
"Dimana nih?'' Dini langsung terperanjat duduk seraya kedua bola matanya mengitari ruangan itu.
Mencari-cari ponselnya namun tak kunjung ketemu, lalu melihat di dinding jam menunjukkan pukul 03.25 dinihari, pantas saja belum terlihat sinar matahari yang masuk ke celah gorden.
''Kayak kenal ruangan ini? tapi, dimana? Oh TIDAK!!!!" pekiknya dengan suara pelan.
Dini langsung bernafas lega ketika memperhatikan pakaiannya masih utuh.
Nyawanya belum seratus persen kembali sehingga membuatnya belum mengingat ruangan itu.
"Kok sudah bangun?"
Dini langsung tersentak saat tiba-tiba mendengar suara lirih itu.
"Fry-" Ucapnya terpotong karena mendapat bungk4man dari Fryan.
"Jangan teriak, nanti malah pada kebangun dan tau kalau aku disini, kakak mau?" bisik Fryan
"Ini dimana?" tanya Dini ikut berbisik.
"Di rumah ayah Wildan, minum dulu ini biar inget semalem ngapain aja dan dari mana aja.." ujar Fryan memberikan segelas air minum yang ia bawa tadi malam sebelum menyelinap ke kamar tamu.
Dini menerima gelas tersebut dan langsung meneguknya hingga sisa setengah.
"Oh iya ini kamar tamu." gumam Dini mulai sadar.
"Dan kamu ngapain disini?!" Dini kembali bersuara pelan, tapi terdengar nada kesal.
"Nemenin kak Dini." jawab Fryan santai.
"Kamu gila ya.. kalau ketahuan gimana? mereka pasti nilai kakak ini perempuan nggak bener.." gerutu Dini kesal.
Sedari tadi Fryan duduk agak berjarak, namun sekarang semakin mendekat.
"Jangan pernah mengatakan diri kakak perempuan nggak bener, ini salah aku.. cuma Kakak yang berhak menerima setiap s3ntuhanku, begitupun juga Kak Dini, hanya aku yang boleh.." ujar Fryan lirih.
Dini hanya terdiam dan tidak berniat menjawab, ia masih bingung.
"Lebih baik sekarang kamu keluar dari kamar ini." usir Dini.
"Eh bentar-bentar.. terus semalem kamu tidur disini?!" tanya Dini dengan menunjuk kasur.
Fryan mengangguk tanpa ragu.
"Emang mau dimana lagi?" tanyanya santai seperti tanpa dosa.
__ADS_1
Dini langsung melotot tak percaya bahwa semalam ia tidur satu ranjang dengan Fryan.
"Hahaha enggak sayang, aku tidur di sofa, tuh.." tunjuk Fryan pada sebuah sofa.
"Huffftt" Dini bernafas lega.
"Sekarang kamu keluar dari sini.." usir Dini dengan mendorongkan kakinya ke arah Fryan.
"Awwh.." Fryan kembali memekik, tetapi ekspresinya berbeda.
"Maaf.." ucap Dini.
Suasana yang remang-remang membuat Dini tanpa sadar saat mendorong kakinya menyentuh area sensitif Fryan sehingga membuat Fryan reflek mengeluarkan suara yang tak biasa.
Fryan tidak menjawab, ia terus menatap Dini penuh arti, sedangkan Dini terus bergerak mundur hingga membentur sandaran ranjang.
"Jangan macem-macem, aku nggak sengaja, maaf.." lirih Dini sambil menutupi wajahnya.
"Ohya masa?? sengaja juga nggak papa sayang.." bisik Fryan di telinga Dini, hembusan nafas itu terasa mengerikan bagi Dini.
"Beneran nggak sengaja, mundur.." usir Dini.
"Jangan berisik, nanti pada bangun.." bisik Fryan, ia membuka kedua tangan Dini.
Dini tidak bisa menjawab, mulutnya seperti terkunci, bahkan ia sudah tidak bisa bergerak kemana-mana karena Fryan sedang menguasainya dengan pelukannya.
Fryan kembali menyusuri setiap lekuk wajah mulus Dini dengan jemarinya dan menyembunyikan anak rambut di belakang telinga.
Dini merutuki dirinya sendiri dalam hati karena tidak bisa berontak dan melawan.
Bahkan tatapan mereka hanya berjarak sekitar tiga centimeter saja.
"Fry-"
Fryan langsung menyergap bibir Dini yang sedikit terbuka karena akan menyebutkan namanya.
Dini terus memukuli dada Fryan yang tidak bergeming.
Fryan seperti kehilangan akal sehat, ia terus memperkuat c1um4nnyaa hingga membuat tubuh Dini terus terpersor0t ke bawah dan menjadi merebah.
Fryan semakin dibuat menggila saat melihat tubuh Dini semakin ke bawah, padahal itu juga ulahnya.
Bahkan ia tak mempedulikan Dini yang terus memukuli dan mendorongnya.
Kini Fryan berpindah posisi berada diatas, tangan kanan ia gunakan untuk menopang tubuhnya, sedangkan tangan kirinya untuk menahan perlawanan Dini.
__ADS_1
"Please sayang, balas.." bisik Fryan menggoda Dini.
Dini hanya melengos dan tanpa sengaja malah memperlihatkan lehernya yang mulus dalam cahaya yang tak seberapa, tetapi cukup membuat Fryan menelan saliva.
Fryan menurunkan bibirnya, menghirup aroma di leher yang memabukkan itu.
"Ah... wangi sekali sayang.."
Fryan merasa lelah dengan posisinya langsung merebahkan tubuhnya di samping Dini, memeluk gadis itu dan memaksa agar menghadapnya.
"Dulu kita pernah tidur bertiga sama kak Nita, sekarang latihan berdua ya sayang.." ujar Fryan lalu mengecup bibir Dini sekilas.
"Lihatlah pensilku sudah keluar, dia butuh rautan agar semakin runcing." bisik Fryan menunjukkan masa depannya kepada Dini, tetapi Dini langsung melengos.
Fryan langsung beranjak dan melepaskan pakaiannya tanpa rasa malu.
Dini membelalakkan kedua matanya tak percaya.
"Jangan macem-macem Fryan! jangan kurang ajar!"
"Aku sudah nggak tahan selalu mendapat penolakan, sekarang saatnya aku mendapatkan apa yang ku mau darimu sayang, mau lari kemana hem?"
"FRYAN!"
"FRYAN!"
Dini mendorong tubuh Fryan dengan sekuat tenaga.
BUGG
"ADAUUHH b0kongku.." rint!h Fryan sambil mengusap bok0ngnya yang jatuh dari tempat tidur.
"Kak Dini.. Dimana kak Dini? kok nggak ada?"Fryan panik mencari keberadaan Dini yang tiba-tiba menghilang.
Fryan memijat pelipisnya lalu berjalan menyalakan lampu kamar.
"Astaga ini kamar gue.. artinya tadi itu mimpi dong.. sialan mimpi doang! eh jatuhnya beneran lagi!" gerutunya.
"Sakit banget bok0ng gue.." gumamnya sambil mengusap-usap bok0ngnya sendiri.
Author : "Hahahahahahahahahaha kasian sekali
engkau Afryan🤣"
Afryan : "Awas lu Thor 😏"
__ADS_1