
_Vay masih merajuk.
Setelah puas menangis, Hati Vay kini merasa Lega. Pikirannya pun mulai jernih.
Vay sadar, jika tujuan nya hanyalah mengabdi pada Excel yang telah berbuat baik padanya. Vay pun akan mengubur perasaannya dalam-dalam. mulai saat ini dia akan Fokus bekerja saja di tempat Excel dan tidak mencampurkan urusan hati dengan pekerjaan. Ya, Itu lah keputusan Vay sekarang.
Hari semakin Sore, Vay memutuskan untuk pergi dari danau dan kembali ke rumah Excel.
Namun saat dia berjalan pulang, Langit tiba-tiba mendung, dan Awan menumpahkan air yang sudah lama di bendung nya.
Vay kehujanan, baju nya basah kuyup. jalan menuju rumah Excel masih jauh, dia memutuskan untu meneduh terlebih dahulu di sebuah halte bus.
Melihat Hujan yang tak kunjung reda, akhirnya Vay memutuskan untuk menerjang Hujan itu. banyak orang berlalu lalang, namun tak ada yang memberikan tumpangan atau sekedar meminjami payung.
Hingga langkah kaki Vay memasuki halaman rumah Excel.
Bi Ani melihat kedatangan Vay dan segera berlari menghampiri Vay.
"Ya Allah Non, Non dari mana? Kenapa hujan-hujanan?" tanya Bi Ani panik.
Vay hanya tersenyum menjawab ucapan Bi Ani.
Bi Ani ingin membantu Vay menuju kamar, namun di tolak oleh gadia itu.
"Tidak usah Bi, Vay bisa sendiri." ucap Vay dengan bibir bergetar karena kedinginan.
Vay berjalan pelan menaiki tangga dan menuju kamar nya.
Bi Ani hanya diam seraya memperhatikan Vay, seolah Bi Ani tau suasana hati Vay saat ini. Ya, Vay sedang tidak ingin di ganggu.
Sementara Vay sudah berada di kamar dan mengunci pintu nya rapat-rapat. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah mengganti pakaiannya.
Di Sisi Lain, Excel buru-buru pulang menghentikan pencarian Vay setelah mendapat kabar dari Bi Ani, jika Vay sudah pulang.
__ADS_1
Kini Excel sudah sampai di rumah. Dia langsung berlari masuk menuju kamar Vay.
Excel mengetuk pintu itu beberapa kali, namun tidak ada sahutan dari dalam. Excel mencoba membuka pintu kamar Vay, namun terkunci.
Excel pun mulai khawatir dengan Vay saat ini. Dia meminta kunci cadangan pada kepala pelayan di rumah nya.
Setelah mendapatkan kunci nya, Excel langsung membuka kamar Vay. Dia masuk kedalam menyeru nama Vay beberapa kali.
"Vay... Vay...." seru Excel seraya berjalan mendekati ranjang. Dan Excel melihat Vay tengah tertidur.
Namun Vay menggigil, wajahnya pun pucat pasi. Excel mengulurkan tanganya menyentuh dahi milik Vay.
"Ah, Panas sekali." pekik Excel namun dengan suara yang lirih.
Dia kembali turun untuk mengambil baskom dan mengisi nya dengan air hangat dan juga kain waslap, untuk mengompres Vay.
"Tuan, baskom itu untuk apa?" tanya bi Ani pada Excel yang sibuk mengisi baskom dengan air hangat dari dispenser.
Bi Ani menganggukan kepalanya.
"Tuan, sepertinya Non Vay melihat Tuan bersama gadis tadi di dalam kamar. Apa gadis itu kekasih tuan Excel?" tanya Bi Ani memberanikan diri.
Entahlah, rasanya Kepo Bi Ani memang keterlaluan. Di sisi lain, Bi Ani ingin mengetahui hanya untuk mengambil sikap saja. Jika benar gadis itu kekasih Excel, maka dia akan membujuk Non Vay nya untuk mundur. Ya, begitu kira-kira maksud bi Ani.
"Bukan Bi, dia teman ku dari kecil karen orang tua kami berteman dekat. Mona memang menyukai ku, tapi aku hanya menganggap Mona Sebatas teman, tidak lebih. Dan aku juga tidak memiliki rasa terhadap Mona." jawab Excel dengan Gamblang. Lalu setelah nya langsung kembali ke kamar Vay.
Bi Ani merasa lega mendengar jawaban Excel. Itu artinya kesempatan Vay dan Excel untuk bersama terbuka lebar.
Sementar itu, Excel sudah ada di kamar Vay lagi. Dia mengambil kain waslap itu dan menempelkannya di Dahi Vay.
Excel mengusap pipi Vay dengan Lembut.
"Apa kau melihat ku dan Mona tadi? Itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Maafkan aku jika aku menyakiti mu. Capetlah sembuh." Excel berbicara dengan Vay yang sedang tertidur.
__ADS_1
Excel mencium puncak kepala Vay, lalu merebahkan tubuhnya di samping gadis itu. Hari sudah malam, Excel pun tertidur dengan posisi memeluk Vay.
Bi Ani yang berada di ambang pintu kamar Vay, tersenyum melihat moment romantis itu. Ya, Excel sengaja tidak menutup pintu kamarnya, agar tidak menimbulkan pikiran buruk semua orang.
.
.
_Pagi kembali datang,
Vay terbangun dari tidur nya yang sangat nyaman. Namun dia merasa tubuhnya ada yang menindih.
Betapa terkejutnya Vay, saat mendapati tangan Excel melingkar di perutnya.
"Aaaaaaaaa...." Vay berteriak seraya menendang Excel akibat terkejut.
GEDEBUUUGH..!!
"Awh," pekik Excel sambil memegangi pinggang nya.
Vay menutup mulutnya, matanya mendelik karena spontan menendang Tuannya.
"Maaf kan aku tuan," Vay meminta maaf lalu bergegas bernajak dari tempat tidur dan menolong Excel.
Bukannya berdiri, Excel malah menarik tubuh Vay. Hingga gadis itu Ambruk menimpa Excel.
Mata mereka beradu, saling menatap dalam mencoba menyiratkan perasaan masing-masing. Hingga dering telpon berbunyi membuyarkan kesadaran mereka yang sempat hilang.
Vay beranjak dari tubuh Excel, dia benar-benar malu saat ini. Hingga dia berlari masuk ke kamar mandi.
Excel pun beranjak dari tempatnya terjatuh, lalu mengangkat panggilan telpon itu.
Excel berjalan keluar dari kamar Vay.
__ADS_1