
''Sudah enakan kok, makasih.'' ucap Dini.
Fryan menyudahi aktivitasnya dan menurunkan kaki Dini dengan pelan.
''Beneran udah enakan?'' tanya Fryan memastikan.
''Iya.''
''Ohya, jadi jadwal kita ngapain sekarang?'' tanya Dini.
''Kita istirahat dulu ya.. atau kamu mau jalan kemana? ke mall?'' tanya Fryan.
''Enggak, besok masih perjalanan lagi takut kecapekan.'' jawab Dini.
Senyum terpancar di wajah Fryan, ia juga tidak ingin membuat sang istri kelelahan dan bersyukur karena sang istri tidak ingin kemana-mana.
Namun, jika tadi Dini mengatakan ingin berjalan-jalan, tentu saja ia akan menuruti.
''Tapi, nanti malam abis isya kita dinner ya sayang..'' ujar Fryan memberitahu sang istri.
''Kalau nggak dinner ya laper dong..'' sahut Dini.
''Haha bukan dinner biasa sayang, pokoknya nanti malam kamu dandan ya..'' pinta Fryan.
''Ohh..''
Bukan Dini tidak maksud dengan apa yang dibicarakan oleh Fryan. Namun, ia yang belum bisa menenangkan jantungnya berusaha untuk menutupi seolah jantungnya baik-baik saja.
Di tengah-tengah perbincangan mereka, ada seseorang yang datang, ternyata petugas hotel mengantar pakaian yang akan mereka kenakan nanti malam.
Fryan menatap pakaian itu dengan seksama, rasanya sudah tidak sabar menunggu malam hari, lalu menunjukkannya kepada Dini.
''Kamu menyiapkan semuanya?'' tanya Dini semakin terkejut.
''Dibantu kembar hehe''
''Wah wah waahhh.. ternyata kalian sekongkol..'' ujar Dini seraya menyipitkan matanya menatap Fryan.
''Hehe dikit sayang, tapi, kamu nggak marah kan? jangan marah ya?'' ucap Fryan memohon.
''Auk, mau mandi.'' ujar Dini lalu melenggang pergi.
Dini langsung berlari ke kamar mandi, mengunci pintu dengan rapat.
Jantungnya berdetak sangat kencang, ia terus berusaha menetralkan jantungnya dengan menghela nafas berulang-ulang.
Sedangkan Fryan tidak bosan menatap pakaian yang akan ia kenakan bersama Dini nanti malam.
..
Dini sedikit memoles wajahnya, meskipun begitu, ia tetap terlihat cantik.
Di tambah dengan dress yang ia kenakan, Dini terlihat sangat elegan.
Berulang-ulang Dini memutar-mutar di depan cermin untuk memastikan penampilannya.
''Kamu selalu cantik sayang..'' ucap Fryan lalu merengkuh pinggang Dini dan menc1um pipinya.
Pujian dari Fryan membuat Dini langsung tertunduk karena sudah merona malu.
''Ayo sayang..'' titah Fryan.
Dini mengangguk nurut dan melingkarkan tangannya di lengan Fryan.
Fryan dan Dini menuju ke tempat dinner.
Dini menutup mulutnya tidak percaya melihat apa yang ada di hadapannya.
Banyak lilin-lilin menyala di lantai dengan membentuk hati.
''Kamu?'' tanya Dini lirih.
Tak di pungkiri Dini sangat terharu dengan nuansa candle light dinner yang sudah di persiapkan oleh Fryan.
Fryan hanya mengangguk dengan senyum mengembang di wajahnya.
__ADS_1
''Boleh kok kalau mau peluk..'' goda Fryan lirih.
Untuk pertama kalinya, Dini langsung memeluk erat Fryan tanpa ragu mengucapkan terimakasih berkali-kali, air mata sudah memenuhi pelupuk matanya.
Menikmati makan malam romantis dengan pemandangan kota yang penuh cahaya di malam hari, sukses membuat suasana semakin romantis.
Di tambah dengan iringan musik yang semakin membuat berkesan.
Sesekali Fryan memberikan suapan potongan daging kepada Dini. Meskipun malu-malu, Dini tetap menerimanya dan berganti menyuapi Fryan.
''Sayang, bentar ya, bentaaarrr..'' Fryan langsung bergerak cepat pergi ntah kemana.
Dini yang duduk sendiri hanya bisa celingukan bingung.
Tiba-tiba dari arah belakang, Fryan datang dengan membawa bucket bunga yang indah.
Dini langsung spontan beranjak dari kursinya.
''I love you sayang.'' ucap Fryan lalu menyerahkan bunga.
Dini menerima bucket bunga tersebut dengan perasaan haru.
''Terimakasih.'' ucap Dini.
''Sama-sama sayang.'' jawab Fryan lalu menc1um kening Dini beberapa detik.
''Sayang, dansa yuk..'' ucap Fryan.
''Hah! dansa? aku nggak bisa..'' keluh Dini setengah berbisik.
''Sama aku juga belum pernah sayang, tapi, pas sebelum kesini sempat lihat-lihat tutorialnya di youtube hehe..''
''Mau ya sayang..'' pinta Fryan.
Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Dini memberikan anggukan setuju.
Awalnya sama-sama terkesan kaku, mereka berusaha menyembunyikan cekikikannya karena merutuki diri mereka sendiri yang kompak belum pernah tapi nekat.
Pelan-pelan pergerakan Fryan dan Dini semakin luwes.
Dansa amatiran di akhiri dengan pelukan, pengiring musik memberikan tepuk tangan kepada Fryan dan Dini.
..
Mereka sudah kembali ke kamar, Dini langsung melepaskan alas kaki dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka, tangan dan kakinya.
Setelah selesai langsung berjalan ke depan cermin untuk menyisir rambut.
Sementara itu, Fryan melepaskan jasnya lalu melangkah mendekati Dini.
''Eh''
Dini terperanjat saat tangan Fryan melingkar di perutnya dengan lembut.
''Sayang..'' bisik Fryan lalu menggigit kecil telinga Dini.
Dini tidak bergeming, ia hanya menatap suaminya lewat cermin di depannya, jantungnya terasa berdetak sangat kencang.
Fryan memutarkan tubuh Dini untuk menghadapnya.
Deru nafas mereka sangat dekat dan saling adu.
Dini spontan memejamkan matanya saat Fryan maju.
Fryan tersenyum melihat itu, ia langsung mencium Dini.
Malam yang sangat dingin membuat semangat Fryan membara.
Ia mengangkat tubuh Dini ke atas ranjang lalu mengungkungnya dan melanjutkan yang sempat terhenti.
''Boleh aku meminta hakku sekarang?'' bisik Fryan menghentikan aktivitasnya sekejap.
Tatapan penuh harap dari Fryan kepada Dini, keringat sudah membasahi keningnya.
Tentu saja Dini merasa sangat bersalah terus-menerus mengancam, ia merasa berdosa telah menolak hak yang seharusnya bisa Fryan dapatkan.
__ADS_1
''Ta-tapi.. aku takut.'' bisik Dini.
''Aku akan melakukannya dengan pelan sayang.'' bisik Fryan.
Fryan masih menunggu respon dari sang istri, jantungnya juga berdetak sangat cepat.
Tentu saja ini menjadi hal yang pertama bagi mereka.
''Lakukanlah..'' ucap Dini lirih pasrah.
Senyum bahagia mengembang di wajah Fryan.
''Terimakasih sayang.''
Dini reflek menutup matanya saat melihat tubuh polos sang suami. Meskipun sudah lama tidak berolahraga, otot-otot Fryan masih tetap terjaga dengan baik.
''Boleh di pegang sayang..'' bisik Fryan menggoda sang istri lalu terkekeh.
''Malu ih..'' gerutu Dini langsung duduk dengan tetap menutup matanya dengan telapak tangan.
Fryan melepaskan pakaian sang istri dan melemparnya ke sembarang arah.
Mereka sudah sama-sama tidak bisa mengontrol akal sehat.
Lagi-lagi jejak kepemilikan sudah Fryan cetak dan membuat kebanggaan baginya.
Dini hanya bisa menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara.
Tangannya mencengkram spray saat sang suami memainkan aset kembarnya.
Fryan mengangkat wajahnya, menatap wajah sang istri, ia tersenyum.
''Pengalaman pertama bagi kita, konon katanya akan terasa sakit bagi perempuan, maaf sayang..'' lirih Fryan.
Dini mengangguk dan siap-siap bertahan.
''Bisa-bisanya..'' batin Dini
Fryan menyapu-nyapu terlebih dahulu di depan pintu goa dengan aset kebanggaannya.
''Tahan sayang.''
Fryan mulai menghentakkan aset kebanggaannya pada sang istri.
Dini mengernyitkan keningnya menahan rasa sakit, airmatanya sudah tumpah merasakan sakit yang luar biasa.
''Sakit..'' rintih Dini dengan keringat dan airmata yang sudah bercampur.
''Maaf sayang hanya sebentar,..''
Fryan melanjutkan pompanya.
Permainan yang berawal sama-sama kaku dan tegang akhirnya berlanjut tanpa di sadari waktu semakin larut.
Fryan melepaskan pompanya saat melihat sang istri semakin lemas akibat perbuatannya.
Namun, senyum bahagia terpancar di wajahnya, ia sudah berhasil memasuki goa yang sangat sempit dan masih alami.
''Terimakasih sayang..'' ucap Fryan meng3cup kening sang istri lalu merebahkan tubuhnya di samping Dini.
Mereka saling memeluk tubuh yang masih sama-sama polos tanpa sehelai benang pun.
Fryan menambahkan volume AC dan mengurung tubuh mereka dengan selimut tebal.
''Terimakasih sayang, i love you..'' ucap Fryan lalu meng3cup bibir Dini dan memeluknya erat.
.
.
Huuuuuuhhhhhh
Othornya perlu mengumpulkan mental yang maksimal untuk menulis part ini🤭
Maaf part ini banyak yang dihapus, karena ditolak mulu🙏😢
__ADS_1