Menikahi Pria Kulkas

Menikahi Pria Kulkas
Bab 14


__ADS_3

_Di Tempat lain di kediaman Wijaya.


"Sebenarnya, gadis itu bersembunyi dimana? Kenapa susah sekali menemukannya?" ucap Mama Retno kesal.


"Iya, kita sudah cari Vay ke seluruh penjuru kota, apa mungkin dia kabur sampai luar kota?" sahut Papa Agung.


"Kurang Ajar memang si Vay! Awas saja sampai ketemu, bakal mama iket sampai acara pernikahannya dan tuan jodi selesai." ucap Mama Retno penuh amarah.


Bi Ani yang mendengar penuturan majikannya pun bernafas lega.


"Alhamdulillah Non Vay belum di temukan, semoga Non Vay di tempat yang layak dan juga Aman, semoga ada orang baik yang mau merawat Non Vay." gumam Bi Ani dari dapur.


.


.


_Di Rumah Sakit Jakarta.


Excel dan Vay sudah mendapatkan hasil Visum. Dan hasil itu sesuai dengan apa yang mereka harapkan.


Tak mau berlama-lama, Excel langsung membawa Vay untuk membuat laporan kekerasan dan penganiayaan di Kantor Polisi dengan Orang tua Angkatnya sebagai pelaku.


.


.


_Di Kantor polisi.


Saat ini Vay sedang gelisah, apa keputusannya untuk melaporkan orang tua angkatnya adalah keputusan yang benar?. Vay merasa jadi Anak Durhaka pada orang tuanya. Entahlah.. Vay bingung.


"Jika Ragu, kita pulang! Aku tidak mau membuang waktu dan energi ku jika kau tak bersedia melaporkan kejahatan orang tua angka mu!" ucap Excel tiba-tiba, tentu saja dengan datar dan dingin.


Excel merasa kesal pada Vay. Hati Vay terlalu baik untuk mereka yang tidak segan menyakitinya.


Mendengar tutur kata Excel, Vay jadi merasa bersalah pada Tuannya. Padahal Excel sudah bersedia membantunya, tapi malah Vay bersikap semaunya.


"Ti-tidak Tuan, aku bersedia melaporkan mereka pada polisi." seru Vay dengan mantap.


"Baik, kita masuk!" titah Excel mengajak Vay masuk ke Kantor polisi.


butuh waktu lama untuk membuat laporan, Vay harus menceritakan kronologi dari awal hingga akhir.


Dan Excel membantu Vay untuk menjelaskan semuanya, karena Vay sudah menangis tersedu-sedu membuat perkataannya susah untuk di ungkapkan.


Polisi sudah mendata semua nya. Dan akan segera melakukan Penangkapan untuk Agung Wijaya dan Retno wijaya.


Pihak kepolisian akan melakukan penyidikan pada pelaku kejahatan. Agung dan Retno wijaya belum di katakan sebagai tersangka saat ini, mereka akan di mintai keterangan sebagai saksi.


Setelah melaporkan Agung dan Retno wijaya, Excel dan Vay kembali pulang dan akan menunggu hasil penyidikan.

__ADS_1


Excel juga sudah menyewa pengacara Handal dan juga Kondang. Excel Yakin jika Pihak mereka akan memenangkan kasus ini.


Mereka sudah tiba di rumah Excel. Excel langsung menuju kamarnya untuk mengecek pekerjaanya hari ini.


Dan Vay sedang sibuk membereskan belanjaanya. Dia sudah mengganti dres yang kemarin digunakan dengan pakaian baru saat di mall tadi.


Kasur Vay kini penuh baju dengan berbagai macam model, lalu tas dan beberapa sepatu.


Dia merapikannya di lemari yang sudah ada di kamarnya. Menyusunnya dengan rapi. Saat selesai merapikan, Vay malah tiba-tiba kepikiran tentang kekayaan Excel.


"Tuan Excel memiliki usaha apa ya? Dia benar-benar seorang sultan. Bahkan berbelanja untuk ku sebanyak itu seolah tidak ada artinya bagi tuan Excel." Vay nampak menerka-nerka.


"Ah, sudahlah.. Aku disini hanya akan bekerja untuk nya. Dan aku cukup mematuhi perintahnya saja dan tidak banyak cakap. Ya, begitu saja.!" seru Vay yang tak mau pusing dengan pikiran-pikirannya yang tidak penting.


Vay keluar dari kamar, dia bingung harus apa sekarang. Melihat Rumah ini sangat sepi, dia jadi merasa Bosan.


"Ah, aku bantu Bibi masak saja." tiba-tiba muncul ide di benak Vay.


mengingat hari sudah semakin Sore dan para pelayan sedang sibuk menyiapkan makan malam.


Vay turun ke bawah dan menuju dapur. Vay yang terbiasa membantu Bi Ani di rumah, membuat nya pintar memasak. dan rasanya tak perlu di ragukan lagi, sudah pasti enak.


"Bi, biar Vay bantu ya?" ucap Vay pada pelayan saat sudah sampai dapur.


"Jangan Non, nanti saya di marahi Tuan Excel." sahut pelayan itu pada Vay.


"Tidak akan Bi, Vay juga pekerja di rumah ini. Jadi Tuan Excel tidak akan marah pada bibi." jawab Vay.


"Pacar? Mana mungkin bi.. Bibi ini ada-ada saja. Hahaha" sanggah Vay tertawa terbahak merasa lucu mendengar penuturan Bibi.


"Hehe, maaf Non, bibi kira begitu, soalnya bibi belum pernah melihat tuan Excel membawa masuk Gadis kerumah ini." jawab bibi cengengesan.


"Oh ya Bi, Tuan Excel bekeraja Apa sih? Dia memiliki usaha Apa?" tanya Vay saat rasa penasarannya kembali muncul.


Bibi langsung berubah ekspresi saat Vay bertanya akan hal itu. Tentu saja bibi tau pekerjaan Tuannya. Karena bibi sudah lama bekerja disana.


Bibi mengabdi di keluarga Alexander sudah 25 tahun, sejak Excel masih Kecil. Bahkan Bibi tau betul sifat Tuannya itu.


"Bi.." seru Vay memanggil Bibi yang bengong.


"Maaf Non, bibi tidak tahu apa-apa, karena tugas bibi hanya bekerja." jawab bibi pelayan itu berbohong.


Vay hanya manggut-manggut saja sebagai jawaban. Yang di katakan Bibi pelayan memang benar. Vay pun tak ambil pusing akan hal itu, dia melanjutkan membantu Bibi untuk masak.


1 jam berlalu masakan sudah siap, dan suara Adzan maghrib sudah berkumandang, Vay memutuskan untuk membersihkan diri dan melaksanakan Ibadah.


Dia kembali ke kamarnya dan mandi sebentar, lalu mengganti pakaiannya dan sholat.


Vay nampak lebih segar sekarang, tak perlu memakai make up dia sudah cantik. Kulitnya yang putih tak memerlukan bedak, dan bibirnya yang ranum juga tak memerlukan lipstik.

__ADS_1


selesai dengan kegiatannya, Vay keluar kamar dan memanggil Excel untuk makan malam.


Toookkk Toookkk! Vay mengetuk pintu kamar Excel.


"Masuukkk!!" titah Excel dari dalam sana dengan suara menggelegar dan juga datar.


Vay yang mendengar perintah Excel pun langsung membuka pintu kamar itu perlahan.


Ckleeekk! Pintu terbuka.


"Tuan, makan malam sudah siap!" ucap Vay masih di ambang pintu.


Mendengar suara Vay, Excel langsung menoleh ke arah Gadis itu. Excel tercengang melihat penampilan Vay yang sederhana. Vay hanya mengenakan Pants dan kaos over size, rambutnya di cepol ke atas memperlihatkan leher jenjang putih dan mulus itu.


Excel tak berkedip melihat Vay, hingga Vay menyeru nya lagi.


"Tuan.." tegur Vay masih di ambang pintu.


"Ekheemmm!" Excel berdehem untuk menormalkan pikirannya.


"Ya, tunggu sebentar." ucap Excel.


"Baik Tuan, saya tunggu disini." sahut Vay.


"Masuklah, siapkan pakaian untuk ku, aku akan mandi. Dan jangan keluar dari sini sebelum aku selesai." titah Excel memberi perintah untuk Vay.


belum sampai Vay menjawab, Excel sudah masuk ke kamar mandi.


Vay pun akhirnya masuk lebih dalam ke kamar Tuannya, membiarkan pintu itu terbuka lebar.


Dia membuka lemari pakaian milik Excel lalu memilih pakaian untuk Tuannya.


"Yang mana ya? Ah, Ini saja." ucap Vay lalu mengambil pakaian untuk Tuannya.


Vay mengambil setelan Celana Pendek juga Kaos hitam polos.


Tak lama kemudian, Excel keluar dari dalam kamar mandi. Excel hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Vay tersipu melihat Excel. Jantungnya berdegup kencang saat ini. Pipinya juga merona.


Perut yang sixpack membuat Excel terlihat Sangat Sexy. Rambut yang basah menambah ketampanan Pria itu. dan aroma maskulin Excel yang Khas memberikan ketenangan pada hati Vay.


"Mana pakaianku?" ucap Excel membuyarkan lamunan Vay.


Vay menggelengkan kepalanya dengan cepat, mengusir pikiran yang tidak jelas.


"Ini Tuan, Saya permisi." ucap Vay menyerahkan pakaian itu pada Excel dan langsung pergi keluar dari kamar Pria itu.


Excel mengulum senyum melihat ekspresi Vay yang salah tingkah. dia menggelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Astaghfirullah... Jantung ku!" ucap Vay saat sudah berada di luar kamar sambil memegang Dada nya yang terus berdetak tak karuan.


__ADS_2