
Selamat membaca🤗
****
Mengetahui kabar gembira itu, tentu kedua orang tua Jungkook dan terutama Jungkook begitu sangat gembira sekaligus tidak menyangka.
Yuni kemudian terlihat perlahan membuka mata nya dari pingsan, tangan nya berisi kan selang infus lantaran kondisi nya melemah.
“eeeem, aku dimana?”
tanya Yuni yang kebingungan itu.
“Kau di Rumah Sakit sayang....”
ujar Jungkook lirih sambil menggenggam tangan Yuni dengan erat.
“Yuni, bagai mana keadaan mu sekarang? Apa kau merasa pusing berlebihan atau bagaimana?”
tanya ibu penasaran.
“Memang kenapa, aku tidak pusing sama sekali sekarang. Aku tidak apa-apa bu!”
seru Yuni yang masih sedikit lemas itu.
“Yuni, ibu senang sekali... akhirnya impian ku untuk menjadi nenek akan terwujud!”
seru ibu yang membuat Yuni bingung.
“Maksudnya apa? Aku tidak mengerti!”
ujar Yuni yang bingung.
“Apa kau tau? Sekarang di dalam perut mu, ada Jeon junior....”
ucap ibu yang kemudian mengusap rambut Yuni dengan sangat lembut.
“Apa? Jeon junior?”
tanya Yuni yang masih tidak percaya.
Kemudian, ibu pun mengangguk memberi tanda bahwa semua itu benar ada nya. Yuni yang mendengar pun mata nya berkaca-kaca karna terharu akan kabar baik itu.
Hadiah istimewa untuk keluarga Jeon dengan kehamilan Yuni. Sebab semua tidak akan menyangka bahwa Yuni dan Jungkook benar-benar akan jadi orang tua sebentar lagi.
Setelah dirawat di Rumah Sakit ke esokan malam hari nya, Yuni sudah boleh pulang. Jungkook yang sempat pergi ke kantor itu memilih pulang lebih awal untuk menjemput Yuni di Rumah Sakit dan membawa nya pulang.
Jungkook memperlakukan Yuni dengan sangat lembut, bahkan dia menuntun Yuni menaiki anak tangga dengan sangat telaten.
Meskipun begitu, Yuni masih tampak kesal dengan kejadian kemarin yang baru di alami nya.
“Berbaring lah, aku akan membawakan air minum untuk mu. Pasti menaiki anak tangga membuat mu merasa lelah pada kaki mu, nanti aku akan memijat nya juga”
seru Jungkook yang sangat perhatian itu.
“Jadi, kau perhatian begini untuk membuat ku tidak marah lagi ya? Benar-benar menyebalkan...”
seru Yuni dengan wajah sinis.
“ini minum dulu. Dan setelah itu lanjut mengomel nya lagi ... minum supaya tenggorokan mu tidak kering”
ujar Jungkook sambil membawakan segelas air minum untuk Yuni.
Yuni yang masih kesal itu mengambil nya dengan wajah sinis, hormon ibu hamil akan sering berubah-ubah. mungkin itu juga sebab nya Yuni sering marah-marah walau hal terkecil sekalipun.
“Menyebalkan sekali sih, kau asik bermesraan dengan sekertaris cantik mu itu. Sama sekali tidak memperdulikan aku.”
gerutu Yuni yang kesal. Sementara itu Jungkook sedang memijat kaki Yuni dengan lembut sambil tersenyum mendengar ocehan Yuni.
“Apa kau tau, aku juga bisa berdandan cantik dan memakai baju sexy seperti dia. Bahkan jika aku sudah berdandan, aku pasti dilirik pria lain di luar sana. Itu sungguh merepotkan”
gerutu Yuni yang sedang mengomel.
“Laki-laki kalau melihat wanita berbaju sexy pasti senang sekali. Padahal sudah punya istri seperti kau itu... benar-benar mata keranjang!”
ucap Yuni yang tak henti-henti nya mengomeli Jungkook. Meskipun begitu Jungkook tetap tersenyum dan terus memijat kaki Yuni.
“aaah, sudah berhenti. Aku seperti bicara dengan patung saja dari tadi kau hanya tersenyum dan diam... menyebalkan”
gerutu Yuni yang melipat kedua tangan nya didada nya dengan wajah kesal.
Sementara Jungkook pun, mendekati Yuni dan membelai rambut nya. Dia terus memandangi wajah Yuni yang sedang cemberut itu.
“Maaf, dan terima kasih....”
ujar Jungkook lirih, sambil menyentuh pipi Yuni dengan lembut nya.
“Apa kau suka melihat wanita berpakaian sexy? Katakan lah? Kalau suka aku akan memakai baju sexy mulai sekarang”
gerutu Yuni yang masih kesal.
“Marah lah, dan keluarkan semua uneg-uneg mu. Itu akan lebih baik aku sangat senang sekarang. Bahkan seperti nya aku tidak punya amarah lagi untuk mu....”
__ADS_1
ucap Jungkook yang tersenyum bahagia memandang Yuni.
“owh, jadi menurut mu kau sebenar nya ingin marah tapi ditahan begitu ya? Apa kau mau bertengkar dengan ku? Ayo, kita bertarung sekarang ... sudah lama juga kita tidak bertengkar”
gerutu Yuni yang kesal.
Sementara Jungkook semakin tersenyum lebar menatap Yuni dengan wajah kesal nya. Perlahan Jungkook pun menyentuh kedua pipi Yuni dan melimat bibir nya dengan lembut.
“Apa-apaan ini? Aku mengajak mu bertarung, bukan bermesraan!”
seru Yuni semakin membuat Jungkook gemas.
“Bibir mu imut sekali kalau sedang marah!”
ujar Jungkook yang terus-terusan tersenyum.
Sementara Yuni terus-terusan mengomel bahkan membicarakan sesuatu yang tidak jelas pada Jungkook. Untuk setiap moment, Jungkook sesekali mengecup bibir Yuni dengan lembut.
Ketika marah nya makin menjadi, Jungkook melumat bibir Yuni dengan cukup lama. Yang membuat nya berhenti untuk mengomel pada Jungkook.
“Hiis, benar-benar menyebalkan”
gerutu Yuni sambil memukul pundak Jungkook.
“Apa sudah cape mengomel nya? Ayo tidur, aku ingin memeluk mu dan Jeon kecil kita....”
ucap Jungkook yang kemudian merebahkan tubuh Yuni perlahan keatas kasur.
“Kenapa rasanya aneh begini? Aku mengomel kau hanya diam saja sambil tersenyum. apa kau sudah lupa kalau dulu kita ini musuh?”
tanya Yuni yang berada dipelukan Jungkook.
“Sekarang diam lah, dan biarkan aku bicara. Mengerti?”
ujar Jungkook yang terlihat serius itu.
“Pertama, aku ingin meminta maaf karna kesalah pahaman kemarin. Dengar Yuni secantik dan sesexy apapun wanita diluar sana, aku tidak bisa tergoda dengan mudah nya. Apa kau tau? Aku sudah jatuh cinta padamu sejak kita kecil dan sering bermusuhan. Sejak kecil itu pula, aku tidak bisa menyukai gadis lain selain dirimu...”
ucap Jungkook yang menatap Yuni sangat dalam.
“Dan yang kedua, aku ingin berterimakasih padamu, karna sudah membari ku gelar sebagai appa, kau sudah membuat hidup ku semakin berharga. Aku benar-benar sangat mencintai mu Yuni, aku bahkan belum bisa memberi mu apa-apa tapi kau sudah memberi ku kebahagiaan yang tak ternilai harga nya”
ucap Jungkook kembali sambil mencium kening Yuni dengan mesra.
“Benar, kau tidak menyukai nya?”
tanya Yuni yang masih sedikit kesal.
seru Jungkook sambil medaratkan ciuman ke bibir mungil Yuni dan melumat nya dengan lembut.
****
Sementara keesokan hari nya, Jungkook kembali memulai aktifitas nya untuk berangkat ke kantor, Yuni yang sudah tidak marah itu membantu memasangkan dasi untuk Jungkook seperti biasa nya.
“Aku nanti mau main kerumah ayah, jadi apa kau mau ikut?”
tanya Yuni sambil melirik wajah Jungkook.
“Seperti nya aku akan lembur malam ini, aku tidak bisa. Maaf ya Yuni....”
ucap Jungkook bersedih.
“owh, begitu ... baik lah!”
ucap Yuni yang sedikit murung.
“Aku titip salam pada ayah ya, dan jangan lupa memberitahu ayah tentang kabar baik itu”
ucap Jungkook yang mencium pipi Yuni seketika.
yuni hanya tersenyum sambil fokus mamasang kan dasi Jungkook. Dan tak lama kedua nya terpisah, Jungkook yang memulai perkerjaan nya di kantor, sedangkan Yuni berangkat kuliah.
“Selamat pagi pak!”
sapa Jane pada Jungkook yang baru saja datang dan masuk keruangan nya. Namun Jungkook terlihat sangat dingin tanpa menatap jane sedkitpun.
“(Kenapa dia dingin sekali padaku? Apa karna istri nya yang marah? Bahkan aku lebih cantik dari istri nya. Aku tidak mengenal kata menyerah jika sudah memutus kan sesuatu)”
gerutu nya dalam hati.
“Pak, perkerjaan mu yang kemarin sudah aku selesaikan karna kau pulang lebih awal jadi supaya hari ini tidak terlalu sibuk.”
ucao Jane yang mencoba mengajak Jungkook bicara.
“aaah, kepala ku pusing sekali rasanya.”
ucap Jane yang berada didekat Jungkook.
Tak lama dia pun pingsan, dengan reflek Jungkook kembali menangkap tubuh Jane. Menggendong nya dan membaring kan nya disofa.
Saat hendak akan melepaskan tangan nya. Jane kemudian dengan sengaja mengecup bibir Jungkook dengan cepat. Hal itu tentu saja membuat Jungkook kaget dan menjauh seketika.
__ADS_1
“Apa kau sudah gila? Apa yang baru saja kau lakukan?”
tanya Jungkook yang berwajah kesal, sementara lipstik Jane sedikit menempel dibibir nya.
“Maaf presdir, aku tapi hanya reflek saja. Aku benar-benar sudah tergoda oleh mu....”
jawab Jane yang sedikit menunduk dan mengalihkan mata nya dari tatapan sinis Jungkook.
“Apa kata mu? Tergoda? Aku sudah beristri jadi jaga sikap mu itu....”
tegas Jungkook berwajah kesal.
“Tidak apa-apa pak, aku tau itu. Aku juga tidak mau membuat mu mengabaikan istri mu. Jadi, bisa kah kita memiliki hubungan dibelakang istri mu?”
tanya Jane memberi penawaran itu.
“Apa kau ini sangat tidak tau malu? Kenapa kau bisa menyukai pria yang telah menikah? Apa sudah tidak ada pria yang mau dengan mu?”
tanya Jungkook dengan wajah marah.
“Apa aku bisa menyalah kan cinta? Cinta bisa datang kapan saja tanpa diduga dan dengan siapa pun itu.”
ucap Jane yang memeluk tubuh Jungkook dan memcium kerah baju nya yang memakai lipstik tebal tadi.
“Kau benar-benar sudah kelewatan. Ini sudah keterlaluan. Menyingkir lah!”
seru Jungkook yang mendorong tubuh Jane dari badannya.
Sementara itu Jungkook melanjutkan pekerjaan nya di depan komputer, Jane yang masih berwajah kesal tampak memandangi Jungkook yang mengabaikan nya.
“(Aku tidak percaya dia menolak ku barusan, tapi. Kehancuran mu dan istri mu akan dimulai. Cepat atau lambat kau akan jatuh kepelukan Jeon Jungkook)”
gumam Jane dalam hati, yang kemudian duduk di kursi nya melanjut kan pekerjaan nya.
Sementara itu Yuni yang selesai jam kuliah kemudian pergi menyambangi rumah ayah nya.
Ayahnya sedang berada direstoran mie milik keluarga nya.
“Ayah, aku datang....”
sapa Yuni pada ayah nya yang tengah mengaduk adonan untuk mie.
“Yuni ku sayang....”
seru ayah Yuni yang sangat bahagia itu.
Dan kedua nya pun berpelukan, untuk melepas rindu satu-sama lain.
“Ayah, aku bawakan sepatu untuk ayah. Aku tau ayah jarang membeli sepat. Padahal ayah sendiri tidak punya banyak sepatu.”
ucap Yuni dengan senyum diwajah nya.
“Terimakasih ya nak, dengan kedatangan mu saja, ayah sudah senang!”
ucap ayah Yuni bahagia.
“Jungkook tidak ikut datang?”
tanya ayah pada Yuni.
“Dia sibuk sekali sekarang ayah, dia sudah menjadi orang kantoran. Aku jarang bertemu dengan dia”
ucap Yuni yang sedih.
“Tidak apa, kau harus terus mendukung nya. Dan jangan membuat nya patah semangat. Jadilah istri yang baik dan berbakti untuk nya!”
ucap ayah Yuni memberi nasehat.
“Ayah, aku mau jujur soal kesalah pahaman waktu itu. Sebetul nya, kemarin itu aku tidak benar-benar hamil. Maaf ya, aku tidak jujur pada ayah”
ucap Yuni bersedih.
“owh, jadi begitu ya. Tidak apa Yuni, jangan putus asa. Mungkin Tuhan belum menganugrahi kepercayaan pada keluarga kecil mu”
ujar ayah yang sedikit sedih itu.
“Tapi kabar baik nya, sekarang aku sudah positif hamil ayah....”
lanjut Yuni dengan senyum lebar pada ayah nya.
“Benar kah? Syukur lah nak....”
ucap ayah Yuni yang bahagia dan memeluk Yuni dengan erat.
Pada akhir nya kebenaran sesungguh nya mampu memperbaiki keadaan buruk sekalipun.
Yuni dan ayahnya yang bahagia itu tampak bersuka cita menyambut kebahagiaan kecil itu.
Namun dibalik senyum Yuni, ada ancaman yang terus mencoba mengambil kebahagiaan nya itu. Mampu kah Yuni bertahan dan membuat semua nya baik-baik saja?
Bersambung....
__ADS_1