
Proses transfusi darah baby Raquel sudah selesai, kini Bayi berusia 6 bulan itu tengah tertidur pulas di dekapan sang ayah kandung.
"Apa kita akan memisahkan mereka? Ku kira dengan adanya insiden ini cukup membuktikan jika Brian sungguh-sungguh dalam ucapannya untuk menjaga dan merawat Raquel, putri kandung nya." Ucap Excel yang tengah duduk di sofa ruang rawat Raquel bersama kekasihnya, menatap kebersamaan Ayah dan Anak di atas brankar sana.
Vay tak memberikan respon apa pun terhadap Excel. Menurutnya, bukti ini saja tidak cukup untuk membuktika keseriusannya dalam merawat dan menjaga Raquel.
"Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, dan setiap manusia juga berhak mendapakan kesempatan ke dua. Seperti ku," Excel melanjutkan ucapannya.
Vay menoleh menatap Excel. "Tapi ini konteks nya berbeda Dear," sanggah Vay yang masih tak terima akan perlakuan Brian.
"Andai saja dia mau menerima Jesie waktu itu. hidup Jesie tak akan menderita. dan mungkin Jesie masih ada di tengah-tengah kita saat ini." Vay menangis pilu mengingat kematian sang adik satu bulang yang lalu.
Excel menarik tubuh Kekasihnya dan membawanya kedalam pelukannya.
"Shhuutt... semua yang terjadi adalah takdir. Dan kau tidak bisa menyalahkan siapa pun dalam hal ini. Bahkan jika mereka bisa merubah takdir, mereka juga tidak mungkin mau menerima takdir buruk mereka sendiri." Excel mencoba memberi pengertian pada Vay yang masih dalam dekapannya.
"Apa yang di katakan Tuan Excel benar. tak ada yang menginginkan takdir buruk. dan ini semua sudah menjadi rencana Tuhan untuk ku dan Jesie. Aku mohon Nona, berikan kesempatan untuk ku sekali saja. Biarkan aku merawat Putri ku Nona." Ucap Brian sambil menangkupkan kedua tangannya di dada. Brian menundukan wajahnya menangis terisak di hadapan Vay dan Excel.
__ADS_1
Vay menjadi iba pada Brian. Dan apa yang di katakan Excel memang benar. Brian berhak mendapatkan kesempatan untuk membuktikan janjinya.
"Baiklah, sekali saja kau menyakiti Putri ku baik secara lahir maupun batin, aku tidak akan mengampuni mu Brian. Bahkan aku tidak segan membunuh mu dengan tangan ku sendiri, jika kau berani menyakiti Putri ku. Camkan itu.!" Akhirnya Vay mau membuka pintu damai dengan Brian.
Brian mengangkat wajahnya, senyum nya mengembang saat mendengar ucapan Vay.
"Baik Nona, kau boleh menghukumku jika aku lalai, trimakasih Nona, terimakasih Tuan." ucap Brian dengan binar diwajah nya.
dia membungkukan setengah badannya untuk memberi hormat pada Excel dan Vay.
Brian kembali ke atas brankar putrinya, lalu menghujani wajah Raquel dengan banyak Ciuman.
Sekelebat dari balik Jendela kaca kamar rawat Raquel. Vay melihat bayangan Jesie tersenyum melambaikan tangannya pada Vay.
Wajah Jesie terlihat sangat bahagia di balik jendela kaca itu.
Vay dapat melihat gerakan bibir Jesie yang mengatakan 'Terimakasih kakak' , lalu setelah itu Jesie menghilang.
__ADS_1
"Sama-sama Jesie, semoga kau bahagia di sisi Tuhan." gumam Vay dalam hati membalas ungkapan terimakasih dari adiknya.
Lega bercampur haru. Itulah yang di rasakan Vay saat ini.
Mungkin menyatukan Brian dan Raquel adalah keinginan Jesie yang tak sempat di ungkapkan.
Sementara itu, Dad Rizal, Mom Melinda dan Bi Ani sudah sampai di rumah sakit untuk menengok Cucu nya Raquel.
Vay dan Excel memberitahukan tentang sosok Brian pada Mereka.
Dan mereka juga tidak merasa keberatan jika Jesie akan tinggal bersama Brian. tentunya dengan catatan tidak boleh menyakiti Cucunya sedikit pun.
Begitu sayang nya mereka dengan Raquel. Cucu pertama di keluarga bramasta. Meskipun tidak terlahir dari rahim Vay.
Brian pun mengucap banyak syukur karena kaluarga memperlakukan Raquel seperti putri mereka sendiri.
*********
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak kalian😘
Terimakasih🤗