
_Pagi datang kembali. Mentari terlihat cerah hari ini.
"Selamat Pagi Bi Ani?" sapa Vay yang sudah Cantik.
Seperti biasa, gadis itu akan menemui bi ani setiap selesai mandi, untuk membantunya membuat sarapan.
"Pagi Non, Non Vay selalu terlihat Sempurna." puji Bi Ani pada Gadis itu.
"Bi Ani modus, kita akan masak apa hari ini Bi?" tanya Vay sambil melihat bahan masakan.
"Bibi mau bikin Nasi uduk untuk tuan Excel Non." jawab bi Ani.
"Waahhh... Enak banget pasti Bi, sini biar Vay bantu." ucap Vay langsung mengambil celemek.
Bi Ani dan Vay masak dengan sesekali di selingi oleh obrolan ringan dan tawa ria.
Setelah berperang di Kitchen, kini masakan Vay dan Bi Ani sudah siap. Mereka meletakan semua hidangan di meja makan.
"Aku Panggil Tuan Excel dulu ya Bi.." Ucap Vay yang langsung Menaiki tangga.
Bi Ani mengangguk sebagai jawaban, lalu meninggalkan meja makan dan membersihkan dapur yang berantakan.
Sementara Vay sudah sampai di depan pintu Excel.
Toookk!! Tooookk!!
Vay mengetuk pintu itu.
"Masuukk!!" teriak Excel dari dalam kamar.
Vay yang mendengar titah tuannya, membuka pintu kamar dan masuk ke dalam secara perlahan.
"Semalat Pagi Tuan, Sarapan Pagi sudah siap." ucap Vay saat sudah berada di sisi ranjang.
"Hmmm..." jawab Excel langsung bangun dari tepat tidur.
"Aaaaaaa..." teriak Vay seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan.
__ADS_1
"Aku masih pakai pants, jangan terlalu percaya diri Nona." ucap Excel yang sudah mengetahui alasan Vay menutup wajah nya.
Vay pun menurunkan kedua tangannya setelah mendengar penuturan Excel. Vay menunduk menyembunyikan wajahnya Malu.
Excel mendekati Vay, menatap wajah gadis itu dengan tatapan tajam ingin menerkam.
Melihat langkah Excel semakin dekat, Tubuh Vay Membeku.
Excel meraih dagu milik Vay, mendongakan wajah gadis itu perlahan.
GLEK!! Vay menelan ludah nya susah payah. Gadis itu semakin tak karuan saat menatap Ekspresi wajah Excel yang tak bisa di artikan. Bahkan dia hanya bisa menutup kedua matanya saat Wajah Excel semakin mendekati wajahnya.
Excel merasa lucu dengan Vay yang ketakutan. Padahal niatnya hanya ingin Menghapus Noda di wajah Vay. Pria itu mengulum senyum saat kedua mata Vay terpejam.
"Sudah bersih." ucap Excel setelah membersihkan Noda tepung di wajah Vay. Tentu saja dengan wajah datar dan dingin ciri khas nya.
Excel melangkahkan kakinya mundur. Dan Vay membuka matanya.
"Wajah mu kotor, dan aku hanya membantu membersihkannya." Ucap Excel seraya berjalan masuk ke kamar mandi.
"Bodoh, Vay benar-benar bodoh.! Kenapa kau berfikir jika Tuan Excel akan mencium mu?! Aaaakkhh... Dasar tidak tahu mau kau Vay! Memangnya siapa kau berharap di cium Tuan Excel?!" umpat Vay merutuki dirinya sendiri sambil memukul dahi nya pelan.
Vay pun langsung keluar dari kamar Tuan Excel dan menunggu nya di meja makan.
.
.
Setelah selesai mandi Excel turun dan bergabung dengan Vay.
Melihat menu makanan tidak seperti biasanya Excel pun menatapnya heran.
"Ini Nasi Uduk tuan, cobain deh. Rasanya gurih dan lezat." ucap Vay saat melihat Excel merasa Aneh dengan menu makanan itu.
"hmm.." sahut Excel seraya duduk di kursi.
Vay pun mengisi piring tuannya. Setelah penuh, Vay meletakan piring itu di hadapan Excel.
__ADS_1
Excel mencium aroma nasi uduk itu, baunya sangat wangi dan menggugah selera. Dia pun langsung menyantap nya. Dan Excel menyukai nya.
"Bagaimana Tuan?" tanya Vay pada Excel.
"Enak" jawab Excel singkat.
Vay mengulas senyum mendengar jawaban Excel. Dia pun langsung ikut makan.
"Sesuai Janji ku kemarin, aku akan membawa mu jalan-jalan dan makan Es Krim hari ini." Ucap Excel pada Vay.
"Serius tuan? Yeeeaayy... Jalan-jalan dan makan Es krim.." Sorak Vay seperti anak berusia 5 tahun.
Excel menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vay.
"Membuat mu bahagia memang sangat mudah." gumam Excel dalam hati.
Usai makan, mereka langsung pergi menuju Mall. Ya, hanya itu tempat yang akan mereka kunjungi.
"Cincin kamu mana?" tanya Excel saat akan menuju mobil.
"Ah iya, aku lupa mengembalikannya pada Tuan." ucap Vay yang langsung berlari mengambil Cincin pemberian Excel waktu itu.
Setelah dapat dia buru-buru memberikannya pada Excel.
"Ini tuan!" ucap Vay menyodorkan Cincin itu pada Excel.
"Pakai!" titah Excel menyuruh Vay.
"Tapi Tuan!" sanggah Vay.
"Sudah terlanjur di beli. Pakai saja!" Jawab Excel.
Vay pun memakai cincin itu. dan Excel merasa senang saat cincin itu melingkar di jari Vay. Tak Hanya Vay, Excel juga memakai cincin miliknya juga.
"Ayo kita pergi." Ajak Excel yang berjalan lebih dulu ke arah mobil.
Vay pun mengekor di belakang Excel.
__ADS_1