
_Di Kediaman Excel.
Pukul 19.00 malam hari.
Kini Taxi yang di tumpangi oleh Vay tiba di depan Rumah milik Excel.
Vay yang melihat Rumah itu langsung Turun seolah ingin mencari perlindungan di dalam sana.
Namun langkahnya di hentikan oleh supir taxi itu.
"Mbak, belum bayar mbak! Mbak mau kabur ya?" ucap supir taxi sambil mengenggam pergelangan tangan Vay kencang.
Vay tergugu mendengar ucapan supir taxi itu. Dia teringat tidak membawa uang sepeserpun saat kabur tadi.
"Pak saya pasti akan membayarnya, tapi saat ini saya lupa membawa uang." ucap Vay sambil berusaha melepas tanganya karena sakit.
"Tidak bisa mbak, mbak harus bayar sekarang! Argonya juga terus jalan disana mbak, saya ga akan lepasin tangan mbak sebelum mbak membayar ongkos taxinya." ucap Supir taxi itu lagi dengan suara meninggi.
Excel sedang makan malam saat ini. Dan dia Mendengar ada kegaduhan di Luar rumah nya.
Pria datar dan dingin itu pun keluar untuk melihat siapa yang membuat keributan di depan Rumahnya.
Excel segera berjalan ke arah gerbang dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang ada di depan Gerbangnya itu.
"Tuan Excel, Tolong aku Tuan.." pohon Vay pada Excel Dengan Tangis terisak.
"Ada Apa Ini?" tanya Excel datar pada supir taxi.
"Mbak ini belum bayar ongkos taxi tuan, tapi dia mau kabur." jelas supir taxi itu pada Excel.
Excel buru-buru mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang.
"Ini Cukup! dan lepaskan Gadis itu.!" ucap Excel menyodorkan uang pada supit taxi.
"Terimakasih Tuan," ucap supir taxi yang langsung melepaskan genggaman tangannya pada Vay.
Vay langsung berjongkok di hadapan Excel dengan tangan yang menangkup di Dada.
"Terimakasih banyak Tuan," ucap Vay pada Excel.
"Berdirilah..." titah Excel datar.
__ADS_1
Vay langsung berdiri saat mendengar perintah Excel. Dia menunduk menyembunyikan wajahnya.
Excel Memandangi Vay dari atas sampai bawah. Vay nampak kacau sekali saat ini.
Tanpa aba-aba Excel menarik Tubuh mungil gadis itu dan membawanya ke dalam pelukannya.
Tangis Vay kembali pecah, seolah menumpahkan segala kesedihanya yang selama ini dia pendam bertahun-tahun.
Jujur saja, Hati Excel seperti teriris mendengar tangisan pilu gadis yang saat ini ada dalam pelukannya.
Dia mencari Vay seharian Ini, namun tidak ketemu. dan sekarang Gadis itu tiba-tiba datang dengan kondisi yang buruk.
Entah Karena lelah Atau Apa, Vay menghentikan Tangisnya karena Pingsan. Ya, Gadis itu tidak sadarkan diri dalam pelukan Excel.
mengetahui hal itu, Excel buru-buru menggendong tubuh mungil Vay dan membawanya masuk ke dalam Rumah.
Excel membaringkan Tubuh Vay di atas Ranjang berukuran king size milik Excel sendiri. Ya, dia membawa Vay ke kamarnya.
"Tubuhnya lebam, dan banyak sekali luka. Apa yang terjadi dengan Mu?" gumam Excel sambil menyentuh pipi milik Vay.
Excel mengambil ponsel dari Atas Nakas, dia menelpon seorang Dokter untuk memeriksa kondisi Vay.
Setelah itu, dia meminta bantuan pada pelayan untuk mengganti pakaian Vay dan membantu mengobati luka di tubuh gadis itu.
Tak berselang lama, Vay sudah di bersihkan dan di pakaikan piyama milik Excel, karena cuma itu baju ganti yang ada untuk Vay saat ini.
Excel kembali masuk ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Dia mengulurkan tangannya mengusap rambut Gadis itu.
"Ada apa dengan mu?" gumam Excel sendiri. Dia menatap sendu wajah Gadis itu.
TOOOKK TOOOKK...! Suara ketukan Pintu.
Excel beranjak dari duduknya berjalan membukakan pintu kamarnya itu.
"Tuan.." sapa seorang dokter yang di antar oleh salah satu anak buah Excel.
"Masuklah.." titah Excel pada dokter yang dia telpon tadi.
Dokter itu pun menuruti perintah Excel dan langsung memeriksa Vay yang tengah berbaring di atas tempat tidur.
10 Menit kemudian...
__ADS_1
"Tuan, Nona ini mengalami tindakan Kekerasan. Di tubuhnya penuh dengan luka lebam akibat pukulan. Saya sarankan untuk melakukan Visum agar semuanya jelas. Dan jika Tuan berkenan, Tuan bisa melaporkan Orang yang sudah melakukan tindakan Kekerasan pada Nona ini." Jelas Dokter setelah memeriksa.
"Tapi, melakukan Visum harus di rumah sakit, sedangkan saya harus mendapat persetujuan dari gadis itu terlebih dahulu." sanggah Excel pada Dokter.
"Baiklah, Tuan bicarakan dulu pada Nona ini. Namun jangan terlalu lama dalam mengambil keputusan. Karena visum harus segera di lakukan sebelum Luka lebam nya menghilang." timpal dokter itu lagi.
"Baik!" jawab Excel singkat.
"Ini resep yang harus di tebus, dan saya harus pamit Tuan, Permisi." Pamit Dokter pada Excel dan langsung meninggalkan kamar itu.
sementara Excel masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh dokter.
"Tindak Kekerasan? Siapa yang melakukannya?!" Gumam Excel dalam Hati.
Saat Excel tengah menerka-nerka, Vay terbangun dari pingsan nya. Dia membuka mata perlahan mengedarkan pandangaanya. Mencoba untuk bangkit dan duduk.
"Aaakkh..." pekik Vay saat merasakan pusing di kepalanya.
Excel mendengar suara pekikan Vay dan langsung mendekat pada Gadis itu.
"Kau sudah bangun, sini biar ku bantu kau duduk." ucap Excel datar pada Vay. Dia membantu Vay untuk duduk dan memberikan segelas Air untuk Vay minum.
Dengan telaten Excel melakukannya.
"Apa Sudah Lebih Baik?" tanya Excel pada Vay.
Vay menganggukan Kepalanya sebagai jawaban.
"Terimakasih Tuan," Lirih Vay bicara pada Excel.
"Hm.. Tidurlah.. masih tengah malam." titah Excel pada Vay.
Excel beranjak dari duduknya dan akan tidur di Sofa kamar saja. Namun aktivitasnya itu terhenti saat Vay meraih tangan Excel.
"Ada Apa?" tanya Excel pada Vay.
"Jangan Pergi" jawab Vay sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Excel hanya mengangguk dan membantu Vay untuk berbaring lagi.
Mata Vay langsung terpejam kembali. mungkin dia benar-benar Lelah.
__ADS_1
Excel membenarkan Selimut yang di kenakan oleh Vay. Dan kembali menatap Vay dengan Sendu. Setelah memastikan Gadis itu tertidur, Excel merebahkan Tubuhnya di Sofa kamar dan ikut tertidur.