
Semua sudah siap?" tanya Bambang pada semuanya yang hadir.
Semuanya mengangguk dan rasa penasaran juga rasa resah juga menyelimuti hati mereka.
"Baiklah saya akan bacakan surat wasiat dari tuan sepuh Lukman Mahardika."ucap Bambang pada semua orang yang ada di sana.
.
.
Yang bertanda tangan di bawah ini saya Lukman Mahardika dengan sadar dan tak ada paksaan dari pihak manapun.Adapun surat wasiat ini saya buat untuk memperjelas kepemilikan saham Mahardika Group .
1) Hanum Prameswari sebagai istri berhak atas aset rumah milik Lukman Mahardika yang selama ini di tempati selama menikah dengan saudari Hanum,dan rumah yang ada di London,serta aset tanah seluas kurang lebih 2Hektar yang ada di daerah Bogor dan saham Mahardika Group sebesar 10% .
2) Beni Mahardika akan mendapatkan Sebuah rumah warisan yang di wariskan Oleh Tn.Mahardika,Sebuah Perkebunan Anggur yang ada di Swiss seluas 2Hektar,Lahan seluar 5 Hektar di Malang, Peternakan di daerah Bogor serta saham Mahardika sebesar 12%.
3) Abian Kemal Mahardika akan mendapatkan hak waris atas Yayasan Mahardika Hospital ,Yayasan Mahardika High School, Mahardika Hotel,sebidang tanah seluas lima hektar berlokasi di Semarang,sebuah Resort di Bali ,Satu buah Villa di Puncak,saham Mahardika 10%
4) Fitri menantu Mahardika akan mendapatkan hak waris Yayasan Pendidikan Kaum Dua'fa ,Empat buah restaurant mewah Hana's Restaurant.
5) Untuk Kedua sahabatku dan pewarisnya.
Jaya Hutama/garis keturunan /hak waris akan mendapatkan 20% dari Mahardika Group dan Malik Ibrahim/anak kandung / cucu garis pertama mendapatkan hak 45% Mahardika Group.
Demikian surat Wasiat / Hak waris yang akan menjadi keabsahan dokumen untuk memperbaharui wasiat terdahulu dengan atas kesadaran saya sendiri.
TTD
__ADS_1
Mahardika.
Semua yang ada disana saling pandang dengan apa yang di utarakan dalam wasiat itu.Ternyata untuk 65% saham Mahardika ada dua pewaris lain dari Jaya dan Malik.
"Begitu lah yang telah tercantum dalam surat wasiat terakhir ini akan kami salin untuk revisi surat wasiat sebelumnya kelanjutannya saya akan meminta tanda tangan dari yang bersangkutan atau pewaris selanjutnya.
Di amplop selanjutnya ini ada surat kuasa untuk saya mengubah surat wasiat terdahulu dan beliau sudah menyiapkan berkasanya,semuanya sesuai prosedur." ungkap Bambang.
"Maaf pak Bambang,untuk hak waris dari Jaya dan Malik tentunya garis keturunan yang ada saat ini saya sebagai anak dari Jaya Hutama dan untuk Om Malik,karena Hamdan sudah almarhum berarti akan di hibahkan pada anak kandung Hamdan bukan begitu maksudnya pak?"tanya Mak Leha pada Bambang.
"Benar nyonya jadi secara sah ibu Sholeha sebagai penerus dari Tuan Jaya Utama yang akan di hibahkan hak waris dari ayah ibu dan untuk Tuan Malik yang seharusnya jatuh ke tangan saudara Hamdan menjadi jatuh pada keturunan pertama dari Hamdan ."terang Bambang.
'Berarti itu adalah ponakan saya Kirani Adzkia Pak..?"tanya Sofyan tak percaya pada ayah sambungnya.
Ternyata selama ini dari pertanyaan nya dulu terjawab sudah.Kenapa dirinya dapat bagian harta dari Malik walaupun dia tak berhak menerima tapi,Malik memberikan usaha dan juga beberapa bidang tanah pada Sofyan.Sedangkan Hamdan hanya di tinggalkan beberapa bidang tanah dan salah satunya sudah di wakafkan untuk mendirikan. pesantren bersama sahabatnya dari Jawa timur.Namun,karena Sofyan berkali-kali tertipu dalam bisnis jadi hartanya lama-lama hilang satu persatu apalagi mempunyai istri yang hidup nya selalu bak sosialita.Itulah yang membuat dirinya bangkrut dan dengan suka rela Hamdan mehibahkan hartanya untuk kakaknya membayar hutang dan memberikan dana pengobatan bagi Sofayan sampai dimana Hamdan dan istrinya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
"Baiklah nanti kita siapkan apa yang perlu untuk semuanya itu pak Bambang.Saya harap semuanya harus selesai sebelum RPS di gelar karena kita tahu Hanum pasti akan membuat ulah,entah apa itu nanti pasti akan ada yang membuat dirinya membuat citra dari keturunan Lukman akan dia hancurkan."ucap Beni pada Bambang.
"Baiklah sebelum RPS di gelar akan saya pastikan untuk membuat janji dengan nyonya Hanum dan membacakan wasiat terakhir darai Tuan Lukman."ucap Bambang.
"Baiklah kalau begitu kami akan pamit pak Bambang,kami percaya dengan pak Bambang dan maaf jika selama ini ayah saya sudah merepotkan Keluarga pak Bambang."ucap Beni menyalami Bambang dan mengatakan dengan tulus minta maaf pada Bambang dan Keluarga.
Karena bagaimana pun Bambang dan Ayahnya adalah orang yang selama ini mengabdi pada Mahardika sejak Tuan Mahardika ada.
"Tidak perlu sungkan Pak Beni,kita adalah saudara papa saya kenal dan juga mempunyai karier yang baik berkat tuan Mahardika juga.Saya jadi seperti ini pun tak lepas dari kebaikan Keluarga Mahardika."ucap Bambang dengan tulus.
Akhirnya mereka pun kembali ke rumah besar,rasa lega di rasakan dalam hati mereka karena setidaknya mereka tahu pewaris harta Mahardika bukan lawan mereka.
__ADS_1
.
.
.
Di Bogor sana Bia dengan semangat membantu Aki Sapto nya untuk kebun Kol yang tak jauh dari rumah mang Sapto.
"Bia kamu yakin mau irit aki ke ladang?"tanya mang Sapto pada putri dari majikannya itu.
"Yakin lah aki, jangan-jangan aku nggak percaya kalau Bia bisa bantuin aku di ladang.Denger yah aki juga nini dan tante Nia,Bia ini lama tinggal di kampung,disana banyak kebun apel juga sayuran jadi,wes ..tenang aja Bia pasti bisa kok bantu aki."ucap Bia dengan percaya dirinya.
"Ya sudah ayok,mumpung sudah belum panas kita jalan ke ladang,mak kita berangkat." pamit mang Sapto pada istrinya.
"Hati-hati ya,Bia inget..jangan jauh-jauh dari aki."ucap bik Darmi yang memang sudah dia anggap jadi cucunya sendiri.
"Oke ni, Assalamualaikum..!!" seru Bia langsung naik ke atas motor yang di kendarai mang Sapto.
Bik Darmi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak dari anak angkatnya itu.
"Aktif banget Bia yah bi,saya baru beberapa kali sama dia saja kewalahan."tutur Nia membantu bik Darmi menyiapkan bahan makanan untuk makan siang para pekerja di kebun.
"Hahaha...Bia itu tingkahnya mirip bapak moyangnya,aktif,kritis ,cerdas juga."ungkap bik Darmi.
Bik Darmi jika melihat tingkah Bia memang mengingatkan dirinya akan Abi di masa muda dulu.Tak bisa diam dan tidak bisa di kekang.Tapi bedanya Bia masih bisa ke kontrol karena campur tangan Kiran dan pemahaman sopan santun dari Mak Leha dan Kirani tentunya.
Bersambung
__ADS_1