
_Di kediaman Wijaya.
"Gara-gara Vay kabur, kita tidak jadi dapet duit deh dari Tuan Jodi." ucap Mama retno kesal.
"Mama itu mikirin Uang Saja, kita juga harus pikirkan ucapan Tuan Jodi. Dia ingin Vay di temukan secepatnya, kalau tidak dia akan berhenti menjadi investor di perusahaan Papa. Bisa bangkrut Papa kehilangan Investor paling berpengaruh di bisnis Papa." Seru Papa Agung denga nada tinggi, Dia Gusar.
"Papa tenang saja, Gadis itu tidak akan pergi jauh, apa lagi dia tidak memiliki banyak kenalan." ucap Jesie pada Papa Agung.
"Iya Pa, benar kata Jesie." sahut Mama Retno.
Mereka tidak akan membiarkan Vay lepas, mereka juga mengerahkan Banyak orang untuk mencari gadis itu. Bahkan menyebar dan menempel selebaran dengan Gambar diri Vay agar cepat ditemukan.
Sampai menyewa detektif handal hanya untuk mencari gadis sumber uangnya itu.
.
.
_Sementara itu di Kediaman Excel.
Pagi telah Datang. Matahari menyingsing masuk ke cela jendela kamar Excel.
Pukul 09.00 Excel bangun lebih dulu dari Vay.
Excel melirik gadis itu sebentar. Melihat Vay masih terlelap, Excel memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
20 menit berlalu, Excel sudah Mandi dan Aromanya Sangat Wangi. Excel keluar dari kamarnya dan turun untuk sarapan.
Setelah sampai di meja makan,
"Bi.. Siapkan Bubur untuk Vay," titah Excel pada pelayan rumah nya.
"Baik Tuan" jawab pelayan itu lalu kembali ke dapur untuk membuat bubur.
__ADS_1
Excel tidak berselera untuk makan saat ini karena terlalu memikirkan Gadis malang itu.
Excel mengusap wajahnya kasar dan menyugar rambutnya yang gondrong kebelakang.
20 menit kemudian,
Bubur untuk Vay sudah siap. Excel mengambil Nampan berisi bubur dan juga susu dari tangan pelayan.
"Biar saya saja." ucap Excel pada pelayan.
Excel menaiki tangga kembali masuk ke kamarnya. Dia melihat Vay sudah bangun dan duduk di atas tempat tidur menyandarkan Kepalanya di ranjang dengan mata tertutup namun bukan tidur. Dia hanya menahan rasa sakit kepalanya saja.
"Sudah Bangun?!" ucap Excel mendekati Vay dan menaruh nampan di atas nakas.
"Tuan... Maaf..." lirih Vay berkata dan langsung ingin beranjak dari duduknya karena merasa tak enak dengan Tuanny.
"Tidak, Tetaplah disitu. Dan makan dulu." titah Excel menghentikan pergerakan Vay.
Vay kembali duduk tenang di atas ranjang. dan Excel memberikan mangkok berisi bubur itu pada Vay. Vay menerima mangkok itu dari tangan Excel.
Vay menurut pada Excel. Dia memakan bubur itu dengan pelan. Sedangkan Excel masih duduk di pinggir ranjang memperhatikan Vay tanpa sepengetahuan gadis itu.
"Apa Kau punya musuh?" tanya Excel memecah keheningan.
Vay mendongakan kepalanya menatap Excel penuh tanda tanya.
"Jawab saja, katakan siapa yang melakukan ini pada mu." imbuh Excel lagi.
Vay menghentikan makannya, Air matanya luruh kembali.
"Aku bisa membantu mu, dan katakan semuanya pada ku." ucap Excel lagi, dan kini menatap Vay yang sedang menangis lalu menghapus air mata Gadis itu dengan jempol tangan miliknya.
Vay Menatap Excel dengan tatapan sendu. Dia mulai menceritakan apa yang terjadi dari A-Z. Excel tercengang mendengar penuturan Vay, Dia merasa Iba pada Gadis itu.
__ADS_1
"segeralah bersiap, kita akan ke rumah sakit untuk melakukan Visum!" titah Excel pada Vay.
"Tuan, tapi aku tidak sanggup jika harus melaporkan mereka pada polisi. Mau bagaimanapun, mereka tetap orang yang mengasuhku dari aku Bayi." ucap Vay pada Excel.
Vay memang sakit hati pada mereka, namun rasa benci itu selalu tertutup akan hal yang membuat Vay tak bisa membalas Budi mereka. Yaitu mengasuhnya.
"Kau terlalu polos, Kebaikan tidak selamanya harus di balas dengan pengabdian seumur hidup! Kau sudah berbaik hati pada mereka dengan memberikan kesempatan untuk mereka berubah. Dan kini tidak ada lagi kesempatan, mereka sudah keterlaluan pada Mu. Bahkan berani melakukan kekerasan pada Anak angkatnya sendiri.! Kau tidak perlu takut, aku akan melindungi mu. dan setelah itu bekerjalah dengan Ku. Aku akan memberikan kehidupan yang layak untuk mu.!" Jelas Excel pada Vay lalu pegi keluar meninggalkan Vay untuk bersiap.
Hati Vay menghangat mendengar perkataan Excel. Dia merasa di lindungi. Dan dia berjanji akan mengabdi pada Tuannya itu. Ya, mungkin ini takdir yang harus dia jalani sekarang.
Vay segera menghabiskan Makannya, lalu bersiap untuk pergi ke rumah sakit dan melakukan Visum.
Pelayan membantu Vay bersiap karena tubuh Vay belum pulih betul. Tentu saja atas perintah Excel.
30 menit berlalu,
Kini Vay sudah merasa lebih baik setelah membersihkan Diri. Dia juga di berikan Baju oleh Excel.
Dia terlihat cantik dengan dres polos berwarna Biru Navy dengan lengan panjang dan panjang dres selutut, juga sepatu teplek. Rambutnya di biarkan tergerai begitu saja.
Dia keluar dari kamar dan menuruni tangga menemui Excel yang sudah menunggu di Lantai bawah.
Excel tercengang melihat Vay, dia semakin mengagumi gadis itu. Meskipun wajahnya penuh luka namun masih terlihat cantik.
"Ayo Tuan" tegur Vay pada Excel.
Kesadaran Excel yang sempat hilang, kini telah kembali. Dia berjalan menuju mobil lebih dulu di ikuti oleh Vay.
"Duduk di samping, jangan di belakang!" titah Excel saat melihat Vay membuka pintu mobil bagian belakang.
Vay hanya menurut saja pada Excel. Dia segera masuk mobil dan duduk di jok samping Excel.
Vay merasa canggung duduk di samping Excel. Meskipun sebelumnya mereka sudah pernah melakukan hal itu, namun saat ini berbeda.
__ADS_1
Hati Vay sedikit tersentuh dengan perhatian yang di berikan oleh Excel. Pria datar dan dingin tanpa ekspresi itu.