Menikah Muda

Menikah Muda
#Permintaan Maaf Rafif & Winda


__ADS_3

"Ibu" batin Rafif


Perjalanan menuju rumah Mahardika ditempuh lumayan lama.


"Kenapa mereka nyuruh kita kesana habis jam makan malam sih,lihat tuh macet banget lagi.."


Omelan Winda sama sekali tak di gubris Rafif sama sekali,Rafif hanya fokus dengan jalanan yang ada di depannya.


"Mas,kamu kenapa sih malah diem saja,ini macet lho mas !!" pekik Winda yang melihat suaminya tak merespon apapun.


"Terus aku harus apa Win,emang lagi macet.Sabar saja lah,belokan didepan juga sudah mau ke kompleks perumahan keluarga Mahardika.Jadi,kita hanya bisa menerima kenyataan bahwa kita kena macet."ucap Rafif dengan santainya.


"Kamu kok sekarang jadi nyebelin gitu sih, mas itu sudah nggak memperioritaskan aku." ucap Winda yang nada kesal.


"Kapan aku nggak mementingkan kamu Win,sampai aku mengambil langkah buat ngusir ibu karena kamu.Aku jadi anak durhaka juga karena menomer satukan kamu.Kalau bukan karena hasutan kamu nggak akan mungkin aku bisa bertindak bod*h buat ngusir ibu dari rumahnya sendiri.Sekarang aku menyesal karena sudah berani menantang ibuku dan berani mengusir ibu gara-gara kamu.Hidupku berantakan juga karena kamu yang selalu egois dan gengsi kamu yang setinggi langit,aku ingin ibu kembali tapi dimana ibu aku nggak tahu,aku manusia bod*h yang tak waras bisa-bisa nya tertipu oleh wanita macam kamu..!!"


Bentakan setiap umpatan dan perkataan kasar Rafif sungguh tak di sangka oleh Winda.Selama belasan tahun hidup bersama suaminya dia tak pernah melihat Rafif yang tak terkendali macam begini.


"Mas...


"Diam kamu !!" bentak Rafif dengan mata yang sudah merah menahan emosi menatap tajam pada istrinya.


Winda tak berani untuk berucap sepatah kata pada suaminya.Melihat tingkah suaminya dia jadi takut jika suaminya bertindak lebih jauh.


Setelah melewati kemacetan setengah jam mereka sampai di komplek perumahan mewah milik Mahardika.Mobil Rafif menuju rumah yang begitu megah dengan letak yang terlihat menyendiri di deretan rumah mewah lainnya.


Mobil itu masuk ke dalam pekarangan rumah besar milik Mahardika setelah pemeriksaan dan mendapatkan perintah memberi akses masuk ke dalam area istana Mahardika.


"Masuk aja di persulit sih,segala di minta KTP.Emangnya kita buronan."oceh Winda yang sudah membuat Rafif muak.

__ADS_1


"Sudah jangan ngomel,kita harus cepat turun nanti kita pulangnya kemalaman."ucap Rafif membuka pintu mobil nya dan keluar dari sana.


Sedang Winda yang mendengar ucapan suaminya hanya bisa mencebikkan bibirnya merasa kesal dengan sikap suaminya.


Winda mengikuti langkah suaminya menuju pintu masuk ke rumah keluarga Mahardika.


"Kenapa jantungku berdetak kencang banget, perasaan aku juga nggak enak.Biasanya aku butuh ibu buat terbangin aku ."batin Rafif mengingat jika dia merasa tak nyaman pasti ada ibunya uang selalu memberikan nasehat dan juga doanya agar semua baik-baik saja.


Rafif memencet tombol bell di dekat pintu besar itu.Tak perlu menunggu lama pintu rumah itu di buka menampakkan seorang wanita berdiri membuka pintu itu.


"Silahkan mas,mba,kalian sudah ditunggu ."ucap orang itu.


Dengan mengangguk mengiyakan ucapan wanita itu Rafif dan Winda melangkah masuk dan terlihat ada Abi,papa Beni, mama Fitri,Kiran ada Dewa juga Keluarga kecil nya.


"Aku ke sebaiknya ke ruang tengah sama Cyra ."ucap Diana pada semuanya.


"Silahkan duduk."ucap Abi dengan suara datarnya.


"Jadi bagaimana?"tanya Dewa mengarahkan pandangannya pada dua orang yang ada di hadapan mereka.


"Maaf tuan,semuanya kedatangan saya dan istri saya kesini ingin meminta maaf pada tuan,tolong jangan laporkan saya ke polisi saya rela gaji saya di potong untuk mencicil uang perusahaan yang saya ambil."ucap Rafif dengan wajah penuh penyesalan.


"Saya juga kesini ingin meminta maaf pada nyonya Fitri dan nona muda atas kesalahan saya yang sudah berperilaku kasar pada nyonya dan Mona muda saat itu maafkan saya salah besar."ucap Winda dengan wajah yang terlihat di buat sedih.


"Kalian ingin jawaban dari kami,kalau saya pribadi hanya menyerahkan keputusan ini pada anak dan mama saya.Gimana mah?" tanya Abi dengan wajah melirik ke arah sang mama yang masih bersikap tenang.


"Mama hanya manusia biasa Bi,mama juga banyak salah.Setidaknya kita buat perjam hitam diatas putih untuk Winda agar dia tidak menyakiti hati siapapun terutama wanita yang lebih tua darinya.Tapi, untuk seumuran Bia bahkan lebih kecil dari Bia dia bisa jadi orang yang lebih bisa mengayomi dan menghargai orang lain." ucap Mama Fitri dengan tenang.


"Baik nyonya saya akan melakukan apapun demi nyonya memaafkan saya nyonya."ucap Winda dengan wajah yang tak berani dia tegakkan.

__ADS_1


"Baiklah,Dewa tolong kasih surat pernyataan buat Winda." ucap Abi pada Dewa.


Dewa dengan cepat mengambil lembaran yang sudah di minta Fitri sebelum nya.


"Mbak Winda silahkan tanda tangani surat pernyataan ini."ucap Dewa menyodorkan sebuah kertas dan pulpen pada Winda.


Dengan tanpa pikir panjang Winda menandatangani perjanjian itu dan terhitung detik itu juga perjanjian sudah berlaku.


"Baik mbak Winda,sudah mbak tanda tangani surat ini.Disini mbak menandatangani perjanjian secara hukum dan berlaku mulai saat ini dan detik ini."ucap Dewa dengan tegas.


"Baik pak."ucap Winda singkat.


"Lalu Bia,gimana keputusan kamu dengan permintaan maaf orang yang ada di depan kamu?" tanya Abi pada sang putri.


Bia menghela nafasnya dengan dalam dan menatap Winda dan Rafif bergantian.Dia mengingat kembali cerita eyang putrnya yang menceritakan kekejaman dua manusia yang depannya.


"Kenapa kalian menunduk,nggak ada duit di lantai itu.."ucap Bia dengan wajah mengejek.


Kiran dan yang lain hanya diam dan hanya bisa menjadi penonton apa yang akan di perbuat sang Bia.


"Maaf Nona muda,istri saya sudah salah dengan bersikap kurang pantas pada nona muda."ucap Rafif dengan gemetar.


"Owhh yah, kayak nya dia nggak bener-benerau berubah deh om,terus om juga nggak mau masuk penjara karena apa yang om lakukan selama ini.Apa om pernah berfikir gimana sakitnya orang yang di hina dan juga di fitnah sama mulut lucknat istri om itu.Om sebenarnya nemu dimana wanita model gini,Om itu ganteng,lihat tantenya kayak ondel-ondel gitu." ucap Bia dengan bahasa frontal nya.


Rafif yang mendengar ucapan Bia tak marah sama sekali malah dia mengulas senyum tipis.Mengakui kekeliruan nya selama ini.


Sementara Winda dengan susah payah menahan emosi karena ucapan gadis ABG itu.Kalau saja dia belum menandatangani perjanjian itu mungkin masih berani menatap tajam ke Bia tapi, ini sudah tidak bisa di pungkiri seperti makan buah simalakama bagi Winda.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2