
Paman Kiran dengan wajah bahagia mendengar ucapan Abi,walaupun sebenarnya sedikit kecewa karena Kiran tak memberi tahukan pernikahannya tapi disisi lain hatinya tenang karena melihat Kiran sudah ada yang menjaganya dengan penuh cinta.
"Apa kamu nggak bohong nak,kamu suami Kiran ponakan paman?" tanya Paman Kiran memastikan apa yang Abi katakan tidak bohong.
" Benar paman,kami sudah menikah lama.Karena saya dan Kiran harus menjalani hidup terpisah saya di London dan Kiran bersama ibu angkatnya di Malang.Jadi,kami pun sama-sama sibuk mengejar cita-cita kami..Kiran ingin sukses dan bisa kembali bertemu dengan pamannya ."ucap Abi sedikit bohong pada Paman Kiran.
"Emmm..Tuan,apa yang anda ucapkan tadi bohong kan,mana mungkin Kiran dapat orang sukses macam anda,lagian penampilan anda berjas terus lihatlah Kiran.. penampilan nya nggak mencerminkan kalau dia orang kaya ."ucap Bik Endang dengan pandangan mengejek.
" Ibu,jangan sembarangan ngomong bisa nggak sih,maaf boss kalau ibu saya bicaranya menyinggung anda."ucap Nia dengan wajag tak enak hati pada boss nya.
"Kamu bener kerja di Mahardika Group Nia,jadi staf kantor nya yah?" tanya Kiran dengan santai.
" Iya,di bagian pemasaran mbak."jawab Nia melirik kearah Abi.
" Kamu kerja di kantor saya,sorry saya nggak tahu itu.Lagipun saya nggak bisa inget satu persatu staf kantor saya,harap maklum."ucap Abi dengan menatap Nia.
"Paman,kenapa paman sepertinya kurus sekali apa paman sakit ?" tanya Kiran lembut.
"Iya kek,kenapa kakek kayak nggak di urus gini..Bia jadi sedih,masa punya eyang subur,Oma sama Opa juga subur,sekarang lihat kakek kurus jadinya sedih."ucap Bia dengan pandangan yang menatap sedih pada Paman Kiran.
" Kakek memang suka sakit sakitan,mungkin karena kakek sudah tua."ucap Paman Kiran.
" Apa paman menderita satu penyakit?" tanya Abi menyentuh tangan laki-laki itu.
"Nggak papa cuma penyakit lama,sudah lebih baik saat setelah Kiran datang dan mengenalkan anak dan suaminya."ucap Paman Kiran dengan wajah sendunya.
" Paman, Kiran tahu paman nggak pernah mau menyusahkan orang tapi,Kiran mohon paman..ijinkan Kiran bisa bermanfaat buat paman,please.." ucap Kiran menggenggam tangan laki-laki yang dia anggap pengganti ayahnya.
"Paman kamu itu sudah komplikasi,butuh biaya banyak untuk dia bisa sembuh." ucap bibi Endang dengan nada bicara yang masih ketus pada Kiran.
__ADS_1
Perasaan Nia saat ini hanya ada rasa takut,apalagi mulut ibunya yang tidak bisa di kontrol.Nia tahu bagaimana Abi bisa bersikap.Saat ini Nia melihat Abi beda dari Abi yang ada di kantor,di sini terlihat jelas betapa Abi sangat mencintai sepupunya juga putrinya,terlihat oleh mata Nia,Kiran yang berusaha meredam emosi suaminya itu karena setiap ucapan ibunya sepertinya Abi mengeratkan rahangnya dan terlihat Kiran yang berusaha meredam emosi suaminya dengan mengelus lembut lengan suaminya.
"Ayah memang sekarang suka sakit-sakitan mbak,untuk berobat pun kita ngandelin dari pemerintah sedang banyak obat yang harus ayah konsumsi dan itu tidak ke cover asuransi.Sedangkan dirumah ini hanya Nia yang kerja jadi,Nia hanya bisa dilakukan semampu Nia mbak."ucap Nia memang benar adanya.
Nia selama ini memang fokus mencari uang , bagaimana pun ibunya selalu menuntut Nia lebih rajin bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.Apalagi Ibunya yang biasa hidup cukup karena sang ayah dulu selalu memberikan apa yang ibunya mau.
"Nia,besok kamu bisa bawa paman ke Mahardika Hospital dan melakukan general cek up.Jam sepuluh pagi nanti akan ada orang yang menjemput kalian,kita ketemu disana.Paman butuh perawatan."ucap Kiran memandang Nia dengan serius.
"Berarti Nia ijin dong mba?" tanya Nia melirik Abi.
"Kamu besok ijin setengah hari dan antar ayah kamu ke Rumah Sakit,nanti kalau ayah kamu sudah bertemu Kiran di sana kamu bisa kembali bekerja setelah makan siang."ucap Abi.
"Apa nggak papa tuan?" tanya Nia
" ACC dari saya ,nanti saya sampaikan pada Vian buat ijin kamu."ucap Abi.
"Baik tuan, terimakasih mbak ,tuan atas semuanya untuk ayah." ucap Nia dengan menundukkan kepalanya.
"Iya bi,paman butuh penanganan.Bukan hanya dikasih makan saja."ujar Kiran dengan nada menyindir.
"Kiran ,nggak usahlah...paman nggak papa." tolak Paman Kiran.
"Nggak paman,ijinkan Kiran bantu paman yaa..?!" ucap Kiran sendu.
"Baiklah,kalau kalian memaksa._" ucap Paman Kiran pasrah.
"Oh iya..tadi Bia bilang ada yang mau minta ganti rugi karena cuma nyenggol orang di supermarket.maksudnya gimana sayang?" tanya Abi pada istrinya.
Semua orang yang mendengar pertanyaan Abi pun melirik ke arah bibi Kiran.
__ADS_1
"Dad,aku itu cuma nyenggol dikit kok..masa mau meres Daddy dan minta ganti rugi,apalagi dengan seenaknya dia bilang mama itu pembantu,gedeg deh...!!" ungkap Bia dengan melirik sinis bibi Kiran.
"Sudahlah mas nggak usah di permasalahkan,aku nggak papa Lagian kita nggak ada luka kok.Sabar...." ucap Kiran dengan nada lembut.
"Okelah,kita sudah selesai kan..kita pulang sekarang yaa..sudah malam juga."ujar Abi.
Kiran dan Bia mengangguk setuju dengan usul Abi,mereka bangkit dari tempat duduk mereka dan berpamitan pada pamannya dan Nia.Saat Kiran di depan bibinya mengulurkan tangan untuk salaman ,bibinya masih ogah-ogahan menyambut tangan Kiran kalau tidak karena Nia mengingatkan ibunya itu mungkin bisa saja tangan Kiran dia tepis.
"Bi,Kiran ada sedikit rejeki..ini buat pegangan bibi,kalau bibi khawatir dengan keadaan bibi karena ulah anak Kiran,besok bibi bisa sekalian general cek up juga sama paman "ucap Kiran menyerahkan amplop putih pada tangan bibinya.
" Kamu kira bibi kamu ini sakit apa,aku sehat."ujarnya dengan ketus.
"Baguslah ,berarti bibi masih punya energi buat marah-marah berarti bibi sehat."ujar Kiran dengan senyum miring .
Saat sang bibi ingin membalas omongan Kiran ,Nia mencegah ibunya dan menyuruh Kiran cepat-cepat pergi karena Nia tak enak hati dengan kakak iparnya alias boss nya itu.
Keluarga Kiran pun akhirnya pergi meninggalkan rumah sang paman dan kembali ke rumah mereka.
Sementara di sisi lain Asti sedang mengumpat habis dan menendang nendang ban mobilnya yang kempes.
"Sial,sial ,sial...udah malem gini kenapa harus kempes sih,sepi lagi..nggak ada bengkel di sekitar sini."gumam nya menatap kesal pada ban mobilnya.
"Ada yang bisa gue bantu?" tanya seserang yang tiba-tiba muncul di belakang Asti membuat dirinya terkejut setengah mati.
Saat akan mengumpat orang itu hati Asti memanas setelah tahu siapa orang yang ada di belakangnya itu.Emosinya malah semakin tinggi,apalagi melihat tampang orang itu yang membuat Asti muak.
Bersambung.
Hayooo siapa yang ingin tau Asti sama Gema ??
__ADS_1
Bab berikutnya yaaa...