Menikahi Pria Kulkas

Menikahi Pria Kulkas
Bab 1


__ADS_3

"Yes, akhirnya aku lulus!" ucap Vayola sambil melompat meninju angin.


"Selamat ya Vay, kamu lulus dengan nilai tinggi." ucap Rani, sahabat Vayola.


"Terimakasih Ran, selamat Untuk mu juga ya." balas Vayola pada Rani sahabatnya.


mereka berjalan beriringan di koridor kampus sambil mengobrol Rringan.


"Vay, setelah lulus, kamu mau kerja atau nikah?" tanya Rani.


"Aku mau Kerja dulu Ran, belum kepikiran mau nikah. Kalau kamu?" tanya balik Vayola pada Rani.


"Kamu pasti sudah tau jawabannya Vay.." balas Rani.


"Iya, kamu sih enak punya orang tua kandung yang sayang banget sama kamu Ran, tidak seperti ku, orang tua angkat ku sangat jahat, selalu memeperlakukan ku seperti Budak, sejak SMA Aku harus membiayayai pendidikan ku sendiri karena mereka takut uang mereka akan habis karena ku. Dan mulai besok aku akan coba melamar pekerjaan, setelah aku memiliki uang yang banyak, aku akan pergi dari Rumah terkutuk itu." jawab vayola dengan penuh semangat membara namun juga ada kesedihan di wajahnya.


Saat ini adalah waktu yang sangat ia nanti-nantikan. Lulus kuliah, mendapat pekerjaan bagus lalu angkat kaki dari rumah orang tua angkatnya yang jahat.


Meskipun jahat namun Vay yang polos tidak pernah berniat untuk membalas kejahatan mereka. Dia sadar jika memang Mereka lah yang menyelamatkan dirinya saat bayi.


Seperti memiliki Hutang budi yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa Dia bayar.


"Semangat Vay, kalau kamu mau, kamu bisa bekerja di tempat Papi ku." tawar Rani pada vayola.


"Tidak, aku tidak ingin punya hutang budi pada siapa pun Ran, aku hanya ingin berusaha sendiri sesuai kemampuan ku. Terimakasih sudah jadi sahabat terbaik untuk ku Ran, hanya kamu satu-satunya orang baik yang ku punya." ucap vayola sambil tersenyum memeluk Rani.


"Jika Butuh Bantuan, jangan segan ya.." ucap Rani membalas pelukan Vayola.


Vayola mengangguk pelan. Rani memang Sahabat terbaik Vayola, mereka bertemu saat sama-sama menjadi Mahasiswi di kampus tempat mereka menimba Ilmu. bisa satu fakultas yang sama dengan Rani adalah Anugerah dari Tuhan untuk Vayola. karena Rani bak malaikat untuknya.


"Ya sudah, Kita pulang Yuk.." ajak Rani melerai pelukannya.


"Nebeng ya..." ucap Vayola nyengir.

__ADS_1


"Boleh.." jawab Rani singkat sambil merengkuh pundak Vayola.


Vayola memang Anak orang kaya, tapi dia tidak pernah mendapat fasilitas mewah dari orang tua angkatnya. Sungguh miria hidup gadis itu.


Terkadang vayola berfikir, Apa alasan orang tua nya mengangkat dia sebagai seorang anak? entahlah.. Hanya mereka yang tahu.


.


.


_Di Kediaman Wijaya.


Mobil Rani berhenti di depan Rumah mewah Agung Wijaya (Papa Angkat Vayola).


"Terimakasih Ran, masuk yuk?" tawa Vayola sebelum turun dari mobil Rani.


"Nggak deh, Takut sama Bokap Nyokap kamu." tolak Rani.


Karena memang semua orang yang ada di rumah itu tidak suka jika ada orang asing masuk rumahnya. Apa lagi tamu dari vayola. Jangan berharap di perlakukan dengan baik oleh mereka.


Rani melajukan mobilnya meninggalkan Rumah Sahabatnya.


Vayola masuk ke dalam Rumah Mewah yang seperti Neraka baginya. Langkahnya terhenti saat seorang gadis tengil dan jahat memanggilnya.


"Vay..!!" teriak Jesie memanggil vayola.


"kenapa?" jawab Vayola singkat dengan wajah datar.


"Kerjakan Tugas Kuliah ku sekarang!" ucap jesie memerintah.


"Tidak bisa, aku harus segera bekerja." tolak Vayola karena memang dia akan berangkat bekerja setelah berganti pakaian nanti.


"Ma, lihat lah.. Vay tidak mau membantu ku.." rengek jesie pada Mama Retno (Mama Angkat Vayola).

__ADS_1


"Vay.. Selesaikan tugas adik mu, Mama tidak mau tahu, besok pagi tugas itu harus sudah dikerjakan!" teriak Mama Retno pada Vayola.


Vayola hanya bisa menghembuskan nafas nya dengan kasar. Dia menerima Buku-buka yang di berikan Jesie, adik Angkatnya itu.


Vayola langsung masuk kamar nya. Kamar yang kecil dengan fasilitas seadanya. Hanya kasur kecil, kipas angin, juga meja belajar dan lemari pakaian kecil. Hampir sama dengan kamar pelayan rumah Wijaya.


Bahkan kamar mandinya berada di luar kamar. Kamar mandi umum yang di gunakan oleh para pelayan di rumah itu.


Vayola membuka kamar nya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat kasur, tanpa ranjang itu.


"Ya Tuhan, Sampai kapan aku harus menjalani hidup ku yang malang ini..??" gumam Vayola menatap langit-langit.


Setelah puas rebahan, Vayola langsung mandi dan bersiap untuk pergi bekerja. Ya, dia akan tetap bekerja sebagai pelayan Cafe sebelum dia mendapatkan pekerjaan.


Tak butuh waktu lama, Vayola sudah siap berangkat bekerja. Tugas Jesie akan dia kerjakan setelah pulang kerja nanti.


Vayola menaiki Ojek untuk pergi ke tempat kerjanya.


15 menit berlalu, vayola sampai di tempat kerja. Dia selalu bekerja di Jam 14.00 - 21.00. Karena vayola yang harus kuliah di pagi hari.


Ibu Ely (Bos Vayola) begitu baik. Bahkan kadang membantu sedikit biaya kuliah Vayola ketika kurang dalam membayar uang semester.


Melihat Vayola yang begitu gigih mengejar cita-cita, Ibu Ely merasa bangga dengan gadis itu. meskipun Ibu Ely tau jika vayola adalah anak orang kaya, namun dia hanya seorang anak angkat yang di sia-sia kan oleh orang tua angkatnya.


"Siang Bu Bos.." sapa Vayola pada Bu Ely.


"Siang Vay..." balas Bu Ely dengan senyuman ramah.


Seperti biasa, Vayola langsung bekerja setelah tiba di Cafe. Dia mulai membersihkan meja yang kotor karena habis di pakai oleh pelanggan.


Vayola selalu telaten dalam bekerja, dia juga rajin dan disiplin. Maka dari itu Bu Ely menyukai gadis itu.


Bu Ely tersenyum melihat semangat kerja vayola. Meskipun hidupnya penuh dengan luka, namun gadis itu selalu berhasil menutupinya dengan wajah yang ceria serta mulutnya yang cerewet.

__ADS_1


"Semoga saja, Hidup Vayola Lekas membaik dan penderitaanya akan berakhir." gumam Ibu Ely.


__ADS_2