
Vay menggeliat saat mendengar suara seseorang. Dia pun meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku dalam keadaan mata yang masih terpejam dan alis berkerut.
setelah merasa ototnya melunak, Vay pun mengerjabkan matanya beberapa kali, mengumpulkan nyawanya yang sempat hilang.
Betapa terkejutnya Vay saat melihat ada Daddy, Mommy dan Bi Ani di ruang rawat Excel. Mereka sudah datang sejak 1 jam yang lalu, tapi Vay yang tertidur pulas tak menyadari kedatangan mereka.
"Astaga Tuhan!!" Vay berjingkat memegangi Dadanya dan langsung terduduk karena sebelumnya dia tidur dengan posisi berbaring.
"Awh... Ssshhhh..." pekik Excel saat luka jahitan di dadanya tak sengaja tersimplak oleh Vay.
Vay langsung menoleh ke sumber suara kesakitan itu. Dia kembali terkejut saat mendapati dirinya duduk di samping Excel yang tengah berbaring. Mereka berdua tengah berada di atas Brankar saat ini.
"oh, i'm Sorry Dear... Does it so hurt?!" tanya Vay seraya meniup niup luka jahitan Excel.
Excel hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Vay.
"Masih sakit?!" tanya Vay lagi.
"Sudah sembuh berkat tiupan mu." jawab Excel menggombali kekasihnya, namun dengan datar dan dingin.
Vay tersenyum malu-malu mendapat gombalan dari Excel. Dia pun langsung turun dari atas brankar Excel.
__ADS_1
"Oh ya, yang pindahin aku siapa?!" tanya Vay seraya duduk di kursi sebelah brankar Excel.
"Daddy yang pindahin. Tapi atas permintaan Excel. dia ingin tidur mu nyaman." sahut mom melinda yang tengah duduk di sofa panjang bersama dengan Dad Rizal dan bi Ani.
Vay pun langsung menoleh pada kekasihnya. Excel pun mengangguk saja.
"terus Daddy, Mommy dan Bi Ani kesini kenapa tidak bilang pada Vay?" tanya Vay lagi.
"Daddy sudah coba menghubungi mu tapi tidak aktif, ya sudah Daddy langsung menuju rumah sakit saja. Dan Daddy tahu ruang rawat Excel dari resepsionis." jawab Dad Rizal seraya berjalan mendekat pada Excel.
Dia ingin menanyakan perihal yang terjadi pada Pria yang di cintai oleh Putrinya itu.
"Excel, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa sampai seperti ini?!!" tanya Dad Rizal dengan nada menuntut.
"emmmm... Dad, itu, apa? Anu.." jawab Vay dengan gugup sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dad Rizal pun jadi di buat bingung dan semakin penasaran.
"Dad, sepertinya Dad dan semua nya harus tahu tentang diri Excel yang sebenarnya sekarang." sahut Excel seraya ingin mendudukan tubuhnya.
Vay langsung membantu Excel yang kesusahan untuk duduk. Vay menaikan kasur brankar agar Excel bisa duduk bersandar.
__ADS_1
"Kau yakin akan memberitahukan semuanya pada Daddy dan yang lain?" lirih Vay berbicara pada Excel.
Pria itu pun mengangguk mantap. Vay menggenggam erat tangan Excel yang sudah basah karena keringat dingin.
Dan akhirnya Excel mulai menceritakan semua dari awal hingga terjadinya pertumpahan darah semalam.
Semua orang menyimak setiap ucapan yang keluar dari mulut Excel. Mereka benar-benar tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Excel. Semua orang kecewa pada Excel saat ini.
"maafkan Aku, bukan niat ku untuk menipu kalian semua, tapi aku hanya takut jika kalian membenci ku dan menjauhkan ku dari Vay. Aku sangat mencintai Vay, dan jika ada cara agar aku bisa terbebas dari dunia hitam ini, aku akan melakukannya! Asalkan Vay tetap berada di sisi ku. Tolong bantu aku Dad, Mom, Bi.. Aku harus apa agar bisa terlepas dari belenggu hitam ini?!!" Excel menangis saat mengatakan Hal itu.
Vay langsung memeluk kekasihnya yang tengah terisak. Kali ini Excel benar-benar tak berdaya. Cinta membuatnya menjadi manusia cengeng dan lemah.
Sementara Mom Melinda dan Bi Ani juga ikut bingung menanggapi masalah ini. Dan Dad Rizal yang sudah kecewa parah dengan Excel, dia pun membuang muka, tak mau melihat Pria itu.
************
Hei hei heii....
Jangan lupa kasih dukungannya ya Readera yang Cakep dan Baek hati😘😘
serta Follow dan Subscribe juga🤗
__ADS_1
Terimakasih😘