
Hari ini Leha di dampingi Beni,Abi, pergi ke sebuah bank dan disana sudah ada pengacara Lukman yang menunggu untuk membuka Safe Deposit Box (SDB) yang di sewa oleh Lukman semasa hidup.
"Mak Oke?" tanya Abi pada Leha.
"Oke Bi,tenanglah..kita harus menyelesaikan semuanya."sahut Leha pada menantunya itu.
Ketiganya berjalan beriringan masuk kedalam bank dan melihat Bambang pengacara dari Lukman.
"Selamat siang tuan,nyonya,tuan muda."sapa Bambang saat dia melihat kedatangan. ketiga orang itu.
"Bang, gimana sudah di koordinasi kan dengan direktur nya?"tanya Beni.
"Sudah tuan,hanya beliau meminta surat kuasa saja.Apa surat kuasanya sudah ada nyonya?"tanya Bambang pada Leha.
"Ada,di tanda tangani oleh om Lukman juga ayah saya."ucap Mak Leha.
"Kalau begitu mari kita menuju ruangan pak Ari sebagai Direktur."ucap Bambang membimbing mereka ke ruangan Ari
Tok tok tok
"'Masuk.." teriakan terdengar dari dalam ruangan itu
Keempat orang itu pun akhirnya masuk setelah terdengar instruksi untuk masuk oleh si empunya ruangan.
"Oh pak Bambang,maaf saya kira staff saya..silahkan-silahkan." ucap Ari tak enak hati dengan pengacara kondang yang sangat mumpuni untuk semua kasus yang sering dia tangani.
"Tidak masalah,saya maklum.Begini pak Ari,saya nggak mau basa-basi saya mendapingi klain saya untuk mengambil suatu barang yang sudah disimpan selama 25tahun,mereka adalah ahli waris dari Lukman Mahardika,apa bisa di proses ?"
"Ada surat kuasa pak,bu.." ucap Ari dengan sopan.
"Ada ,ini ayah saya menyerahkan sebuah surat dan beliau bilang suruh serahkan pada orang yang bertugas menjaga nya."ucap Leha dengan menyerahkan sebuah surat pada Ari.
Ari membacanya dengan cermat dan dia membuka sebuah dokumen.
"Baiklah,kami isi data anda bu tinggal kasih KTP anda saja."ucap Ari pada Leha.
Leha langsung menyerahkan data dirinya dan tak menunggu lama mereka langsung diantar ke tempat penyimpanan SDB.Leha menyerahkan sebuah kunci pada petugas bank dan menyaksikan langsung proses pengambilan dokumen yang tersimpan dalam brankas yang selama ini menyimpan banyak rahasia tentang Mahardika.
.
__ADS_1
.
.
Beni langsung meminta Bambang untuk mengecek ke aslian dokumen.Memerintahkan untuk tidak di bocorkan rahasia ini pada Hanum.Beni pun menceritakan jika ayahnya ternyata sudah menceraikan Hanum sebelum memutuskan kembali ke Indonesian.Ternyata Bambang pun tahu,karena Bambanglah yang di beri kuasa untuk mengurus semuanya.
.
.
.
Pulang dari bank mereka langsung menuju Mansion Mahardika.Semuanya sudah berkumpul.Di ruang keluarga sudah ada Kiran ,mama Fitri,Sofyan dan Endang.
"Gimana mas?"tanya Kiran saat menyambut kedatangan suami dan juga Mak Leha dan papa Beni.
"Alhamdulillah semua lancar sayang,nggak ada yang perlu di khawatirkan.Bia di mana yang?'tanya Abi saat melihat putrinya tak kelihatan.
"Semalam dia kan sudah bilang mau ke Bandung sama Nia,kamu lupa yah..," ucap Kiran
"Astaghfirullah maaf sayang,mas lupa, baguslah dia ngungsi dulu.Lagain juga dia ada yang jaga juga." ujar Abi duduk di samping Kiran
"Bia punya bodyguard tapi, dia pantau dari jarak aman.Agar Bia tak risih juga."ujar Abi
Kiran pun menanggapinya dengan biasa.
.
.
"Tuan,nyonya makan siangnya sudah siap."ujar Tuti memberi tahu pada majikannya.
"Terimakasih mbak Tuti."ucap Kiran dengan wajah ramahnya
"Oh iya,Tuti sudah kirim pesan ke tuan muda tapi, belum di respon maaf non Kiran bukan mau lancang,cuma mau tanya ada tugas lagi atailu tidak."ucap Tuti
'"Yah,nanti saya cek Tut.."jawab Abi
Setelah mendengar ucapan Abi Tuti pun undur diri.
__ADS_1
Mereka makan siang bersama dan sembari membahas soal surat yang di ambil dari bank.
"Menurut wasiat yang Papa tinggalkan jika surat yang ada di bank sudah di ambil harus segera di serahkan ke Bambang dan setelah itu kita bisa lihat isinya dan akan di bacakan oleh Bambang di depan Keluarga inti.Jadi,menurut papa Oma Hanum sudah tidak ada hak untuk mengetahui isi surat itu karena dia sudah punya bagiannya dan itu sudah jelas.Setelah tahu siapa yang dapat hak warisan Mahardika Group maka kita akan sekuat tenaga mencarinya kalau tidak ada diantara orang yang kita kenal."ungkap papa Beni
"Sebaiknya besok kita ke kantor Bambang karena lusa kita sudah RPS dan aku ingin semuanya terbuka.Kita pun harus siap jika orang yang akan menerima warisan ini mendukung salah satu dari kita.
"Tapi,setidaknya kamu sudah menang satu step Bi, bagaimana jika kamu nggak mengambil saham yang beberapa persen itu mungkin kita nggak akan bisa mempertanggungjawabkan itu pada papa,Om Jaya juga Om Malik."ujar papa Beni.
Mereka pun selesai dengan makan siang mereka dan sedang menikmati kebersamaan keturunan tiga sahabat berkumpul.
"Pah,Tuti bilang kalau Oma merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan namaku."ujar Abi bilang ke sang papa.
"Mau apa dia,apa dia masih mencari Yudit?" tanya Beni.
"Masih, kemungkinan Yudit bukan hanya di suruh untuk memecah belah Keluarga ku tapi,juga untuk membuat berita yang tentang keluarga Mahardika."
Ucapan Abi sontak membuat Beni geram,dia menyesal kenapa dulu sangat menyayangi wanita itu padahal dia sama sekali tidak menganggapnya sebagai anak bahkan keponakan.Ayah yang seharusnya mengatakan kebenaran malah membiarkan dirinya menganggap sosok Hanum sebagai ibunya.
Mungkin kalau Hana ibu kandungnya tak meminta Lukman untuk merahasiakan semuanya pastinya Lukman akan membeberkan kebenaran nya selama ini.
Karena papanya begitu mencintai istrinya walaupun anaknya tersiksa rindu dengan perlakuan baik seorang ibu,namun Hanum menghadirkan rasa rindu dengan kepalsuan.
Beni ingat Hanum pernah meneriakinya anak pembawa sial.Mungkin karena kematian saudara kembarnya di harus menikah dengan ayah Beni yang tidak sama sekali dia cintai.
.
.
Malam hari setelah semua permasalahan Abi merasa lebih lega karena sedikit demi sedikit permasalahan keluarga nya mulai terbuka.
"Mas, ini coklat panas buat kamu." ucap Kiran menyodorkan sebuah cangkir pada Abi.
Abi menatap Kiran dengan senyuman manisnya.Sungguh beruntung dia memiliki Kiran,dia wanita yang baik dan begitu sabar juga dia merasakan jika gadis yang dulu tak pernah dia sangka menjadi istri nya itu sangat berpengaruh dalam kehidupan nya.
"Sini sayang,aku kangen sama kamu juga dedek bayi,gimana dia nggak rewel kan,"
Abi menarik tubuh Kiran dalam pangkuannya dan memeluknya erat,ada rasa damai jika dia dekat dengan istrinya itu.Rasa takut dan resah selama ini hilang cuma karena mencium aroma tubuh istrinya itu.
Bersambung
__ADS_1