Menikahi Pria Kulkas

Menikahi Pria Kulkas
Bab 3


__ADS_3

_Pukul 21.00


Jam kerja telah usai. Vayola juga sudah ijin bahwa besok dia akan libur satu hari.


Gadis itu memutuskan untuk langsung pulang. Dia akan naik ojek sebagai alat transportasinya.


15 menit berlalu, kini Vayola sudah sampai di Rumah, dia langsung masuk kamar dan segera mengerjakan tugas Adiknya.


Otaknya yang pintar dengan sangat mudah mengerjakan Tugas adiknya.


Setelah selesai dia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur lantai. Vayola menatap kertas yang di berikan pria Datar mengerikan tadi siang.


Di kertas itu tertera nama, alamat serta nomor ponsel.


"Excel Juan Alexander, hmmm... Namanya begitu sangar." gumam Vayola menyebut nama Pria datar itu.


Tanpa ada curiga sedikitpun pada Excel, dia pun memutuskan untuk datang saja besok pagi ke alamat yang tertera di kartu nama itu.


Dia pikir, dia hanya gadis miskin. Tidak mungkin Excel akan macam-macam pada nya.


Setelah berdebat dengan pikiranya sendiri, vayola memutuskan untuk segera tidur dan bangun lebih awal besok.


.


.


_Ke Esokan Harinya.


Vayola sudah bangun jam 4.30 subuh. dia akan membereskan Rumah mewah milik orang tua angkatnya yang kejam itu terlebih dahulu sebelum pergi.


Ya, beres-beres rumah adalah pekerjaannya setiap hari, membantu pekerjaan bibi Ani pelayan di rumah mewah itu.


padahal mereka mampu membayar pelayan lagi jika mereka mau. Tapi tidak, mereka memang tak ingin Vayola hidup senang. Maka dari itu orang tua angkatnya selalu membuatnya menderita.


"Beress... Tinggal mandi lalu berangkat." ucap Vayola saat selesai mengepel lantai rumah mewah itu.


Mengepel 2 lantai Rumah, membutuhkan waktu yang lama bukan? untuk itu vayola bangun pagi-pagi buta agar nanti tidak terlambat ke tempat Pria Datar itu.

__ADS_1


_Pukul 05.30


"Bi Ani... Vay pergi dulu ya, ada urusan di luar dan harus pergi pagi-pagi. Jika orang rumah bertanya, jawab saja tidak tahu." pamit Vayola pada bibi Ani.


"Baik Non, kabarin bibi jika Non sampai tempat tujuan agar bibi tidak cemas." jawab bibi Ani lada Vayola.


Ya, Di rumah itu memang cuma Bi Ani yang peduli padanya. Mungkin Bi Ani kasian melihat Keluarga Wijaya selalu menyiksa Vayola. Dan Bi Ani pula lah yang selama ini merawat Vayola.


"Beres bi.. Assalamualaikum" ucap Vayola sambil menyalam tanga bibi dan menciumnya.


Bibi Ani memang sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri. Bahkan Vayola sering curhat dengan bibi Ani.


"waalaikumsalam.." jawab bibi Ani.


.


.


25 menit berlalu... Vay telah sampai di alamat yang tertera di kartu nama itu.


"Jalan Melati nomor 10, benar ini Rumahnya." gumam Vay sambil mencocokan alamat di kartu nama dan di pagar rumah Besar dan Mewah yang ada di hadapannya.


Teriakan Vay berhasil membuat salah satu penjaga mendatangi nya. Penjaga itu nampak menyeramkan juga seperti pria datar yang dia temui kemarin.


Penjaga itu sepertinya sudah tahu jika akan ada tamu seorang Gadis, karena tanpa bertanya ini itu, Vay langsung di persilahkan untuk masuk.


"Silahkan Nona, Tuan Sudah Menunggu" ucap penjaga itu datar tanpa ekspresi.


Vay mengangguk takut dan mengikuti penjaga datar itu masuk ke dalam Rumah mewah itu.


Langkahnya bergetar, tiba-tiba terbesit hal-hal buruk membuatnya bergidik ngeri. Takut jika dirinya akan disiksa di dalam sana atau bahkan lebih parah dari itu.


"Astahfirullahaladzim.. Tuhan Tolong aku." Gumam Vay dalam Hati.


"Ayo Nona" ucap Penjaga saat melihat langkah kaki Vay terhenti.


"Ii-Iya..." jawab Vay terbata dan langsung kembali mengikuti langkah penjaga dari belakang.

__ADS_1


.


.


Di tempat lain.


Keluarga Wijaya sudah berkumpul di meja makan. Mereka mencari keberadaan Vay yang tak terlihat.


"Bi.. Mana Vay?" tanya mama Retno pada Bi Ani.


"Maaf.. Saya tidak Tahu Nyonya. Sedari tadi pagi saya sudah tidak melihat Non Vay." jawab Bi Ani sesuai permintaan Vay td pagi.


"Paling juga masih tidur Ma.." sahut Jesie.


"Dasar Pemalas!" umpat mama Retno.


"Biarkan saja Ma." seru Papa Agung.


"Tidak Pa, Anak itu harus di beri pelajaran." ucap Mama Retno sambil berdiri dari duduknya menuju kamar Vay.


"Vaayy... Banguun!!" teriak mama Retno dari luar pintu kamar Vay dan menggedor-gedor pintu yang ada di hadapannya itu.


Tidak ada sahutan dari dalam dan mama Retno langsung membuka pintu kamar Vay.


"Kemana anak itu? Tidak ada di kamarnya. Awas saja nanti kalau pulang." Gumam Mama Retno kembali menutup pintu kamar Vay.


Mama Retno kembali ke meja makan.


"Mana Vay ma?" tanya Jesie.


"Anak kurang ajar itu sudah tidak ada di kamarnya. Awas saja kalau dia kembali, Mama bakal hukum Vay." ucap Mama Retno geram.


"Pa, Ma, ngapain si dulu kalian Angkat Vay sebagai anak?" tanya Jesie penasaran.


Papa Agung langsung menghentikan makannya dan menatap Jesie. Mama Retno pun sama seperti Papa Agung.


seketika ingatan masa lalu terlintas di pikiran Papa Agung dan Mama Retno.

__ADS_1


Ada bagian Hati Papa Agung dan mama Retno yang terasa sakit saat mengingat masa lalu itu.


Entah Ada masalah Apa di balik masa lalu Papa Agung dan Mama Retno. Hanya mereka yang tahu persis apa yang terjadi.


__ADS_2