
Abi menarik tubuh Kiran dalam pangkuannya dan memeluknya erat,ada rasa damai jika dia dekat dengan istrinya itu.Rasa takut dan resah selama ini hilang cuma karena mencium aroma tubuh istrinya itu.
Kiran melihat kelakuan Abi yang sedang manja pada nya pun membelai lembut rambut suaminya ,rahang yang terlihat kokoh.
Abi membenamkan wajahnya di dada Kiran diantara dua gunung kembar yang saat ini terlihat lebih menantang.
"Kamu kenapa jadi manja gini,hemm?" tanya Kiran dengan menoel hidung suaminya.
"Berhari-hari aku kepikiran soal banyak hal , besok kita akan tahu siapa pemilik 65% saham milik Mahardika." ucap Abi.
"Yah kamu pun harus ikhlas menerima kenyataan nantinya kamu sudah punya 20% saham Mahardika yang kamu akusisi dan dialihkan ke A'K Group ,semoga nantinya pihak lain bisa di pihak kamu."ucap Kiran mencoba menenangkan sang suami.
Abi menatap wajah istrinya yang terlihat teduh itu tangannya yang satu setia melingkar di pinggang Kiran tangan satunya meraih tengkuk sang istri dan membenamkan bi*irnya ke bib*r Kiran.Mata mereka pun saling bertemu.Kiran tak menolak karena memang dia harus menenangkan pikiran suaminya. Abi yang selalu sukses membuat Kiran merasa melayang jauh ke atas awan dengan sentuh*n dan belaian tangan besar itu membuat rasa ingin lebihnya makin meningkat. Apalagi keadaannya yang sedang hamil dan pengaruh hormon pun sangat berpengaruh. Sebenarnya kehamilannya kali ini beda dengan kehamilan Bia dulu ,saat ini mungkin dia lebih santai tapi, kalau di tanya dia tiap malam selalu merasa rindu dengan sentuh*n suaminya. Walaupun dia tahu suaminya tak mungkin bisa setiap saat ada di dekatnya
"Mas,aku kangen...," ucap manja Kiran
"Mas juga sayang,tapi..mas takut deseknh kesakitan nih..."ucap Abi sambil mengelus lembut perut Kiran yang sudah mulai menonjol
"Nggak kok kalau mas ngelakuinnya dengan lembut ,"ucap Kiran pada suaminya.
"Sayang,Daddy mau jenguk kamu boleh yaa..jangan nakal.."ucap Abi pada calon anaknya yang masih tiga bulan di dalam perut Kiran.
"Iya dad,aku sama mama sudah kangen daddy.."sahut Kiran dengan nada mengikuti suara anak kecil.
Abi bergelak mendengar ucapan Kiran yang sedang menadmba itu
"Sayangggg..." panggil Kiran manja.
Tanpa basa basi Abi meraup bibi* tipis nan sexy milik istrinya mengekspor dalam sana mengobrak abriknya penuh semangat .Dengan senang hati Kiran menyambut sentu*an suaminya yang sangat dia rindukan.
Abi membopong tubuh istrinya tanpa melepas tautan mereka .Suara merdu menggema di kamar nan remang itu.Abi meletakkan tubuh sang istri di atas tempat tidur dengan perlahan.
Abi dengan cepat menanggalkan kain yang membungkus tubuhnya hingga tersisa boxer minionnya.Kiran yang melihat salah tingkah di buatnya.
"Kenapa sayang,masa masih malu saja sama Kuda nil ku,hemm," goda Abi menatap penuh damba pada istrinya.
__ADS_1
"Masss...!!"pekik Kiran semakin merasa malu mendengar godaan suaminya.
Abi mulai mengungkung tubuh istrinya dengan menahan tubuhnya dengan dua sikunya dan lututnya agar tidak menekan tubuh istrinya.
Pandangan keduanya pun sudah penuh gelora asmara yang didamba.Abi mengecup kening istrinya berpindah ke kedua mata Kiran,pipi,hidung,dagu dan mendarat di bibir manis Kiran.Mulai memag*tnya dengan lembut dan intens.Awalnya semua terasa lembut namun ,moment berikutnya saling menuntut.
Entah sejak kapan keduanya sudah menanggalkan kain yang melekat pada tubuh mereka yang kini tersembunyi di balik selimut tebal menutupinya.
Abi pun melancarkan aksinya begitu mahir membuat sang istri mengeluarkan kata-kata yang membuat dirinya semakin menggil*.
"Daaaddd....emmmmm.". racau Kiran menyebut Abi dengan panggilan dad.
"Sayang...aku suka panggilan kamu,serasa jadi sugar daddy....hemm" goda Abi menanggapi racauan istrinya yang sekarang bergerak dengan gelisah.
Kiran bergelak mendengar ucapan suaminya yang sungguh sangat sempurna baginya.Penyatuan keduanya sama-sama membuat mereka semakin menambah menyayangi dan mencintai satu sama lain.
"Terimakasih sayang,adeknya nggak rewel kan sayang,maaf yah..kalau daddy nakal."ucap Abi setelah perang badai dan dengan menciu* perut Kiran yang sudah mulai membuncit.
"Adek baik-baik saja kok dad, makasih sudah manjain mama.."ucap Kiran membalas ucapan suaminya.
Sebelum tidur mereka pun membersihkan diri.Tak lupa Abi selalu saja langsung dengan sigap membopong istrinya untuk ke kamar mandi dan membantu membersihkan tubuhnya.Dirasa sudah selesai baru mereka tidur dengan nyenyak dengan saling berpelukan tentunya.
.
.
.
Pagi hari setelah selesai sarapan mereka hari ini mengagendakan jika akan ke kantor pengacara.
Dalam perjalanan menuju ke kantor pengacara ponsel Abi berdering.
"Sayang maaf,Bia telpon aku nih..kamu yang angkat.'ucap Abi karena dirinya dalam posisi menyetir.
"Assalamualaikum sayang..."salam di ucapkan oleh Kiran saat mengangkat panggilan dari sang putri.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam,kenapa mama yang angkat telepon Daddy, kalian lagi berdua ,pacaran ,enak banget aku disini ngungsi mama sama Daddy enak-enak pacaran..." omel Bia saat mendengar siapa yang mengangkat panggilan dari ponsel daddynya.
Semua orang yang ada di mobil itu pun langsung menahan tawa mendengar celotehan ABG labil kesayangan mereka.
"Baby,kenapa kamu marahin mama.Nggak boleh gitu dong .."ucap Abi mengingatkan.
"Kok Daddy belain mama bukan belain Bia,Daddy sudah nggak asik..pasti semalam Daddy sama mama habis sayang-sayangan deh.."ucap Bia dengan begitu polos nya.
Abi dan Kiran saling pandang dan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Disini mama sama Daddy mau kekantor pengacara,ada yang lain juga.Bia oke disana?"tanya Abi memastikan keadaan sang putri.
"Tenang saja dada,aku happy di sini sama aki Sapto sama Nini Darmi....ya udah semuanya bye..!!".
Panggilan telepon pun diakhiri dengan sepihak.Mereka tahu seberapa posesif nya Bia pada daddynya itu.
.
.
Sampai di kantor pengacara semua langsung menuju ruang meeting dan siap mendengarkan isi dari surat wasiat itu.
"Pagi pak Bambang.." sapa Abi menyalami pengacara itu.
"Pagi tuan Abi,semuanya."ucap Bambang dan menyalami semuanya.
"Gimana pak,apa dokumennya sudah lengkap dan di periksa dengan benar dan memastikan keabsahannya."ucap Papa Beni
"Alhamdulillah semua sudah kami pelajari dan kami sudah mengecek apakah benar atau tidak ternyata semua asli dan itu di akui keabsahan nya .'ucao Bambang.
"Alhamdulillah kalau begitu."ucap Beni merasa lega mendengar ucapan Bambang barusan.
"Semua sudah siap?" tanya Bambang pada semuanya yang hadir.
Semuanya mengangguk dan rasa penasaran juga rasa resah juga menyelimuti hati mereka.
__ADS_1
Bersambung