
Pagi hari Kiran mengambil beberapa alat test peck yang di belikan Nia tadi malam.Dia menarik nafasnya dengan dalam.
"Bismillah,kalau negatif nggak perlu sedih."gumam Kiran.
Kiran turun dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi.Dia mengambil penampungan kecil untuk menampung air se*i nya untuk di uji.Tak butuh waktu lama Kiran mencelupkan benda strip panjang itu dan ada juga yang di teteskan,dia diam sambil menunggu harap-harap cemas dengan hasil yang dia harapkan.
Saat dia melihat hasil test kehamilan itu pun Kiran menangis seketika.Tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata apa yang dia rasakan kali ini.Dengan keadaannya yang sekarang tentu dia bisa merasakan bedanya saat tahu dia akan memiliki Bia dan saat ini strip panjang itu menandakan dua strip merah dan tandanya dia positif.
"Hiks hiks hiks..mas..."tangis bahagia pecah di dalam kamar mandi itu .
Tok tok tok
"Mba Kiran are you oke,mba..!!" seru Nia menggedor pintu kamar mandi dan berusaha membukanya.
Ternyata pintu kamar mandi itupun tak di kunci dan Nia dapat melihat Kiran yang duduk di lantai kamar mandi dengan memegang test peck di tangannya.
Nia mencoba mengambil test pack itu dan melihat hasilnya.Nia tersenyum,bagaimanapun dia tahu apa yang tertera di alat itu.Nia bukan gadis polos dan lugu pastinya tahu akan alat itu.
"Alhamdulillah mba,selamat yaa...aku punya ponakan lagi.." seru Nia dan memeluk sepupunya dengan erat .
Keduanya saling berpelukan dengan erat dan menangis bahagia.
"Ayo mba,berdiri.Disini dingin.."ucap Nia membantu sepupunya untuk berdiri.
Mereka keluar dari kamar mandi dan mendudukkan tubuh Kiran yang terlihat lemas di tempat tidur.Nia langsung keluar kamar dan memanggil mama dan papa nya
"Mah ,pah...!!" seru Nia berteriak di depan kamar orang tuanya..
Tok tok tok
Ceklek
"Ada apa Nia,kenapa kamu gedor-gedor pintu kamar mama?!" ucap Bik Endang dengan sedikit kesal dengan tingkah putrinya yang masih pagi buta membuat heboh rumah.
"Mamah jangan marah-marah dong,nih lihat mba Kiran sudah test dan ini hasilnya ." ucap Nia dan menyerahkan alat kehamilan itu pada sang mama.
Sofyan dan Endang saling pandang dan tersenyum gembira melihat hasilnya.
"Mah kita mau punya cucu lagi, Alhamdulillah.." ucap Sofyan dengan tangis haru.
" Ya Allah Alhamdulillah...Kiran ..!!" seru Endang langsung melangkah masuk ke kamar Nia.
__ADS_1
Terlihat Kiran yang terbaring dengan wajah terlihat pucat.
" Kiran ,kamu nggak papa.Kita kerumah sakit yaa..kamu sudah pucet gitu.." ucap Paman Sofyan khawatir dengan keadaan ponakannya.
" Kamu tiduran saja,biar bibi buatkan teh anget.Kamu mual nggak?" tanya Endang penuh perhatian.
" Sedikit bi.." ucap Kiran dengan suara lemahnya.
" Ya sudah,bibi buat jahe hangat papa beli sarapan ,Nia kamu jaga mba mu yaa..awasi jangan sampe kenapa-kenapa." ucap Endang dengan heboh.
Melihat kehebohan bibinya dan terlihat wajah bahagia paman dan bibi nya Kiran merasa haru,kehamilan dia kali ini banyak yang mendampingi nya.
Kiran teringat akan Bia yang sempat kesal dengan dirinya kemarin.Dia ingin memeluk putri sulungnya saat ini.
" Mba kenapa nangis,apa yang mba rasakan sekarang,apa ada yang sakit?" tanya Nia khawatir dengan sepupunya yang tiba-tiba menangis.
" Mba pengen ketemu Bia ,Nia."ucap Kiran dengan tangisnya.
" Nanti kita telpon Bia mba,ini masih jam enam pagi nanti yang ada kak Abi sama Bia kalangkabut."ucap Nia memberikan pengertian pada sepupunya.
.
.
.
Bibi Endang terlihat sibuk menghubungi seseorang untuk melakukan pemeriksaan kandungan agar dapat nomer antrian awal.
"Sudah siap Ra?" tanya Bik Endang terlihat sangat antusias.
"Sudah bik."jawab Kiran dengan wajah yang terlihat pucat.
"Kamu kok yang kalang kabut gitu mah,santai kasihan Kiran nya."ucap Paman Sofyan.
"Pah,ini mama mau punya cucu pokoknya harus dengerin kata bibi juga mertua kamu,sama ibu angkat mu ya.."ucap Bik Endang
"Iya Bik, terimakasih banyak atas semuanya yang bibi kasih buat Kiran."ucap Kiran dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kiran bibi malah mau minta maaf karena selama ini bibi yang selalu membuat kamu menderita,bibi sadar tak ada gunanya rasa iri atau takut kehilangan itu malah bikin kita lupa diri.Sudahlah,yang penting di kehamilan ini banyak orang yang akan lebih bawel sama kamu."ujar Bik Endang.
Kiran membayangkan bagaimana reaksi semua orang yang ada dalam keluarganya tahu tentang kehamilan Kiran pastinya akan banyak yang mengaturnya ini dan itu, sedang dulu saat hamil Bia cuma Mak Leha yang sangat protektif padanya saja bikin pusing apalagi membayangkan ada mertuanya,Mak Leha,tambah Bik Endang dan jangan lupa suaminya Abi pastinya dia akan lebih posesif padanya.
__ADS_1
Saat ini Kiran dan bik Endang sudah berada di dalam ruangan dokter kandungan.
"Ada yang bisa saya bantu buu?"tanya sang dokter dengan ramah.
"Begini dok,anak saya tadi pagi test peck dan ternyata positif,kami cuma mau memastikan apakah benar anak saya benar-benar mengandung," ucap bik Endang dengan binar wajah bahagia nya.
"Baiklah mari silahkan Bu,berbaring dan kita akan lihat benar atau tidak nya ibu hamil."ucap dokter kandungan tersebut dan membimbing Kiran untuk tiduran di atas brankar.
Salah satu perawat membantu nya untuk mengoleskan cairan gel untuk melakukan USG secara dini.
"Alhamdulilah bu, benar adanya bahwa ibu Kiran mengandung dan kandungannya masuk ke 8minggu,keadaannya normal hanya saja jaga pola makan dan hindari stress saja.Saya akan buatkan resep vitamin untuk ibu.Ada keluhan pusing, mual-mual tidak?" tanya dokter
"Pusing sedikit dok,misalnya tadi mual sih cuma nggak sampai parah,cenderung emosian saja ,terus hawanya ngantuk juga."ujar Kiran memberi tahu kan keadaannya.
Setelah menebus obat akhirnya mereka pun kembali kerumah Bik Endang.
Bik Endang meminta untuk singgah ke suatu toko dan tak lama kembali dengan satu paper bag dan mengambil kotak yang ada di dalamnya dan menaruh hasil USG dan juga test pack ke dalam box tersebut dan terselip kertas kecil disana.
Kiran yang belihay tingkat bibinya hanya bisa geleng-geleng kepala.Bisa juga bibinya bikin kejutan.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di depan gang rumah dan langsung menuju rumah bibinya.
Terlihat mobil Abi yang terparkir di depan gang.Menandakan suaminya sudah sampai.
"Sayang,kamu kenapa.Kamu katanya dari dokter,kata dokter apa?" cecar Abi saat melihat Kiran dan bibinya masuk dalam rumah.
"Daddy bisa nggak kalau nanya itu satu satu,heboh banget sih...mah duduk dulu."protes Bia yang melihat tingkah Daddy nya yang tak sabaran.Apalagi melihat wajah mamanya pucat.
"Abi,ini hasil pemeriksaan istri kamu dan pesan dokter kamu harus mendampingi istrimu sampai sembuh dan bisa beraktivitas seperti dulu."ucap Bik Endang dengan penuh drama.
Abi hanya bisa menatap wajah Kiran yang pucat,pikirannya pun sudah berpikir negatif.
Bik Endang menyodorkan paper bag kecil ditangannya pada Abi dan Abi pun langsung dengan tak sabaran dia membuka kotak yang ada di dalam paper bag dan melihat sebuah foto buram dan ada benda yang tidak dia sangka.
Abi mengeluarkan air mata bahagia ya menatap tak percaya dan menggeleng cepat
"Ini nyata sayang..?"tanya Abi dengan air mata bahagia mengalir di deras.
"Ya...seneng nggak?" tanya Kiran lirih menatap Abi lekat.
__ADS_1
"Sangat,sangat sayang...terima kasih.."ucap Abi dan memeluk tubuh istrinya dan menciumi wajah istrinya dengan sayang.
Bersambung