
◻️◻️◻️Happy Reading◻️◻️◻️
Seiring dengan kesibukan masing-masing, kini Jungshang dan Yura hanya memilik sedikit waktu untuk bertemu. Jarak mengajarkan seseorang untuk belajar menghargai waktu, belajar memahami pasangan, belajar saling percaya dan belajar untuk lebih memperdalam hubungan komunikasi satu sama lain. Ini adalah cinta pertama bagi keduanya, sebab itulah mereka harus belajar menyikapi semuanya dengan dewasa.
Baik Jungshang maupun Yura kini jauh lebih menghargai waktu kebersamaan mereka walau hanya sedikit saja. Keduanya yang saling merindukan, tentu akan memperkuat cinta diantara keduanya.
"Kau belum tidur?" tanya Jungshang yang baru saja selesai mandi dan segera naik diatas ranjang. Segera Yura memeluk tubuh Jungshang dengan erat.
"Kau tidak merindukanku ya? kenapa menyuruhku tidur?" ujar Yura yang terlihat lesu. Mengetahui itu, Jungshang langsung mendekap tubuh Yura dengan hangat sambil membelai rambutnya yang panjang.
"Aku sangat merindukanmu sayang, tapi sepertinya aku akan sangat sibuk mulai bulan depan ... mungkin aku akan sering lembur!" ujar Jungshang yang bernada pelan sambil membelai lembut pipi istrinya. Sedangkan Yura hanya diam dan memanyunkan bibirnya karna sedih mencengar ucapan Jungshang. Melihat istrinya yang marah, dengan segera Jungshang segera mencium bibir Yura dengan lembut untuk menyalurkan rasa rindu diantara keduanya.
Seakan tidak mau melepas,Yura meraih leher Jungshang dan membiarkan bibir mereka bercumbu lebih lama. Rasa rindu amat dalam membuat berciuman adalah hal yang sangat ingin dilakukan meskipun hanya sekali dalam sehari.
•
•
•
Kini Jungshang dan Yura memang tidak memiliki quality time yang banyak seperti dulu. Namun keduanya selalu menggunakan waktu bersama yang sedikit untuk saling bermesraan. Semenjak hubungan keduanya baik, jarak membuat keduanya semakin erat.
"Yura, saranghao ...!" bisik Jungshang ditelinga Yura yang membuatnya tersipu malu karna bahagia.
"Berarti kita sudah damai ya?" tanya Yura seketika membuat Jungshang memanyunkan bibirnya.
"Kita bahkan sedekat ini masih saja disinggung soal permusuhan, menyebalkan ...!" gerutu Jungshang yang kesal mendengar pertanyaan Yura.
"Aku sangat merindukan Jungshang yang jahil, kapan kau menjahili ku lagi? kau sekarang sudah jadi orang kantoran ya, aku benar-benar merindukanmu ... merasakan rindu itu tidak enak ya!" ujar Yura yang matanya berkaca-kaca bicara pada Jungshang.
"Tungu-tunggu, bagaimana bisa diwajahmu ada jerawat? aku akan membunuh jerawat itu supaya tidak merusak wajah cantik istriku ...!" goda Jungshang yang mengusap-usap dagu Yura untuk menggodanya agar tidak sedih. Kemudia keduanya saling tersenyum setelah lelucon garing dari Jungshang barusan.
__ADS_1
"Hahahaha, lucu sekali ... sampai keram petutku menahan tawa, hahaha ...!" ujar Yura yang tertawa palsu agar Jungshang senang.
"Terus saja tertawa karna lelucon garingku barusan, setelah ini aku akan memperkosamu ...!" ujar Jungshang yang mengancam sekaligus tersenyum bangga melihat wajah bahagia Yura yang cantik.
"Tidak usah diperkosa, aku sudah tidak akan menolaknya kok!" ujar Yura sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipi yang manis. Hal yang paling disukai oleh Jungshang dari Yura yakni senyum manis dan lesung pipi yang indah itu. Tentu saja Jungshang tidak tahan untuk tidak mencium wanita yang sudah jadi miliknya seutuhnya. Wanita yang menjadi teman bertengkarnya dan jadi wanita pendamping hidupnya yang sangat dicintainya.
•
•
•
Malam itu berlalu cukup intens antara keduanya. Sepertinya keduanya tidak ingin melewatkan waktu bersama untuk saling bermesraan bersama. Benar-benar pasangan yang dimabuk cinta.
Setelah hari itu, Jungshang disibukkan dengan pekerjaannya dikantor. Jungshang bahkan sering lembur tapi dia kini mencoba selalu mengabari Yura setiap jam atau setiap dia merindukan istrinya dengan bicara di telpon.
"Halo ...!"
"Tentu saja, kenapa kau menelpon lagi? baru 58 detik yang lalu menelpon, sekarang sudah menelpon lagi!" ujar Yura yang kesal karna waktu membaca bukunya terganggu akibat diteror telpon oleh Jungshang.
"Aku merindukanmu, memang tidak boleh ya?" ujar Jungshang yang kesal karna dimarahi Yura.
"Iya aku tahu kau merindukanku, tapi biarkan waktu berlalu 2 detik lagi supaya genap 1 menit ... kau ini benar-benar seperti anak kecil saja!" ujar Yura yang sebenarnya senang dengan sikap manja dari Jeon Jungshang yang sekarang.
"Maaf ya, aku kira ini sudah 1 menit, kenapa aku merasa jam lambat sekalu berputar ya?" ujar Jungshang menggerutu yang malah menyalahkan jam dikantornya. Mungkin karna terlalu rindu menjadikannya bersikap aneh. Namun, Yura memaklumi semua itu dan tersenyum dengan tingkah menggemaskan Jungsang sekarang.
"Apa nanti malam kau akan lembur lagi?" tanya Yura seketika membuat Jungshang terdiam.
"Iya, makanya aku pasti akan merindukanmu sayang. Tidak usah menungguku ya, aku akan pulang pagi mungkin!" ujar Jungshang yang sedikit bernada lesu memberitahu Yura.
"Iy tidak apa-apa aku harus terbiasa, lagi pula, kan sudah satu bulan lebih ... ini bukan baru lagi untukku merindukanmu, semangat ya sayang ... aku mencintaimu!" ujar Yura yang kemudian mematikan telpon karna sedih. Bahkan kini dia dan Jungshang sudah jarang bertemu, meskipun satu kamar. Sedangkan Jungshang selalu pulang pagi, dimana Yura sudah tidur sangat pulas.
__ADS_1
Meskipun sesekali Yura ingin begadang menunggu Jungshang pulanh. Namun, dia selalu gagal, karna bangun paginya dia sudah tidak melihat Jungshang yang sudah pergi kekantor. Kadang terlalu rindunya tak jarang Jungshang menelpon video untuk melihat wajah Yura walau sesaat ketika dia memiliki waktu luang yang sedikit dikantor.
•
•
•
"Hai Yura," sapa seseorang yakni Taehyung. Memang kini Yura sangat menjaga jarak pada siapapun karna dia sadar Jungshang tidak suka itu.
"Aaaggh, Taehyung oppa ... aku harus mengembalikan buku diperpustakaan dulu, aku tinggal ya!" ujar Yura yang ingin beranjak dari kursinya.
"Jangan pergi, kalau kau tidak nyaman. Biar aku saja yang pergi!" ujar Taehyung dengan tatapan tegas kearah Yura.
"Aaah, bukan aku tidak nyaman, hanya saja aku ...! (Berhenti) Yura merasakan pusing dikepalanya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Taehyung pada Yura seketika. Melihat Yura yang memang terlihat pucat sambil memegang kepala itu tampak lemas.
"Aku akan bawa kau ke UKS sekarang!" ucap Taehyung yang khawatir.
"Tidak perlu, aku tidak suka bau obat-obatan di UKS, aku bisa muntah lagi nanti!" ujar Yura yang mencoba tetap seimbang walau merasakan pusing dan mual secara bersamaan.
"Yura, apa aku boleh tanya? pria waktu itu, apakah dia adalah pacarmu?" tanya Taehyung yang memberanikan diri bertanya pada Yura. Gadis yang diam-diam disukainya sejak dulu.
"Bukan pacarku, tapi kami sudah menikah oppa!" ujar Yura dengan senyum diwajahnya yang pucat.
"Menikah? kenapa kau bisa menikah tanpa memberitahuku? bagaimana bisa kau tidak memperdulikan perasaanku?" tanya Taehyung yang bicara dengan nada sedih membuat Yura kebingungan dibuatnya.
"Apa maksudnya? oppa kan sedang kuliah diluar negri, jadi aku tidak bisa memberi undangan!" ujar Yura dengan wajah yang polos menatap Taehyung yang sangat serius itu.
"Karna selama ini aku menunggumu, dan aku ingin menikahimu!" ujar Taehyung yang membuat Yura seketika bengong tidak tahu harus bicara apa.
__ADS_1
Bersambung....