Menikah Muda

Menikah Muda
#Tetap seperti Dulu


__ADS_3

Dari arah pintu masuk restaurant terlihat gerombolan anak ABG yang masuk ke dalam restaurant dan mengarah ke meja dekat dengan meja Keluarga kecil Abi.


"Bia...?!!" tegur salah satu anak laki-laki saat dia berdiri dekat di meja Bia berada.


Bia yang mendengar namanya di panggil pun. mendongak dan mengarahkan wajahya ke sumber suara.Betapa terkejut nya Bia melihat siapa yang menegurnya.


"Ju_Juno..?!" gumam Bia menatap Junior dengan menelan silvanya dengan susah dan melirik sekilas mama dan Daddynya.


"Haii Bii..lagi makan malam juga?" tanya Junior dengan senyum canggung.


"I_iya,dad..mam..ini Juno teman satu sekolah Bia." ucap Bia dengan wajah sedikit takut pada sang mama


"Malam Tante , Om,saya Junior teman satu sekolah Bia."ucap Junior dengan sopan dan mencium punggung tangan Abi dan Kiran bergantian


"Malam juga..kamu sama teman-teman kamu?" tanya Abi dengan santai.


"Iya om,baru pulang latihan basket." jawab Junior.


" Owhhh..suka basket juga,ya..sudah makanlah biar nanti Om sekalian juga bayarin anggap saja Bia yang bayarin." ucap Abi dengan senyum tipisnya.


" Nggak usah Om terima kasih,nggak papa kami tidak mau reportin om." ujar Junior dengan melirik Kiran yang sedari tadi menampakkan wajah datarnya.


" Tidak apa-apa santai saja." ucap Abi


" Kalau begitu saya pamit om,Tante ,Bi.. terimakasih sebelumnya." ucap Junior pamit untuk bergabung dengan para sahabatnya.


" Iya..." ucap Abi singkat


Bia pun mengangguk dengan wajah terlihat senyum pada Juno.


Setelah melihat Junior pergi pun, akhirnya Abi menatap Kiran yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Raa..are you okey?" tanya Abi dengan menyentuh tangan istrinya.


" Okey,kalian sudah selesai makannya kita lanjut ke supermarket buat belanja bulanan, perasaan hari ini banyak sekali pengganggu." ucap Kiran beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


" Tunggu sayang..." ucap Abi dengan lembut meraih tangan istrinya yang sepertinya sedang merajuk.


" Maafin Bia ya mah,mama percaya deh..sama Bia,kalau Juno anak yang baik." ucap Bia.


" Semua orang kamu anggap baik Bia,sudahlah kita belanja sekarang." ucap Kiran.


Akhirnya ketiganya berjalan keluar dari restauran itu setelah membayar makanan mereka dan tak lupa dengan makanan Juno dan para teman-teman nya.


Sampai di depan supermarket Abi meraih troley dan menggenggam tangan anaknya.Sementara Kiran berjalan di depan sambil mengambil barang-barang yang harus dia beli dan langsung dia taruh ke troley.


" Dad,mama marah sama Bia yaa..?" bisik Bia pada daddynya.


" Nggak ada mama marah,sudah jangan terlalu dipikirkan biar nanti Daddy yang bicara sama mama kamu yaa..?" bujuk Abi dengan menenangkan hati anaknya.


Setelah mengitari beberapa rak yang ada di supermarket dan memilih buah,sayuran,daging,ikan,dan segala cemilan yang biasa Bia makan semua stok dirasa cukup untuk dua mingguan akhirnya mereka menuju Kasir dan membayar semua belanjaan mereka.


Abi yang baru merasakan namanya belanja buat kebutuhan rumah pun tentunya merasa senang apalagi bersama anak dan istrinya.


Sampai di apartement Kiran menata semua belanjaan di dapur.


" Nggak,kenapa mama harus marah, emangnya Bia salah apa sampai mama marah sama kamu?" tanya Kiran tanpa menatap sang putri.


" Soal Junior mungkin?" ucap Bia


" Kenapa sama Junior, sampai kamu bilang begitu?" pancing Kiran.


" Raa..jangan bikin putri kamu takut gitu ahh.." ucap Abi tiba-tiba muncul di dapur.


" Siapa yang nakut-nakutin,aku kan cuma nanya emang kenapa sama Junior dia itu cuma temen Bia kan,kalian nggak ngelakuin apa-apa , maksudnya mama kalian bertanya dengan wajar kan?" tanya Kiran.


" I_iya mah,lagian aku waktu itu pergi sama Junior juga bareng Yuli sama Risya nggak cuma berdua." ujar Bia


" Mama cuma minta sama kamu,harus pinter jaga diri,jaga batasan,apapun yang terjadi sama kamu cerita sama Daddy juga mama,jangan ada yang di sembunyikan.Ngerti?" ucap Kiran menatap wajah putrinya.


" Iya mah,lagian Junior cuma bantu aku kasih tahu soal pelajaran,cuma seputar sekolah.Apalagi Minggu depan sudah mulai ujian kelulusan." kata Bia.

__ADS_1


" Terus kamu mau SMA di mana,di Mahardika saja nggak papa kan?" tanya Abi


" Iya emang Bia mau nerusin di SMA Mahardika dad." jawab Bia


" Baguslah, setidaknya Daddy bisa memantau kamu ." ucap Abi.


" Lahhh.. ternyata dia posesif juga." batin Kiran.


Kiran tahu sebenarnya di hati suaminya pun banyak ke khawatiran apalagi di usia mudanya yang tak sebaik anak-anak lain.Abi menginginkan jika anaknya akan lurus lurus saja.


Keesokkan harinya,di pagi hari diawal kehidupan berumahtangga kembali bersama Kiran kini rasanya seperti dunianya penuh warna.Karena harus terbiasa mendengar teriakan istrinya memanggil putrinya.Apalagi membangunkan putrinya ternyata tidak semudah yang di bayangkan.


Pagi hari Kiran sudah sibuk di dapur untuk memasak dan membuat sarapan untuk keluarganya.Membuat bekal juga untuk Abi buat di bawa ke kantor.


Bukannya menolak malah Abi dengan senang hati menerima kotak makan yang di sediakan istrinya.Kiran masih menjadi perawat di Lahat Hospital,saat ini bukan motor lagi yang dia bawa tapi,dia membawa mobil mewah milik suaminya. Sebenarnya Kiran segan untuk membawa mobil itu,namun..Abi dengan paksa memerintahkan Kiran untuk bawa mobil dengan berbagai alasan.Bagaimanapun sebagian besar staf RS pun sudah tahu kebenaran soal Kiran dengan pemilik Rumah Sakit itu di tambah lagi Abi tak ingin orang-orang memandang rendah istri nya.


Jadilah Kiran menuruti kemauan Abi.


Saat masuk ke dalam gedung Rumah Sakit pandangan staf yang tahu jika Kiran istri si pemilik Rumah Sakit tentunya mereka bukan sekedar say hello saja tapi,selayaknya kepada pemilik Rumah Sakit tersebut.


"Pagi nyonya Abi.." seru Nurul salah satu perawat di sana.


" Suster Nurul jangan gitu lah,memanglah saya istri Tuan Abi tapi,tolong jangan kalian anggap saya seperti suami saya." ujar Kiran saat berbenah peralatan yang ada di area loker.


" Tapi, Kita pasti tahu tempat.Mana boleh begitu saja panggil nama,padahal kita tahu telan kita itu nyonya besar disini." ucap timpal Ambar.


" Nggak masalah,suami ku pun nggak akan menghukum kalian.Aku sama suamiku beda,kalian bisa hormat dengan suamiku sebagai atasan,kalau sama aku sebagai sahabat,itu nggak ada bantahan." ujar Kiran.


" Okelah,kalau gitu.." ucap dokter Kansha.


" Sudahlah kalian harus bersikap seperti biasa sebelum tahu kalau aku adalah istri tuan Abi." ucap Kiran


" Okelah.." jawab para staf yang ada di ruang UGD.


Kiran masih tetap bekerja di Rumah Sakit milik suaminya ,walaupun kini tugasnya bertambah karena diminta suaminya menjadi mata-mata di RS itu sendiri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2