Menikahi Pria Kulkas

Menikahi Pria Kulkas
Bab 5


__ADS_3

_Masih di kediaman Excel


Excel yang terbangun dari tidur siangnya merasa perutnya lapar.


"Ah, perut ku lapar sekali. Gadis itu sudah menyelesaikan tugasnya apa belum ya?" gumam Excel yang teringat akan Vay.


Excel beranjak dari tempat tidur dan turun ke lantai bawah. Dia mengedarkan pandanganny mencari Asisten pribadinya. Namun Excel tak mendapatkan Gadis itu dimana mana.


"Apa kau lihat Gadis cantik yang membersihkan Rumah ini tadi?" tanya Excel pada salah satu pelayan Rumah nya.


"Ohh.. Nona Cantik itu sedang Sholat Tuan Muda, dia berada di kamar Bibi." ucap pelayan paruh baya itu.


Excel menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


"Mau Bibi Panggil kan Tuan?" tawar pelayan itu.


"Tidak, Biar saya saja yang menemuinya. Kau siapkan makan siang." titah Excel dengan wajah khas datar dan dinginnya.


Excel langsung pergi menuju kamar pelayan tadi untuk menemui Vay.


Pintu Kamar itu tidak di tutup, hanya di ingkupkan dan masi ada cela untuk bisa melihat ke dalam kamar itu.


Excel yang ingin masuk ke dalam, mengurungkan niatnya saat mendengar tangis Vay memanjatkan Doa selesai sholat Dzuhur itu.


Inti dari Doa nya hanya ingin Hidup Bahagia dan di jauhkan dari orang-orang jahat yaitu orang tua angkatnya yang sangat jahat terhadap dirinya.


Ya, kira-kira begitu yang Excel dengar.


Excel tergugu mendengar Doa Gadis itu. Meskipun Excel Pria datar dan dingin seolah kejam pada siapa pun, Namun dia juga manusia biasa yang memiliki sisi baik dalam dirinya.


Excel jadi ingin lebih tau tentang kehidupan Gadis itu.

__ADS_1


Vay yang sudah selesai dengan urusan Ibadahnya, kaget saat melihat Excel berada di ambang Pintu.


"Astagfirullah, ngapain dia disitu. Oh jangan-jangan mau ngintip, harus di beri pelajaran." ucap Vay langsung meraih sapu yang ada di kamar pelayan itu.


Vay berjalan mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh Excel.


Setelah dekat, dia langsung melayangkan sapu untuk memukul Excel.


"Haa..!,, kena kau..! Dasar mata keranjang, ngapain kamu disini ha?! Mau mengintip? Iya?!" omeh Vay sambil terus melayangkan pukulan pada Excel.


"Cukup!" teriak Excel keras dan mampu membuat Vay menghentikan pukulannya.


Nyali Vay seketika menciut mendengar bentakan Excel. Dia menundukan kepalanya takut menatap wajah Excel.


"Dasar gadia Bodoh, Untuk apa aku mengintip mu? bahkan jika aku mau, dengan mudah aku bisa membuka pakaian mu hanya dalam satu gerakan tangan! Jangan terlalu percaya diri Nona!" umpat Excel dengan wajah khasnya. Datar.


Vay langsung menyilang tangannya di depan dada, saat mendengar perkataan Excel.


"Ba-baik Tuan!" jawab Vay singkat. Dia pun langsung mengikuti majikannya dari belakang.


Setelah sampai meja makan, Excel menyuruh pelayan untuk pergi meninggalkan nya dan Vay.


"Layani aku!" titah Excel.


"Kenapa tidak bibi saja?" tolak Vay yang masih berdiri di sisi kiri tuannya.


"Kau memang benar-benar ingin di hukum lebih lama ya?" ucap Excel melirik Vay dengan lirikan mematikan.


GLEEEKK! Vay menelan ludahnya kasar.


Dia langsung mengisi piring Tuan nya dengan Nasi dan lauk pauk yang Tuannya inginkan.

__ADS_1


"Silahkan Tuan," Vay menaruh piring yang teleh selesai di isi itu di depan Tuan nya.


"Duduklah.. Kau pasti lapar." titah Excel pada Vay tanpa menatapnya.


"Biar saya makan bersama Bibi saja Tuan," tolak Vay yang langsung pergi dari meja makan.


Namun langkahnya terhenti saat pergelangan tangannya di tahan oleh Excel.


"Duduk dan makan!" titah Excel tak ingin di bantah.


suara berat Excel membuat jantung Vay berdisko Ria. Sangat lucu memang. Wajah Excel yang datar dan dingin itu membuatnya takut, namun suara pria itu mampu membuat jantung Vay tidak karuan.


"Baik Tuan!" balas Vay dan langsung duduk di kursi samping Excel.


Mereka menikmati makan siang bersama hari ini. Makan siang menjelang Sore karena waktu sudah pukul 15.00 Sore hari.


"Kau sudah menyelesaikan Tugas Mu?" tanya Excel pada Vay.


"Belum Tuan, tinggal lantai atas dan kamar Tuan saja." jawab Vay sambil terus makan tidak melihat ke arah Tuannya.


"Baiklah setelah makan langsung bersihkan kamar ku." ucap excel lagi menyuruh Vay.


"Okey.." jawab Vay singkat.


Excel melihat Vay seperti orang yang kelaparan. Vay makan dengan sangat rakus memang. Mulutnya sampai penuh dengan makanan.


"Kau tidak makan berapa hari?" tanya excel lagi.


"Hehe... maaf Tuan, aku tidak pernah makan seenak ini. Di rumah hanya makan sayur, itu pun kuahnya saja." balas Vay dengan tawa di wajahnya.


Dia tidak merasa sedih akan hal itu. Baginya Vay yang penting dia bisa makan.

__ADS_1


Mendengar jawaban Vay, Excel semakin penasaran dengan Hidup Gadis itu. Padahal dia bekerja, lalu untuk apa gajinya? Pikir excel.


__ADS_2