Dini lalu berputar arah ke belakang mobil.
Fryan terkekeh menatap istrinya yang salah tingkah.
__ADS_1
Ayah dan ibu memandangi kediaman menantunya yang tak biasa.
''Ini rumah apa toko Yah?'' tanya ibu sembari mengitari pandangan.
''Coba tanya sama anaknya langsung.'' jawab ayah.
Melihat anak menantu membuka bagasi mobil, ayah Wahyu langsung cekatan membantu menurunkan koper-koper tersebut.
''Eh Yah jangan, biar aku aja.'' ujar Fryan terkejut dan merasa tidak enak.
''Udah biar ayah aja, tangan kamu belum boleh angkat berat, ini berat banget loh.. tadi pas masukin juga pak besan kan? kamu bawa yang ini aja.'' ujar ayah tetap memaksa sembari menurunkan koper berukuran sedang untuk di bawa menantunya.
Fryan hanya bisa nyengir karena yang dikatakan ayah mertua memang benar adanya.
''Jadi nak Pryan bikin rumah disini?'' tanya ibu mulai kepo.
''Iya Bu, sekalian rencananya buka usaha disini, tapi, karena kejadian kemarin jadi sempat berhenti dulu.'' jawab Fryan.
''Nggak papa, pelan-pelan ya nak, Ibu cuma bisa mendo' akan kamu cepat sehat, usahanya lancar semua, maafin kak Dini kalau belum bisa jadi istri yang baik buat nak Pryan.'' ucap ibu.
''Aamiin.. terimakasih Bu, Dini sudah berusaha menjadi istri yang baik kok Bu.. justru aku yang harus belajar gimana jadi suami siaga, suami yang sehat seperti ayah-ayahku.'' ujar Fryan lalu tersenyum.
''Nak Pryan pasti bisa.'' ucap Ibu lalu mengusap punggung anak menantunya.
''Aamiin.. ohya Bu, aku boleh minta tolong sesuatu nggak?'' tanya Fryan.
''Apa tuh?''
''Dini sekarang istriku loh Bu, bukan Kakak hehe..'' ujar Fryan lalu terkekeh.
''Ah iya Ibu masih suka lupa, maap ya nak Pryan.'' ujar Ibu.
''Hehe aman Bu.''
__ADS_1