
''Kenapa mukamu kusut amat Dek?'' tanya Nita memperhatikan ekspresi wajah Fryan.
''Hah masa sih? perasaan biasa aja, masih tetap tampan dan gagah..'' jawabnya percaya diri.
''Idih jadi nyesel udah nanyain.'' umpat Nita.
''Siapa suruh kepo huuuu..'' sorak Fryan, padahal hatinya menjerit karena ekspresi wajahnya tidak bisa berbohong.
''Sudah-sudah, abisin sarapannya, kasian Dini udah di tunggu ayah ibunya..'' ucap ayah memotong perdebatan putra putrinya.
''Maaf ya nak, jadi ngerepotin..'' ujar ayah kepada Dini.
''Nggak papa Yah, aman..'' jawab Dini lalu kembali menyendok nasi goreng buatan Nita.
''Gimana nggak kusut coba? ah kalian tidak mengerti, dan mana mungkin juga aku akan cerita..'' gerutu Fryan dalam hati sambil menyantap makanannya.
Fryan melirik ke arah Dini yang fokus dengan nasi goreng di piring, ia hanya mendengus kesal mengingat mimpinya, namun sakitnya di dunia nyata.
--
''Pamit dulu ya Yah, di tunggu kabar bahagia selanjutnya hehe..'' goda Dini.
''Jadi, Ayah dulu apa kamu dulu nih haha...'' goda ayah balik.
''Barengin juga boleh..'' sahut Fryan.
''Emang Dini sudah ada calonnya?'' tanya ayah pura-pura.
''Lah Ayah pake nanya.. ini calonnya anak ayah yang paling cakep.'' jawab Fryan sambil menepuk dadanya dengan bangga.
''PD bener..'' sergap ayah.
''Ayah, Fryan.. pada ngomongin apa sih..'' Dini menjadi kikuk namun tidak mencurigai.
''Haha canda sayang..'' ujar Ayah.
''Yaudah kalian hati-hati ya, titip salam untuk keluarga..'' ujar ayah.
''Oke Yah, makasih dinner nya.. Dini pamit dulu, assalamu'alaikum..'
''Sama-sama, terimakasih juga sudah mau hadir untuk Ayah.. Wa'alaikumussalam..''
Dini mengangguk lalu masuk ke dalam mobil di ikuti Fryan, sedangkan Aldo dan Nita sudah menunggu disana.
Aldo mengendalikan kemudinya dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan yang ramai.
''Sayang, nanti mampir ke toko buah dulu ya..'' ujar Nita kepada suaminya.
''Emang mau jenguk orang sakit?'' tanya Aldo polos.
''Hiss kamu ini.. emang bawa buah cuma buat jenguk orang sakit aja kah?
__ADS_1
Buah itu kan sehat..'' jawab Nita kesal.
''Hehe maaf sayang, iya nanti stop di toko buah sana ya, biar enak nggak pake nyebrang.'' ucap Aldo lalu mengusap pipi istrinya.
''Panas ya bund...'' timpal Fryan di bangku penumpang sambil menatap arah luar.
''Ya ampun sampai lupa ada orang di belakang, maaf ya mbloo..'' ledek Nita.
''Biasa aja ngomong mbloo nya, nggak perlu di tekeninn..'' cibir Fryan.
''Hahaha maaf ya adikku dan juga sahabatku yang makin cantik..'' kata Nita kemudian terkekeh.
''Hmmmmm'' jawab Fryan dan Dini bersamaan.
''Dih kompak amat..'' timpal Aldo masih dengan fokus menyetir, tapi, telinganya mendengar kemana-mana.
''Kebetulan bang..'' sahut Dini.
''Jangan-jangan kita jodoh ya bang?'' tanya Fryan pura-pura polos.
''Masa sih Fry? yakin banget lu? kasian Dini sih kalau gue jadi emaknya..'' sahut Aldo ikut berakting.
''Dih emang kenapa?''
''Ya lu masih kayak bocah gitu haha..'' ejek Aldo.
''Sumpah jahat yang kelewatan.. bocah-bocah gini bisa loh bikin bocah, siap nafkahi lahir dan bathin.. banggain gue napa Bang? masa iya di depan ceweknya lu jatuhin gue gitu.. ah nggak seru nih bang Aldo..''
''Dih pikiranmu bikin bocah aja..'' sahut Aldo.
''Haha maap Din..'' ujar Aldo.
Aldo menepikan mobilnya di pinggir toko buah untuk mencari oleh-oleh yang akan dibawa ke rumah Dini.
Semua ikut turun, tadinya Nita melarang dengan maksud agar adik dan juga sahabatnya itu berdua di dalam mobil, tapi, Dini tidak mau.
--
''Ibuuuu, Nita kangen.'' Nita langsung menghamburkan pelukannya ke ibu Hasni.
''Ibu juga kangen sama anak wedok yang sudah menjauh ini..''
''Ibu sehat kan? ayah mana?'' tanya Nita sambil celingukan.
''Alhamdulillah sehat banget nih, nambah melebar hihi..''ujar ibu lalu menutup mulutnya.
''Ayah kalian tadi lagi nganterin pesenan..'' imbuhnya.
''Ohh.. Makin empuk ya Bu..''
''Oh ya jelas.. ayok sini masuk semuanya..'' ajak Ibu, sementara Dini sudah berada di dapur langsung membuatkan minuman.
__ADS_1
Sementara di dapur, Dini sedang menata beberapa gelas dan juga beberapa wadah kue.
Ia membiarkan Nita temu kangen dengan ibunya, setidaknya rasa syukur itu yang selalu tertanam di dalam hatinya melihat kedua keluarga mereka bisa akrab.
Kasih sayang dari kedua orangtuanya yang tidak membeda-bedakan bisa mengobati rasa rindu sahabatnya itu akan adanya sosok ibu.
''Hai sayang..'' bisik Fryan tiba-tiba berhasil mengagetkan Dini.
Cup
''FRYAN!! BUG!'' pekik Dini reflek melayangkan sebuah tinjuan di perut Fryan.
''Aw galak bener calon istriku..'' pekik Fryan sambil memegangi perutnya yang baru saja mendapat hadiah tinjauan reflek dari Dini.
Dini sedang fokus memotong kue, sehingga tidak menyadari ketika tiba-tiba Fryan datang mendekati dan berkata sangat dekat di telinganya, ia yang terkejut langsung menoleh, tetapi jaraknya yang sangat dekat membuat Fryan langsung mencium bibirnya sekilas tanpa ragu.
''Sukurin!!'' kata Dini cuek.
''Mundur! awas nekat lagi! pisau ini melayang!'' imbuhnya dengan mengacungkan sebuah pisau yang ia gunakan untuk memotong kue.
''Iya-iya hehe.. itu balasan karena Kak Dini bikin pantatku sakit.'' ucap Fryan.
Dini mengernyitkan keningnya bingung.
''Kan yang di tinju perutmu, itupun kamu yang kurang ajar duluan tadi..'' gerutu Dini tidak terima.
''Bukan yang tadi, pokoknya kak Dini harus tanggung jawab..'' bisiknya.
''Nggak jelas! sekarang bantuin Kakak bawa ini semua ke depan..''
''Oke calon istri..'' jawab Fryan sigap.
Dini tak peduli, ia langsung berjalan terlebih dahulu ke depan sambil membawa satu nampan berisi beberapa gelas minuman.
''Eh Ayah sudah datang..'' kata Dini meletakkan minuman terlebih dahulu langsung menyalami ayahnya.
''Iya sayang, barusan..'' jawab ayah.
Mereka saling mengobrol untuk bertukar cerita, hingga tak terasa matahari semakin meninggi.
''Ayah, Ibu, Dini.. kita pamit dulu ya..'' ujar Nita.
''Terimakasih ya sayang sudah menyempatkan waktu kesini..'' ujar Ibu.
''Sama-sama Bu..''
''Kak Dini ikut lagi yuk, nanti aku antar.'' sahut Fryan karena membayangkan dirinya akan menjadi obat nyamuk kakaknya di dalam mobil.
''Hehe canda..'' imbuhnya, karena mendapat injakan di kakinya dari Nita.
Ayah dan ibu menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Fryan.
__ADS_1
''Ya sudah kita pamit dulu, sampai ketemu lagi dilain waktu..'' pamit Nita.
Ibu, Ayah, dan juga Dini mengantar mereka sampai depan, setelah mobil menghilang dari pandangan, mereka kembali ke dalam rumah.