Menikahi Pria Kulkas

Menikahi Pria Kulkas
Bab 8


__ADS_3

_Di kediaman Wijaya.


Pukul 14.00 siang.


Mama Retno dan Jesie membuka gudang untuk membawa Vay keluar dari sana dan mendandani gadis itu sebagai pengantin.


"Mama.. Alhamdulillah akhirnya aku keluar juga dari sini." ucap Vay saat melihat Mama Retno membuka Pintu Gudang.


Vay tersenyum merasa Lega akhirnya Mama Retno sudah tidak Marah Lagi. Pikir Vay!


"Ya, Mama sedang berbaik hati saat ini." ucap Mama Retno tersenyum penuh arti pada Vay.


"Tapi kenapa ikatan tangan ku tidak mama Lepas?" tanya Vay penasaran dengan tangan yang masih terikat.


"Diam! Jangan banyak Protes! Atau mama akan menghukum mu lagi?!" bentak Mama Retno membuat nyali Vay menciut.


Tubuh Vay masih lebam-lebam. Mama Retno dan jesie bingung harus menutupi luka-luka di tubuh Vay dengan Apa.


Namun mereka tak kehabisan akal. Mereka cukup menutup lebam di wajah Vay saja dengan Make Up agak tebal. Agar luka itu terlihat samar.


Sedangkan yang di tubuh Vay, akan tertutup Kebaya pengantin.


"Ma.. kenapa aku di make up? Memangnya ada acara apa?" tanya Vay lagi dengan tangan yang masih saja terikat.


"Diam Vay! Kau berisik sekali.! Kita hanya akan melakukan Foto Wisuda Mu saja. Kan kita belum mengambil foto bersama.!" bohong Jesie pada Kakanya Vay.


"Ohh..." ucap Vay dengan menggut-manggut saja.


Bi Ani melihat Vay dari balik pintu kamar itu. Dia menangis karena tidak mampu berbuat apa-apa untuk Non Vay nya itu.


"Maafkan Bibi Non.." hanya kata itu yang mampu Bi Ani katakan.


Satu jam kemudian.. Vay sudah selesai di Make Up, namun tengannya masih terikat. Vay yang polos tidak menaruh curiga sedikitpun pada Mama Retno. Karena perlakuan seperti ini sudah biasa dia terima dari keluarga angkatnya itu.

__ADS_1


Vay duduk di tepi ranjang kamarnya itu. Menunggu mama retno kembali untuk menjemputnya turun ke bawah dan mengambil foto wisuda bersama. Ya, Hanya itu yang terlintas di dalam benak Vay.


Bibi Ani mengendap-endap menuju kamar Vay, Dia akan memberitahu pada Vay kejadian yang sebenarnya. Tak lupa Bi Ani juga membawa kunci cadangan kamar Vay.


CEKLLEEEKKK..!!


"Bi Ani..??" seru Vay dengan lirih.


Bi Ani langsung mengarahkan jari telunjuknya ke bibir dia sendiri. Pertanda jangan berisik. "Shuutt...!"


Bi Ani buru-buru menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Setelah itu bi Ani menghampiri Vay dengan cepat duduk di samping Vay.


Bi Ani melepaskan ikatan tangan Vay terlebih dahulu.


"Bi.. Nanti Mama Marah Loh..??" seru Vay saat Bi ani berhasil membuka ikatan tali di tangan Vay.


"Non, Nyonya Retno berbohong pada Non, mereka tidak ingin mengajak Non untuk foto wisuda, tapi mereka akan menikahkan Non Vay dengan Tuan Jodi sebagai Istri ke 3." ucap Bi Ani sambil menangis mengusap bahu Vay.


Vay tidak merespon apa pun perkataan Bi Ani. Air matanya jatuh seketika saat mendengar penuturan Bi Ani.


"Bi... tapi bagaimana jika Mama Tua soal bibi yang bantu Vay untuk kabur? Bibi Pasti akan kehilangan pekerjaan Bibi. Jangan Bi.. Vay tidak mau jika Bibi Harus di Pecat.!" jawab Vay malah semakin buat Bi Ani terisak.


Begitu sayangnya Gadis itu padanya. Dia sampai rela diam menuruti perintah Orang tua Angkatnya yang Jahat agar Bi Ani bisa tetap bekerja.


"Bibi tidak Perduli Non, Bibi bisa cari pekerjaan lain Asal Non jangan Disini. Sudah Cukup penderitaan Non selama Ini. Bibi tidak sanggup lagu jika harus melihat Non Vay disiksa oleh mereka. Bibi Mohon Pergilah.!" pinta bibi Ani lagi pada Vay.


Vay mencerna ucapan Bi Ani, sebagai seorang Ibu Bi Ani juga merasakan sakit saat melihat anak yang dia asuh dari kecil selalu disiksa dan disakiti oleh orang tua angkatnya.


Vay menganggukan kepalanya. Sebelum melarikan diri, Vay memeluk dan mencium Bi Ani terlebih Dahulu.


"Vay sayang sama Bibi. Doakan Vay selalu Bi.." ucap Vay sebelum pergi dari rumah wijaya.


"Bibi juga sayang sama Non Vay, Ayo Non kita tidak punya waktu lama, pengantin pria akan segera datang." ucap Bi ani bergegas membawa Vay keluar dari kamar.

__ADS_1


Untung kamar Vay berada di Lantai bawah dekat dengan pintu belakang. Itu akan mempermudah Vay untuk melancarkan Aksinya.


Bi Ani akan mengalihkan perhatian orang rumah dan Vay akan kabur lewat pintu belakang.


Namun penjagaan yang ketat membuat Vay kesulitan untuk kabur. Dan aksinya ketahuan salah satu penjaga saat dirinya akan memanjat tembok belakang Rumah.


"Tuaaann.. Pengantin wanita kabuurr..." teriak penjaga yanh melihat Vay berhasil menaiki tembok itu.


Semua Orang berlari untuk mengejar Vay.


"Cari Anak itu sampai dapat jangan biarkan dia lolos!" titah Papa Agung wijaya pada seluruh penjaga.


Vay berlari sekencang mungkin untuk menghindari kejaran para penjaga.


"Ya Tuhan, Tolong Aku..!" gumam Vay dalam hati.


Dia berlari tanpa menggunakan alas kaki. Kaki yang terasa panas karena aspal tidak dia rasakan.


Dia berhenti saat sudah merasa agak jauh dari rumah.


"Ya Tuhan, aku harus kemana? Tidak mungkin jika aku harus ke Rumah Rani. Mereka akan mendapatkan ku dengan Mudah." Nafas Vay ngos-ngosan. Dia benar-benar lelah dan nampak berfikir akan bersembunyi dimana.


"Ya, Aku ke rumah Tuan Excel saja." celetuk Vay saat mengingat penawaran Excel kemarin.


Rumah yang sangat jauh dari tempatnya sekarang. Dan tidak mungkin dia akan berlari terus untuk sampai sana.


Akhirnya Vay memutuskan untuk naik taxi, bukan hal yang mudah untuk menghentikan taxi saat itu. karena penampilanya yang seperti orang gila, Membuat para supir taxi enggan berhenti.


Make up nya berantakan, dia juga tidak memakai alas kaki. Bajunya lusuh karena jatuh bangun saat berlari.


Setelah beberapa taxi menolaknya, akhirnya ada juga taxi yang mau untuk di tumpangi Vay.


Vay langsung menyuruh supir taxi itu menuju Rumah Excel.

__ADS_1


Vay akhirnya bisa bernafas lega untuk saat ini. Dia mengucap syukur berkali-kali karena sudah berhasil kabur dari Keluarganya yang jahat.


Saat ini hanya Excel yang ada di benak Vay. Rani? Dia tak ingin melibatkan Rani dalam masalah ini. Sedang Bu Ely? Vay tidak bisa meminta bantuan pada seorang Janda itu. Vay benar-benar bingung.


__ADS_2