
Pagi ini sesuai dengan janji pada sang paman Kiran akan membawa pamannya untuk melakukan medical check up di Mahardika Hospital.
Sesuai kesepakatan Kiran akan tetap bekerja dan juga Abi akan ke kantornya lebih dulu sekaligus mengantarkan putrinya.
Kiran melangkah masuk kedalam Rumah Sakit tempat dia bekerja.Setelah Abi tahu niat Kiran yang akan membawa sang paman untuk cek kesehatan Abi langsung mengkoordinasikan team untuk memeriksa keadaan paman Kiran.
"Pagi semua..!;" seru Kiran saat masuk ke ruang ganti di ruang UGD.
"Pagi suster Kiran."sapa semua yang ada di ruang ganti.
"Kiran ,nanti jam sepuluh kata Dokter Kansha aku gantiin kamu tugas,emang kamu mau kemana?" tanya Nurul pada Kiran.
Kiran mengulas senyum tipis menatap rekannya itu." Nggak kemana-mana,cuma nanti paman ku mau cek up dan Pak Abi memintaku untuk mendampingi paman ku,walaupun akan ada dia disini juga tapi, alangkah baiknya kalau aku juga ikut."terang Kiran
"Paman kamu sakit apa emang nya?" tanya Ambar penasaran.
"Belum tahu kata bibi ku komplikasi,cuma kan belum tahu pastinya sakit apa saja paman ku itu." jawab Kiran pada Ambar.
.
.
Di tempat lain Vian yang di utus untuk menjemput keluarga paman Kiran dia sudah ada di depan gang rumah paman Kiran.Dia berjalan kaki sekitar seratus meter dari depan dan menatap bangunan yang sederhana menempel dengan bangunan lainnya.
"Assalamualaikum." ucap Vian saat di depan rumah paman Kiran.
"Wa'alaikumsalam,pak Vian."ucap Nia yang kaget dengan kehadiran atasannya itu.
"Siapa Nia?" tanya sang ibu yang ikut keluar dari rumah nya.
"Oh ini ada Pak Vian mah." jawab Nia Apada sang mama "Pak Vian silahkan masuk." ucap Nia mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Melihat penampilan Vian yang rapih dan terlihat penmpilan Vian tentu bisa di tebak jika Vian bukan pria biasa.Terbit senyum penuh arti dari bibir wanita paruh baya itu.
"Masuk dulu nak,biar Nia buatkan kopi dulu.Kamu mau jemput Nia kan," ucap Bik Endang
"Maaf saya di perintahkan tuan Abi untuk jemput paman dari nona Kiran,apa beliau sudah siap buat kita kerumah sakit," ucap Vian dengan datar.
"Oh sudah pak,saya panggil papa saya dulu.Apa bapak mau masuk dulu," ucap Nia dengan sedikit merasa sungkan.
"Tidak usah terimakasih, silahkan untuk kita cepat ke rumah sakit."ucap Vian dengan wajah dinginnya.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara pun akhirnya Nia mengatakan pada papanya jika jemputan mereka sudah datang.
"Dia siapa sih Nia, ganteng sih..tapi angkuh ."cibir Bik Endang
"Husttt..jangan ngomong sembarangan ma,dia itu orang kepercayaan nya tuan Abian bos Nia,sudah ayo pah kita berangkat.Pak Vian sudah lama nunggu."ucap Nia pada sang ayah.
"Ayo nak.."ucap Paman Sofyan pada putrinya.
Mereka bertiga pun keluar dari dalam rumah dan segera menuju mobil yang terparkir di depan gang.
Tak banyak basa-basi mobil pun meluncur ke arah Mahardika Hospital.
Drrrrrttt Drrrttt
📞Gema Calling..
"Ya,ada apa Lo telpon gue?" tanya Vian to the point.
"Lo yang handle Anna sama anaknya yah,gue ada urusan."ucap Gema
"Ngapain Lo,tumben.Gue sama Abi janjian di Rumah Sakit,kalau gue doang yang dateng yang ada gue kewalahan.Gue harus nunggu Abi sama Kiran buat lakuin medical check up buat pamannya Kiran di RS."ungkap Vian
"Emang nggak bisa di handle juga," ucap Gema.
" Ya sudah gue kesana ,tapi..gue minta bantuan Lo buat urusin masalah gue sama Asti." ucap Gema akhirnya jujur pada Vian.
" Brother ku, kalau soal cewek bar-bar itu sudah ada pawangnya.Hanya Kiran sama Bia yang bisa handle dia.Makanya Lo deketin Kitan atau Bia,buat bantu Lo."ucap Vian.
"Oke lah gue otw ke Rumah Sakit." ucap Gema pasrah.
"Nah gitu dong,namanya solidaritas tanpa batas." ledek Vian.
"Okelah bye..!!"
Panggilan telepon pun terputus dan Vian masih fokus dengan jalan di depan.
"Pak Vian sudah lama kenal mbak Kiran?" tanya Nia dengan hati-hati.
Vian menatap Nia sekilas dan fokus kembali ke depan.
"Saya kenal Kiran saat Abi menikah dengan Kiran .Itupun kami tidak tahu kalau mereka sudah menikah."ucap Vian pada Nia.
__ADS_1
"Waktu sekolah mba Kiran sudah nikah,apa mba Kiran...
"Eeettt...kalau kamu nebak Kiran hamil duluan itu salah,karena saat Kiran hamil saat setelah kami lulus."ucap Vian
"Sudah sampai,kita sudah di tunggu."ucap Vian lagi menyadarkan Jika mereka sudah sampai tempat tujuan.
Vian turus pas di depan Lobby Rumah Sakit dan saat suster yang menyadari bahwa Vian datang langsung membawakan kursi roda untuk paman Sofyan.
Vian dan juga keluarga paman Kiran pun masuk ke dalam Rumah Sakit.
Terlihat Kiran dengan seragam perawat dia menghampiri Vian dan rombongan.
"Ra,Abi sudah dateng belum?" tanya Vian pada Kiran saat mereka berhadapan.
" Sebentar lagi, kenapa?" tanya Kiran
" Nggak apa-apa,gue ke ruangan Yuna,nanti setelah Gema dateng gue nemuin Lo sama Abi."ujar Vian.
"Okelah sebentar lagi visit dokter,kamu tolong awasi dan jangan sampe kecolongan."ucap Kiran.
"Siap bos..!!" ucap Vian pada Kiran dengan sikap hormat.
"Ada apa Lo hormat sama bini gue..!!" tegur Abi yang baru datang.
" Biasa lah pak Bos, Bu Boss lagi bagi tugas." jawab Vian asal.
" Sudah sana..!!" pekik Kiran buat Vian sadar dan langsung menuju ruang rawat Yuna.
.
.
" Sudah siap paman?" tanya Kiran pada sang paman yang ada di kursi roda.
" Siap nggak siap harus siap Kiran." ujar Sofyan menatap ponakannya dengan haru.
Sofyan tak menyangka jika ponakannya menjelma jadi perawat yang cantik dan istri dari laki-laki hebat yang terlihat sangat mencintai Kiran.
Mau melakukan apapun demi istrinya dan terlihat sangat bahagia.Kiran pun masih dengan kesederhanaan dalam kehidupan nya yang pastinya bergelimang harta
Sementara Bik Endang tak percaya dengan apa yang dia lihat,apalagi di rumah sakit terlihat Kiran yang begitu di hormati dan terlihat suaminya yang tajir membuat hati matre sang bibi meronta.
__ADS_1
Nia pun akhirnya cerita siapa Abi sebenarnya.Tentunya itu membuat syok Bik Endang mendengar fakta soal suami ponakannya itu.
Bersambung