Menikahi Pria Kulkas

Menikahi Pria Kulkas
Bab 31


__ADS_3

_Di Rumah sakit di kota A.


Sudah Satu Minggu Vay dan Excel di rawat di Rumah Sakit.


Excel yang cidera, kini sudah mulai membaik. Sedangkan Vay, dia sudah siuman dari 2 hari yang lalu, namun luka di Dada nya akibat tembakan masih terasa Nyeri.


Bi Ani sudah kembali ke Jakarta di antar oleh Daniel saat Vay sudah Siuman 2 hari yang lalu. Excel meminta Bi Ani kembali ke jakarta karena Excel yang sudah sehat, bisa menggantikan Bi Ani untuk merawat Vay selama di rumah sakit.


Vay sangat bahagia melihat kondisi Excel sudah semakin membaik. Vay juga bahagia karena Excel mau merawat nya.


"Tuan, aku bisa makan sendiri. Yang sakit di bagian kiri, sedangkan aku bisa makan menggunakan tangan kanan ku." Tolak Vay saat Excel akan menyuapinya makan.


"No! You Can't. kau masih sakit dan aku yang akan menyuapi mu Vay." sahut Excel sedikit memarahi Vay yang bandel.


Meskipun sekarang sikap Excel nampak lembut dan Manis, namun wajah nya masih saja datar dan dingin.


"Open you'r Mouth!" titah Excel pada Vay.


"Aaaa.." Vay membuka mulut nya dan menyantap makanan dari tangan Excel.


begitu terus hingga makanan itu habis tak tersisa.


Usai makan, Excel memberikan obat pada Vay dan menyuruhnya untuk meminum obat tersebut.


Vay menurut tanpa bantahan, karena dia juga ingin cepat sembuh dan segera pulang ke Jakarta.


"Terimakasih Tuan." ucap Vay seraya menyodorkan gelas bekan minum nya.

__ADS_1


Excel mengangguk pelan dan mengusap puncak kepala Vay dengan sayang. Vay tak merasa keberatan akan Hal itu, karena dia sangat menyukai perlakuan Excel pada nya.


Namun hingga saat ini, Excel maupun Vay belum ada yang mengungkapkan perasaan mereka. Kedua nya masih bungkam mengenai Hati mereka masing-masing.


"Tuan, aku ingin keluar. Apa boleh?" pinta Vay pada Excel dengan tatapan penuh harap.


Excel memgangguk dan mengambil kursi roda untuk Vay. Tapi Vay menolak untuk duduk di kursi roda.


"Aku bisa berjalan Tuan, tidak perlu memakai kursi roda." tolak Vay dengan lembut.


Excel mengambil nafas panjang, mencoba meredam rasa kesalnya pada Gadis Bandel itu.


"Okey." jawab Excel menyetujui permintaan Vay.


"Yeess!!" sorak Vay pelan.


"Are you okey?" tanya Excel saat melihat Vay menahan rasa sakit.


"hmm.. Hanya sedikit ngilu, But it's Ok. i'm good." jawab Vay smbil tersenyum ke arah Excel.


Excel dan Vay mulai berjalan pelan keluar dari Kamar Rawat. Merek menuju taman yang ada di Rumah Sakit itu. Setelah sampai Taman, Excel dan Vay duduk di kursi yang ada di bawah Pohon Cemara.


Vay menghirup udara berbau obat itu panjang-panjang, dan mengeluarkannya secara perlahan.


Tak di sangka jika dia akan selamat dari insiden mengerikan itu.


"Tuan, terimakasih sudah menyelamatkan aku dari tuan Mattew. Dan maaf sudah membawa mu ke situasi sulit waktu itu." ucap Vay membuka obrolan mereka.

__ADS_1


"Harusya aku yang minta maaf pada mu, andai saja aku tidak mengajak mu ke acara jamuan mattew waktu itu. Kau tidak akan mengalami kejadian buruk ini. Dan terimakasih sudah menyelamatkan ku dari tembakan Mattew." jawab Excel sambil meraih tangan Vay dan mengenggam nya.


"Itu adalah bentuk pengabdian ku pada mu Tuan, karena kau sudah sangat baik pada ku." sahut Vay seraya menatap tangan Excel yang saat ini sedang menggenggam tangannya.


"Cincin itu.. Masih tuan pakai?" tanya Vay saat melihat cincin formalitas yang mereka kenakan saat menghadiri acara jamuan di rumah Mattew dan berpura-pura menjadi sepasang kekasih yang sudah bertunangan.


Excel mengangguk dengan wajah setianya yang datar dan dingin.


"Apa kau keberatan jika aku memakainya setiap hari?" tanya Excel menatap wajah cantik Vay.


Vay menggeleng cepat menanggapi pertanyaan Excel.


"Biarkan Cincin itu melingkar di jari kita masing-masing, tuan Excel boleh melepas cincin itu, jika saat tuan sudah menemukan Gadis Baik yang akan menjadi pendamping hidup tuan." ucap Vay seraya menangkup wajah Excel dengan salah satu tangannya dan mengusap pipi milik Excel lembut.


Hati Excel merasa tercubit mendengar penuturan Vay. Dia tidak akan mencari Gadis lain, Dia hanya mencintai Vay. Ya, Hanya Vay.!


Excel mengangguk sebagai jawaban. Dia berharap jika Vay adalah jodoh pilihan Tuhan untuk nya.


Vay pun memiliki harapan yang sama seperti Excel, dia berharap jika Excel adalah jodoh yang di kirim Tuhan untuknya.


Namun sayang nya, di antara mereka tidak ada yang berani mengakui perasaan masing-masing.


Mereka seakan memiliki tembok penyekat, yang menghalangi mereka untuk bersama.


antara Majikan dan Seorang Pekerja. Vay merasa tidak pantas jika bersanding dengan Excel.


Sedangkan Excel merasa Takut jika suatu saat Vay mengetahui siapa diri Excel yang sebenarnya. Dan Vay memilih meninggalkannya.

__ADS_1


Excel belum siap jika harus kehilangan Gadis itu. Excel tidak mau jika Vay pergi dari hidupnya.


__ADS_2