
" Ini anak majikan kamu yah,kamu kalau jadi pembantu jagain dong anak majikan kamu.Dia sudah nabrak aku.,dasar udik..!!" umpat sang bibi pada kedua orang yang ada di depannya.
" Apa ada yang cedera,sakit atau bahkan terluka..kita bisa langsung ke Rumah Sakit buat cek keadaan bibi." ucap Kiran dengan wajah yang kurang bersahabat.
Kiran tak menyangka jika kini dia berhadapan dengan bibinya yang dulu sempat menampungnya.
Kiran berfikir bahwa bibi nya yang sudah lama tak bertemu namun,sifatnya masih sama angkuhnya seperti dulu.
"Kamu memang harus tanggung jawab,coba kalau aku cerdera atau bahkan lebih bahayanya lagi serangan jantung,kamu mau tanggung jawab.!!" ucap sang bibi dengan menunjuk nunjuk wajah Kiran.
" Ehhhh..nenek tua,berani kamu ngomong masyarakat sama....
" Bia,sudah.."potong Kiran dengan mengisyaratkan sang putri untuk diam.
" Bibi mau kompensasi,atau mungkin juga bibi mau aku anter ke dokter buat general cek up,kali aja ada yang memar atau ada yang kegeser.di otak bibi." ucap Kiran dengan wajah datarnya.
" Kamu benar-benar kurang aja ya,kamu nggak inget kamu pernah tinggal di tempat saya,kamu itu numpang di tempat saya ngerepotin Keluarga,kamu nggak tahu terima kasih." ucap bibi Kiran dengan lantang sampai banyak pengunjung yang melihat interaksi mereka.
" Oke gini saja,bibi ikut kami,kita selesai di tempat lain."ucap Kiran.
" Baiklah,ada baiknya kamu hubungi majikan kamu biar saya bicara dengan dia supaya pecat kamu !!" ucap nya sinis.
" Terserah bibi saja nanti." ucap Kiran .
Dengan berat hati akhirnya mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan acara belanja mereka.Kiran menuntun Bia untuk kerumah sakit.
Sampai di parkiran Kiran langsung masuk dalam mobil diikuti Bia dan bibi Kiran yang melihat Kiran masuk ke mobil mewah nya.
" Kiran tunggu,kamu bawa mobil ini?" tanya Bibi Kiran.
" Iya ,ayo bikin masuk,kita akan ke Rumah Sakit buat periksa keadaan bibi."ucap Kiran dengan santai.
" Eeehhh..nggak usah,kamu hubungi majikan kamu biar saya minta ganti rugi dengan apa yang kalian perbuat."ucap Bibi Kiran.
" Mah, apa dia Gil* kita nggak ngapa-ngapain..mau ganti rugi soal apa coba,lagian dia itu sudah salah paham sama mama ,dia kira mama itu pembantu,ini nggak bisa di biarin." bisik Bia pada mamanya yang merasa tak terima dengan omongan nenek tua itu.
__ADS_1
" Sudahlah,kita ke rumah kakek yaa..sudah lama juga mama nggak kesana." ucap Kiran dengan lirih pada Bia.
"Rumah Bibi masih di tempat yang dulu?" tanya Kiran melihat sang bibi dari spion tengah melihat tingkah bibinya yang sedang mengagumi interior mobil nya.
" Iya,memangnya kamu masih ingat?" tanya Bibi
" Insyaallah masih,kita kesana bi,Kiran pengen ketemu paman juga." ujar Kiran
" Ya sudah ayo,lagian paman mu itu sekarang ngerepon doang kerjaannya.Sering sakit-sakitan udah nggak bisa diandelin,bibi saja ngandelin Nia buat makan sama keperluan lainnya." ungkap Bibi.
"Nia sudah kerja?" tanya Kiran
" Sudahlah,dia mah.. kerja di Perusahaan besar jadi staf di Mahardika Group,kamu pasti nggak tau kan perusahaan besar Mahardika.Ya pasti kamu nggak akan tahu,kamu kan kerjaannya cuma jadi pembantu,paling banget dulu kamu petugas Catring." ejek Bibi Kiran dengan senyuman mengejek.
" Gimana lagi bi,nasib Kiran kayak gini.Kiran cuma bisa bersyukur saja." ucap Kiran tanpa harus mengungkap jati dirinya saat ini.
Kiran melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang,sambil mengingat ingat jalan yang menuju ke tempat sang bibi,karena bagaimana pun banyak yang berubah di daerah itu.
Drrrrrttt Drrrttt.
" Daddy" gumam Bia mengarahkan ponselnya pada Kiran
Akhirnya Bia pun mengangguk mengangkat panggilan Daddy nya.
" Ya Dad," ucap Bia saat pertama mengangkat panggilan telepon nya.
" Sayang kamu sama mama di mana?" tanya Abi
" Bia sama mama di jalan mau ke tempat saudara mama,ada apa dad," ucap Bia
" Saudara mama,kamu bisa share lock nanti Daddy nyusul , kebetulan Daddy sudah selesai juga kerjaannya." ucap Abi pada sang putri.
" Okelah,tapi.. daddy kesininya dianter Om Vian saja ,biar pulangnya bareng kita."ujar Bia.
"Baiklah kesayangan Daddy,bilang mama hati-hati nyetir nya."pesan Abi pada putrinya.
__ADS_1
"Cieee.. Daddy,pasti Bia sampein..bye dad,I Love you."ucap Bia mengakhiri panggilan telpon nya.
"Apa kata Daddy?" tanya Kiran pada putrinya.
"Kata Daddy , nyetir nya hati-hati gitu.." jawab Bia dengan senyuman manisnya.
"Kamu share lock ke nomer Daddy kita sudah sampai "ucap Kiran.
"Oke." jawab singkat Bia pada sang ibu.
Mobil mewah itu pun sudah terparkir di sisi jalan tak jauh dari sebuah gang di sebuah pemukiman padat penduduk.
Bibi Kiran sudah lebih dulu keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke gang sempit itu.Kiran dan Bia pun mengikuti langkah sang bibi.
"Mama pernah tinggal di sini?" tanya Bia saat memindai sekeliling gang yang padat dengan bangunan yang terlihat padat tanpa sela.
"Iya, beberapa bulan saja.Setelah nenek sama kakek meninggal mama di bawa oleh paman mama tinggal di sini dan semua peninggalan orang tua mama sudah dijual habis untuk biaya hidup mama,walaupun selama itu mama nggak pernah ngerasain uang itu."jelas Kiran dengan tetap merangkul bahu putrinya.
"Berarti keluarga paman mama jahat dong," bisik Bia.
Kiran hanya tersenyum menjawab pertanyaan sang putri.
"Semua sudah berlalu sejak mama menikah sama Daddy kamu,tapi..mama juga sayang sama paman mama,dia baik.Cuma nasibnya yang punya istri yang serakah dan anak yang juga tak jauh beda sama istrinya." ujar Kiran.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di depan rumah yang sederhana dan dengan cepat bibi Kiran masuk dalam rumah nya diikuti Kiran dan Bia.
"Assalamualaikum.." salam dari Kiran dan Bia terdengar diambang pintu rumah milik paman Kiran.
"Wa'alaikumsalam.."jawab dari dalam rumah itu.
" Kamu masih inget dia pak,dia Kiran ponakan kesayangan kamu.Anak majikan nya ini buat ibu kaget,karena Kiran nggak becus mengurus anak ini jadi ibu minta mereka kesini buat ganti rugi dengan tindakan anak ini ." sungut Bibi Kiran.
"Paman,ini Kiran ..apa kabar?" tanya Kiran tanpa menanggapi omongan bibinya.
Kiran menyalami sang paman dan memeluk pria tua itu yang melihat Kiran sendu.
__ADS_1
" Kiran, Masyaallah nak...mimpi apa paman,maafkan paman yang nggak bisa di andalkan oleh kamu.Paman sudah berusaha cari kamu tapi..paman nggak berhasil buat kamu kembali kesini."ucap Paman Kiran dengan tangis nya yang pecah.
Kiran memeluk pamannya tak kalah sedihnya dengan melihat kondisi pamannya yang kurus dan tak terlihat baik- baik saja