Monster Labil

Monster Labil
Perubahan


__ADS_3

Semua perubahan butuh proses..


Pada tahapan tertentu, terdapat pemahaman yang mendalam..


Baik untuk sendiri maupun sekitarnya..


Kabar duka datang dari anggota keluarga lagi.


Suaminya neneknya Irfan yang pernah aku ceritakan diEpisode Pengganggu telah dipanggil Sang Ilahi.


Tepat di hari libur, banyak orang-orang membantu proses pemakaman. Almarhum juga suka bergaul dan tergolong orang yang menyenangkan. Bisa dipastikan karena aku sendiri yang berjumpa dengannya sebulan sebelum hari ini. Aku yang telah membatasi diri untuk tidak berhubungan dengan banyak orang, mungkin, sudah menjadi orang yang sombong dimata orang banyak. Akan tetapi almarhum mau dengan senangnya menyapa orang yang sepertiku. Sungguh tak disangka kalau pertemuan itu adalah yang terakhir kalinya.


Awalnya aku merasa jengkel karena kakakku yang menyuruhku membantu pemakaman. Kenapa harus aku? Situ sendiri kenapa gak membantu? Ahh alesannya pasti kerja kerja dan kerja. Sementara ushuku sendiri yang punya toko ikut membantu pemakaman. Kenapa dengan keluarga sendiri tak memberi keringanan untuk berbuat baik?


Popularitas!!!


Orang kaya memang memiliki banyak kenalan. Punya banyak teman. Ucapannya sangat diperhatikan oleh khalayak.


Bukannya aku iri.. aku justru tak ingin seperti itu. Jika aku punya kuasa dan materi, aku ingin berbuat lebih baik lagi. Hal pertama yang ingin aku perbaiki pada suatu wilayah adalah sampah dan pendidikan. Menggunakan apa yang dimiliki untuk membuat kehidupan sekitar lebih baik.


Aku tahu. Tak semua orang punya kepingan puzzle ilmu sepertiku, dia ataupun orang lain. Berbeda-beda tapi harus kita pilih sendiri ilmu yang bermanfaat yang bisa kita amalkan.


Hanya untuk lebih baik lagi.


>>> Beaster <<<


Setelah minum kopi dan sholat langsung saja aku pergi ke rumah almarhum.


Berbaur dengan orang-orang dan mengikuti arus cerita. Dari introver menjadi ekstrover. Berani mengambil langkah sendiri walaupun orang-orang di kampung sini pernah melakukan sesuatu yang aku benci. 


"Om sini biar aku sendiri yang bawa peralatannya"

__ADS_1


"Oh! Iya betul juga body kendaraan maticmu bisa meletakkan peralatannya(tempat meletakkan kaki)"


"Eh? Ah ahaha betul juga" Njirr aku juga baru sadar.


Kami pun pergi ke pemakaman yang sama, dekat dengan istrinya. Tapi sebagian orang yang telah berpengalaman menolak untuk menguburnya dekat dengan istrinya. Alasannya karna istrinya juga baru meninggal, lebih 100 hari beberapa minggu. Takutnya (maaf aku ambil kata-kata ini) pembusukan tubuh masih terjadi apalagi di daerah ini beberapa meter ke bawah sangat berair. Bisa dibayangkan sendiri kan kalau menggalinya dekat kuburan yang baru meninggal.


Setelah menentukan arah kiblat dan panjang lebarnya kuburan kami langsung menggalinya. Tentu saja aku ikut membantu. Ayahnya adik sepupuku si Rezeki juga membantu menggali kubur.


Aktifkan tenaga Beater. Meningkatkan Strenght.


Sambil bekerja sebagian dari kami banyak bercanda. Hanya beberapa saja yang punya bakat humor bisa membuat seluruh orang tertawa. Aku juga ikut merasakan asyiknya candaan namun dalam hati aku fokus berhati-hati supaya tidak salah langkah.


Sudah aku pelajari dari sekian banyak pengalaman dalam berhubungan dengan orang sekitar maupun teman.


Misalnya aku terlalu terbawa suasana bisa membuat kesalahan langkah meningkat. 


Berhati-hati jika terdapat candaan yang bisa menyakiti hati/ berlebihan dengan cara melihat ekspresi dan gerakan atau mendengarkan nada ucapannya.


Yang paling terpenting jauhi gibah.


Jika terjadi pertikaian harus berusaha netral.


Hanya sampai itu yang bisa aku pelajari dalam bersosialisasi. Semuanya bertujuan untuk mencegah berbuat kesalahan.


Banyaknya pengalaman kesalahan yang telah kulakukan dalam bergaul membuatku harus tetap berhati-hati agar tak menyakiti. Sadar ataupun tak sadar. Sebelum terjadi aku harus tetap sadar. Tergantung kuat atau tidaknya cahaya pengingat. Jangan mengandalkan suara hati yang rawan terprovokasi oleh hasutan.


Mudah saja melihatnya. Tapi yang namanya ujian akan selalu selangkah berada di depan. Semakin memikirkannya semakin rumit. Hebat sekali otak ini bisa bekerja secara otomatis belajar beradaptasi mencari solusi sendiri.


Uhh.. tenagaku habis. Sebaiknya aku beristirahat dulu. Yang penting jangan memaksakan diri.


Aku duduk dekat makanan dan minuman yang telah disediakan untuk kami. Entah kenapa rasanya laper banget. Banyak sudah goreng yang aku makan. Dan minumannya jus buah sirsak kesukaanku. Mantap tenaga terisi.

__ADS_1


Anak perempuan kecil mendatangiku yang sedang minum lalu duduk di pangkuanku. Aneh. Biasanya anak kecil pada takut denganku yang tampang preman ini.


Duhh..


Jujur, aku gak tahu gimana caranya menangani anak kecil seperti ini. Tak punya pengalaman sama sekali.


Uhh bilang apa ya? Tapi tujuannya apa? Biasanya yang bikin anak kecil ketawa itu apa?


Ahh! Gak tahu.. pliss dek menjauh sudah. Aku hanya bisa terdiam sampai ni anak kecil bosan dan akhirnya dia pergi sendiri. Kalau aku memaksanya sendiri nanti dia nangis kan? Jadi ku buat aja dia bosan sendiri lalu pergi dengan kemauan sendiri.


Aku tak terlalu suka anak kecil karena mengingatkanku dengan adikku. Bertapa ngeselinya bikin naik darah.


Dulunya sih..


Aku telah belajar dari pengalaman beberapa tahun yang lalu. Si Melinda, eh apa bener itu namanya? Ah panggil aja Meli. Ia tetangganya Hakim. Anak kecil masih SD yang punya sifat centil banget. Ngeselin.. gak suka banget, sumpah. Sudah ku pelajari kalau cewek yang centil itu biasanya mudah berganti pasangan. Cewek yang berani menggoda itu tak tahu malu. Makanya aku tak pernah suka dengan orang yang suka denganku. Tapi tentu saja pengertian centil dan suka itu beda. Beda tindakan dan perasaan. Umm.. gimana bilangannya ya karna aku sendiri tanpa sadar melihat jauh ke dalam dirinya. Memang dulu aku pernah suka dengan adik kelas yang centil. Kemudian aku bilang "aku terkena perangkap" wajah cantik dan mirip sedikit ada kemiripan dengan orang yang pernah ku suka.


Njirr!! Malah bahas gebetan.


Nah!


Jadi pelajaran yang aku dapat, kenapa aku membandingkan anak kecil dengan cewek dewasa yang centil.. benarkan??


Yang menariknya setelah lama berlalu, si Meli menjadi anak yang kalem.


Kok bisa? Mengingat dulu gimana ngeselinnya. Emezing!


Dia menjadi bersinar. Ketika aku menerima uang kembalian darinya setelah membeli bahan bakar kendaraan, dia bilang "jual" senyum dan sedikit tertawa.


Wow!


Biasanya bocah susah dijinakkan untuk membantu orang tuanya. Tapi si Meli berbeda. Ia ikhlas. Nilai plus plus banget. Aku jadi suka. Pengen sekali aku mengajarinya tentang banyak hal yang ku tahu supaya membentuk karakter yang jauh lebih hebat. Asalkan tetap ada keinginan untuk belajar.

__ADS_1


Melihat potensi tak terduga dari anak kecil menambah pengetahuanku dan membuka pintu ilmu untuk mempelajarinya lebih mendalam. Yaa.. kalau nanti aku juga akan punya anak yang hebat, mulai sekarang persiapkan banyak ilmu pengetahuan.


Selama ada keinginan untuk berjuang...


__ADS_2