Monster Labil

Monster Labil
Tempat yang Jauh


__ADS_3

Kali ini kami akan berlibur ke Loksado.


Aku, Abdi, adikku, Aldi, Ari, Erpan dan Yahya. Aku membawa adikku. Erpan dengan Abdi. Yahya dan Ari sementara Aldi sendiri.


Awalnya aku tak menyangka bahwa sebenarnya tempat yang kami tuju itu sangatlah jauh. Belum setengah jalan saja aku sudah lelah. Selain badanku sudah gak enak juga harus membawa adikku dengan kendaraan tua ini. Lelah sekali.. laju kendaraanku gak sampai 60 km/jam. Sulit dipercaya, masa iya? Yang lain jauh lebih mementingkan kecepatan daripada keselamatan. Mungkin karena perbedaan pengalaman. Bagiku yang pertama kali melewati suatu tempat baru harus lebih berhati-hati. Adikku selalu menggangguku. Ia ingin dirinya yang menyetir. Tentu saja aku tak memperbolehkannya. Aku tidak ingin mati konyol. Bisa aku rasakan kalau yang ada dipikiran adikku hanya kesombongan. Mengakui dirinya jauh lebih baik dariku. Aku tak masalah asalkan bukan aku yang jadi korban dari tindakan cerobohnya.


Singgah di perbelanjaan untuk istirahat, aku membeli kopi dan roti.


Selesai makan dan minum kami pun melanjutkan perjalanan.


Kondisiku malah memburuk. Pandanganku sedikit buram dan tenagaku lemah. Kesulitan fokus. Padahal malam tadi istirahatku cukup saja tetapi entah kenapa malah seperti ini. Beberapa menit kemudian aku terkejut dengan mobil yang mendadak berhenti di depanku. Refleks me-rem kendaraan dengan takaran pas!


Rem kiri untuk roda belakang ampasnya sudah sedikit jadinya walaupun sudah habis me-rem roda belakang takkan berhenti. Rem kanan harus dari sedikit sampai habis supaya tidak ada kejutan mendadak. Jarak dan waktu yang singkat. Aku sudah melakukan sebaik mungkin.


*brak!!!


Bagian belakang mobil yang aku tabrak kurasa sedikit lecet. Gawat, misalnya pemilik mobil ini orang kaya yang sombong bisa-bisa dia bakal minta ganti rugi supaya bisa dapat maafnya. Adikku berkomentar banyak yang selalu bikin aku marah. Pemilik mobil yang aku tabrak tadi perlahan singgah ke tepi jalan, aku yang di belakangnya mengikutinya dan ikut singgah.


Si supir atau pemilik mobil keluar dan memastikan mobilnya. Memang kalau dilihat dari atas tidak terlihat ada goresan. Syukurnya respon pemilik mobil cukup baik dan memperingatiku agar tidak berkendara cepat, soalnya aku ingin menyusul yang lain tapi malah hilang fokus. Aku menerimanya. Sekilas si bapak berpaling raut wajahnya berubah seperti kesal. Yaa emang gak semudah itu, yang penting kami sudah salaman maaf-maafan.


Setelah melanjutkan perjalanan yang lain menungguku di tepi jalan. Sumpah kami tertinggal sangat jauh.


Singgah lagi sebentar di Mushola untuk istirahat dan sholat sunnah dhuha. Ya ampun, masih jauh kah lagi perjalananya?


Kami beberapa kali singgah untuk istirahat. Bukan, tapi hanya untukku saja. Dan untuk persinggahan yang terakhir aku ingin adikku ikut Aldi saja. Aku terbebani dengan kondisiku sekarang ini. Aku memang mengutamakan keselamatan. Pilihan terbaik sekarang ini hanyalah ini dan aku bilang pada Aldi untuk berhati-hati. Aku cemas.


Hampir sampai. Kami menaiki jalan berbukit. Jalannya berkelok-kelok. Pepohonan rindang di samping jalan dan udara segar menyelimuti perjalanan kami.


Sejuk.. Aku mendapat energi lagi.

__ADS_1


Telah terlepas dari suasana kacau di jalan raya tadi. Bagaimana tidak soalnya pertahanan yang aku aktifkan mengharuskanku untuk membaca tiap orang yang berpotensi membuat kesalahan. Sampai tak sadar lagi atau kelelahan malah aku yang membuat kesalahan. Lelah sekali.


Gerimis..


Aku melihat kelangit..


Apakah bakal hujan duluan sebelum kami sampai???


Melewati persimpangan dan menuruni jembatan kami singgah dekat sebuah pos.


Sudah sampai? Akhirnyaa..


Wahh lihat itu sungainya jernih sekali, sampai terlihat bebatuan dan kerikil. Mengingat sungai di tempatku yang sudah rusak oleh sampah dan bahan kimia lainnya. Ikan-ikan tertentu pun sudah banyak yang punah, seperti ikan yang mirip kuda laut yang sewaktu kecil aku sering mendapatnya di akar-akar pohon Jingah.


Aku melangkahkan kaki ke sungai. Dingin..


Aku mencuci muka ku yang kusam. Ahh segarnya. Sungai ini bukanlah tujuan kami. Masih melanjutkan perjalanan. Kami naik ke atas bukit, bukit? Entah gunung atau bukit. Beberapa kali kami istirahat sejenak karna kelelahan terutama si Yahya. Di dalam tasnya membawa beberapa botol air yang kami beli tadi di perbelanjaan. Aku menggantikan Yahya untuk membawanya. Njirr beneran berat..


Wahhh.. tinggi sekali..


Di atas sini kami habis-habisan mengambil gambar.


Si Erpan dan Ari pergi ke sisi lain lalu memanggil kami. Rupanya di sana tempat yang paling cocok buat mengambil gambar.


Wow.. banyak sekali bebatuan. Jelas terlihat bekas miliyaran tetesan air hujan yang mengukir tiap permukan batu sampai berbentuk seperti ini. Keren.. jadi teringat bagaimana proses pembentukan gunung.


Apakah ada harta karunnya?!!!


Terselip kesadaran agar betingkah baik di tempat orang.

__ADS_1


Melompati bebatuan membuatku semakin semangat.


*hup *tap *ciat


Asyik sekali..


"Yahya minggir, badan gede mu merusak pemandangan"


Haha, kami tertawa.


Sejak naik tadi si Yahya masih saja duduk kelelahan. Ia sudah K.O


Entah kenapa aku masih saja melompat-lompat. Oh iya!! ayo ambil video.


Aku menyuruh Aldi agar mengambil video selagi aku lompat-lompat, bisa dibilang kek parkour gitu. Sayangnya pas mau ngambil video sepatuku malah rusak. Bagian depannya menganga. Ahh wajar sih aku beli sepatu yang murahan pas lagi obral. Yaudah deh..


Aku pun memakai alas kaki adikku yang bukan sandal gunung. Jadinya gak berani lagi lompat-lompat.


Beberapa jam sudah kami menghabiskan waktu di atas sini. Hari mulai panas karna awan sudah menipis. Adzan terdengar dari arah belakang kami. Aku pengen sih langsung turun untuk sholat tapi entah kenapa aku diam saja dulu untuk menunggu yang lain. Sampai semua setuju untuk turun.


Setelah kami turun dan aku bersiap hendak sholat. Sebelum kami pergi aku, adikku dan Yahya sempat berdiskusi tentang melakukan sholat dengan pakaian yang kotor dengan Erpan. Aku dan Yahya percaya lebih baik sholat walaupun pakaian kotor, urusan diterima atau tidaknya kita hanya percaya dengan Allah swt. Sementara Erpan beralasan sebaliknya. Aku tahu apa yang dipikirkannya. Dan aku tahu apa yang membuatnya jadi seperti itu...


Flashback ketika pertama kali aku mendapat rahmat dari Allah.


Waktu SMA pertama kalinya bertemu dengan teman baik yang mengajak kejalan yang benar. Ada Ikhsan, Raga, Ade, Ikhwan, Dayat dan Rama. Tiap kali aku melihat orang sholeh yang ganteng bingitz di dalam hatiku aku berdoa ingin seperti mereka. Sampai sekarang aku terus memperbaiki diri, terus melangkah maju dengan teliti. Semua kemampuan karakter labil aku gunakan untuk melakukan hal yang aku anggap benar. Contohnya kesadaran Beater yang akan aktif jika ada yang mencoba menghalangiku untuk melaksanakan sholat. Metode belajar Zheill yang aku terapkan untuk menuntut ilmu agama. Semangat Hapis yang konyol untuk menghiraukan apa kata orang.


Semua ada tempatnya untuk menepis berbagai alasan yang hanya akan membuatmu terjatuh.


Apa yang sebenarnya kau cari adalah yang paling kau harapkan..

__ADS_1


Dunia memang selalu membutakan pandangan kita..


__ADS_2