
_Pagi menyapa.
Pukul 05.00 Vay terusik dari tidur nya saat perutnya bergejolak, terasa mual.
Vay beranjak dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Dia mengeluarkan isi perutnya di wastafel kamar mandi.
Excel juga ikut bangun saat mendengar suara istrinya tengah muntah.
Dia bergegas menghampiri sang istri. Lalu membantu istrinya memijat tengkuk leher Vay pelan.
"Are you okey lovely?" tanya Excel sambil menatap istrinya yang masih menadah muntahannya di wastafel.
Vay menggeleng. Lalu mencuci mukanya saat rasa mualnya berangsur mereda.
Vay menegakan tubuhnya menghadap langit-langit dengan mata terpejam dan menghela nafas panjang
"sudah lebih baik?" tanya Excel lagi pada istrinya.
"hmmm... Mungkin aku hanya lelah." jawab Vay mengulas senyum tipis menahan rasa mual yang masih tersisa di tenggorokannya.
Excel menggendong tubuh istrinya membawanya ke tempat tidur.
Vay menyandarkan tubuhnya di kepala Ranjang.
"Biar aku panggilkan dokter. Okey?" seru Excel seraya menelpon Daniel untuk mencarikan Dokter yang mau datang ke rumah.
Vay mengangguk saja menuruti perkataan suaminya. Dia memang butuh dokter saat ini, karena badannya juga demam dan kepalanya sangat pusing.
Excel duduk di tepi ranjang dekat istrinya, sambil mencium dahi istrinya sayang.
"20 menit lagi dokter akan sampai, aku buat kan Teh hangat untuk mu. Tunggu sebentar ya?" ucap Excel lalu beranjak dari duduknya menuju dapur.
Tak butuh waktu lama, Excel pun kembali kekmar sambil membawa secangkir teh hangat untuk istrinya.
__ADS_1
Dia membantu istrinya untuk meminum teh tersebut.
Vay menyeruput teh buatan suaminya. Rasanya sangat aneh.
"Dear, kenapa tehnya Asin?" lirih Vay sambil mengecap lidahnya yang terasa getir.
"Benarkah?" tanya Excel tak percaya. Dia langsung meminum teh buatannya itu.
Mukanya berkerut setelah merasakan Teh buatannya.
"iya, asin. Aku salah memasukan garam ke dalam cangkir. Ya, aku pikir itu gula karena bentuknya sangat mirip. Aku akan membuatkan teh yang baru." Excel pun beranjak dari duduk nya kembali ke dapur.
Saat teh nya sudah siap, bel rumah berbunyi. Tanda ada seseorang datang.
Excel menuju pintu dan membukanya. Ternyata seorang dokter bersama Daniel.
Excel menyuruh Dokter perempuan itu menuju kamar untuk memeriksa istrinya. Sedangkan Daniel menunggu di ruang tamu.
Dokter dan Excel tiba di kamar, lalu menghampiri Vay yang terbaring di atas tempat tidur.
"Lovely, ini dokter yang akan memeriksa mu." ucap Excel pada istrinya.
"Nyonya, apa yang anda rasakan?" tanya dokter pada Vay seraya memeriksa pasiennya itu.
"Kepala ku sangat pusing Dok, perut ku juga terasa mual dan ingin muntah." jawab Vay pada Dokter.
"Kapan terakhir kali Anda datang bulan?" tanya Dokter lagi.
"Astaga, Bulan ini saya belum datang bulan Dok." sentak Vay saat mengingat dirinya belum kedatangan tamu.
Dokter itu pun tersenyum mendengar penuturan Pasiennya.
"Kemungkinan Nyonya saat ini tengah mengandung Tuan, kita lakukan tes kehamilan mandiri ya Nyonya Tuan?" ucap Dokter pada Vay dan Excel.
Excel dan Vay saling tatap dengan wajah berbinar.
__ADS_1
Dokter pun memberikan tes pack pada Vay dan menyuhnya untuk melakukan tes kehamilan itu.
Excel membantu istrinya ke kamar mandi, lalu menunggu nya di luar pintu kamar mandi dengan jantung yang berdebar menunggu hasil.
Sepuluh menit kemudian, Vay keluar dari kamar mandi sambil membawa tes kehamilan. Dia menyerahkan nya pada Dokter.
Dotkter itu menerima hasil tes nya, dia mengulas senyum sambil menatap Pasien dan suami pasien itu.
"Tuan, Nyonya, lihat lah. hasil tes menunjukan dua garis, itu tandanya Nyonya Vay positif Hamil. Dan untuk memastikan lebih lanjut, anda bisa menemui dokter spesialis kandungan." jelas Dokter pada Vay dan Excel.
Excel yang mendengar kabar gembira tersebut, langsung menghampiri istrinya yang duduk bersandar di atas tempat tidur.
Excel memeluk istrinya dengan perasaan bahagia. Dia menghujani wajah istrinya dengan banyak ciuman.
Dokter perempuan itu pun ikut senang. Dia pun segera pamit undur diri pada Tuan Rumah.
"Kalau begitu saya permisi Tuan, Nyonya." pamit dokter sambil menjabat tangan Excel dan Vay bergantian.
Lalu setelah itu, Excel mengantar sang Dokter hingga lantai bawah.
Daniel masih setia menunggu di bawah sana. Saat melihat dokter perempuan dan tuannya turun dari lantai atas, dia pun menanyakan keadaan sang nyonya Muda.
"Bagaimana kondisi Nyonya tuan? Apa ada yang serius?" tanya Daniel pada Excel.
"Kau tahu Daniel, aku akan menjadi seorang Ayah." jawab Excel sambil memeluk Asistennya.
"Wah, selamat tuan. Akhirnya aku akan mendapat ponakan." Ucap Daniel sambil menepuk punggung tuannya pelan.
"Terimakasih," seru Excel sambil melerai pelukannya.
"Mari Dokter saya Antar anda pulang." ucap Daniel pada Dokter perempuan itu.
Sang Dokter pun mengangguk, lalu berpamitan pada Excel dan mengikuti langkah Daniel menuju mobil.
Sedangkan Excel kembali menjaga sang istri.
__ADS_1
*********
Ayok kasih dukungannya Bestie😘😘